<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404</id><updated>2011-12-28T03:52:29.985-08:00</updated><category term='masoedabidin.blogspot.com'/><category term='Ranah Wisata'/><category term='Suryadi'/><category term='Buya Masoed Abidin'/><category term='Sumatera Barat'/><category term='Kimpilasi Nilai keminangkabauan'/><category term='LKAAM Sumbar'/><category term='ABSSBK'/><category term='sumbar'/><category term='Pahlawan Minangkabau'/><category term='Pornografi'/><category term='Minangkabau Matrilineal'/><category term='Tan Malaka'/><category term='Garinyiek Minangkabau Yogya IV'/><category term='Garinyiek Minangkabau Yogya'/><category term='Perempuan'/><category term='Minangkabau'/><category term='budaya'/><category term='tungku tigo sajarangan'/><category term='Garinyiek Minangkabau'/><title type='text'>garinyiek minangkabau</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-5498876289312286921</id><published>2011-03-08T18:36:00.001-08:00</published><updated>2011-03-08T19:24:50.177-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garinyiek Minangkabau'/><title type='text'>Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah” dalam Budaya Minangkabau, di Sumatera Barat</title><content type='html'>Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لآ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لآ يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artinya, “Maka tegakkan wajahmu (berjuanglah) untuk agama Islam yang hanif ini. Inilah agama fitrah yang Allah telah ciptakan manusia selaras dengannya. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah agama (pegangan hidup) yang kekal bernilai. Tetapi kebanyakan manusia tidak mau mengerti” (QS.ar Rum : 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukaddimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA KITA DALAMI Dasar Falsafah Minangkabau, ada 3 rahmat yang diberikan Tuhan kepada nenek moyang Minangkabau yaitu Pikiran, Rasa (dalam diri manusia), dan Keyakinan (dalam agama yang diyakini), yaitu Islam.  Dengan demikian orang Minangkabau hidup berbekal moril dan materil. Bekal moril dia bisa hidup menyesuaikan diri di mana saja di tanah perantauannya. Dengan materil mampu berusaha menurut ukuran keahlian masing-masing. Dengan kedua bekal itu pula ada kewajiban membimbing generasi merebut sukses dunia dan akhirat, sesuai bimbingan syarak (agama Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok (hari akhiratnya) (QS.al Hasyr : 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Minangkabau adalah ahli-ahli politik karena mendapat pepatah dari leluhurnya dengan tujuan tercapainya kebahagiaan bersama melalui musyawarah  mufakat. Di alam Minangkabau pemimpin harus berbuat adil. Raja adil raja disembah, Raja tidak adil raja disanggah. Di dalam mencapai tujuan ada bimbingan pepatah, “Ibarat mengambil rambut dalam tepung”, Tepung tidak terserak, Rambut tidak putus. Ini maknanya arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelaslah hampir seluruh sektor kehidupan dilengkapi dengan pepatah petitih yang bila digali kembali, maka yakinlah bahwa orang Minangkabau akan lebih unggul dalam seluruh kehidupan di daerah lainnya. Dasar falsafah hidup orang Minangkabau memang luas meliputi, susunan masyarakat,  pengelolaan masyarakat, perekonomian masyarakatnya.  Keduniaan dan keakhiratan agar sempurna mesti diatur dalam suatu sistem pergaulan hidup, yang tujuannya untuk menjadikan kebahagian di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ajaran Islam adalah pandangan dan jalan hidup (philosophy and way of live) sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Pencipta Alam di dalam Kitabullah, adalah bahwa manusia makhluk yang memiliki fisik, ruhaniah, rasional, sosial, dan mempunyai keyakinan atau beraqidah, yang dalam syarak (syariat Islam) disebut bertauhid.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau didalami agama (aqidah dan syariat) dan adat (tata laku, pergaulan, hubungan masyarakat), maka kesimpulan sebenarnya adalah bahwa agama dan adat menjadi amat penting perannya untuk dapat mempertahankan manusia sebagai manusia dan masyarakat yang bermakna dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;blockquote&gt;Tanpa ajaran Islam dan adat Minangkabau yang menekankan pentingnya kebersamaan, kekeluargaan, seiya setida, berpedoman kepada Kitabullah (Alquran), manusia Minang bisa saja berubah menjadi ibarat pasir di tepi pantai, ibarat buih di atas air bah, ibarat hewan di rimba balantara, bahkan mungkin lebih hina lagi. Pedoman dan pendekatan wahyu penting diperhatikan supaya sumber daya manusia jangan tergelincir kepada yang membinasakan manusia dan alam lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pandangan materialisme, sekularisme, individualisme, hedonisme, nihilisme dilahirkan oleh otak manusia, terutama di era global tidak mau lagi memperhatikan petunjuk wahyu dan agama. Bahkan mulai menghindar dari daya yang dimiliki manusia sendiri, yaitu hati nurani dan perasaan luhur. Kondisi ini berakibat fatal bagi perkembangan ruhaniyah manusia, berpengaruh sangat kepada watak kepemimpinan, yang cepat putus asa, melawan arus kehidupan, bahkan bunuh diri dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ABSSBK mestinya menjadi political will yang kalau diterapkan akan punya daya fleksibilitas dan dinamis serta prinsip-prinsip yang akan menjamin eksitensi manusia tetap sebagai manusia, yaitu makhluk yang bermoral dan regelius. Pengitegrasian ini penting diupayakan untuk menghadapi tantangan kehidupan modern dan arus globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan ada pada Pandai Memenej Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila waktu tidak digunakan dengan baik, akan terbuang untuk yang sia-sia. Seseorang yang tidak mengisi waktunya dengan kebaikan (shalihah), pastilah ia akan menuai kejelekan (fahisyah). Menyia-nyiakan waktu akan merugi. Menjaga waktu adalah kejujuran menjaga amanah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلىَ غَيْرِ أَهْلِهِ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ                       رواه البخاري&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kejujuran (tanggung jawab) telah disia-siakan, maka tunggulah waktunya (kebinasaan). Ada orang bertanya: Bagaimanakah caranya menyia-nyiakan kejujuran (tanggung jawab) itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Apabila diserahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah waktunya (kebinasaan). (Diriwayatkan oleh Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud RA, telah berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas satu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Perempuan saleh mengambil faedah waktu dan tempat yang utama. Tidak melalaikan waktu-waktu shalat karena disibukkan pekerjaan rumah tangga, atau tugas sebagai ibu dan istri.  Shalat adalah tiang agama. Shalat adalah amal paling utama.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan menyimpan kata empu. Mengadung arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-eI-GKXMNSwg/TXbqaaw3aMI/AAAAAAAAEqs/O4sKLSQvIRo/s1600/Mandeh%2BRubiah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 260px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eI-GKXMNSwg/TXbqaaw3aMI/AAAAAAAAEqs/O4sKLSQvIRo/s400/Mandeh%2BRubiah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581906527754086594" /&gt;&lt;/a&gt;Mandeh Rubiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Minang adalah pemimpin  — tahu di mudharat jo manfaat,  mangana labo jo rugi,  mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai -. Kepemimpinan Perempuan Minangkabau sangat arif, tahu dengan yang pantas dan patut. Kearifan adalah asas kepemimpinan masyarakat. Perempuan Minangkabau disebut bundo sebab pandai menjaga martabat dan punya sikap panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat. Maknanya sama dengan ibu, atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.[1] Masyarakat yang baik lahir dari Ibu yang baik. “Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri” (al Hadith). Jika kaum perempuan dalam suatu negeri berbudi pekerti baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, apabila kaum perempuan di suatu negeri  berperangai buruk (fasad), maka binasalah negeri seluruhnya. Kitab suci Alquran menempatkan perempuan dengan hak  serta tangung jawab masing-masing, yang sama beratnya, dan menjadi kata kunci terpeliharanya harkat martabat insaniyah pada jenis yang berbeda antara lelaki dan perempuan. Hubungan keduanya ada pada posisi azwajan = mitra setara dan ini modal utama kalau akan menjadi pasangan dalam hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Laki-laki dan Perempuan punya hak dan kewajiban yang sama, terutama di dalam membina keluarga di tengah rumah tangganya. Perempuan perekat silaturrahim. Lelaki pelindung perempuan. Keduanya, punya tanggung jawab sama, menjaga lingkungan dan kehidupan berjiran bertetangga.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-VqFHP1uMKL0/TXbqbBJcwzI/AAAAAAAAEq8/KGgT-5jS2Oo/s1600/DSC00178.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-VqFHP1uMKL0/TXbqbBJcwzI/AAAAAAAAEq8/KGgT-5jS2Oo/s400/DSC00178.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581906538057745202" /&gt;&lt;/a&gt; Dalam Pandangan Syarak (Syariat Agama Islam) disebutkan ad-dunya mata’un, wa khairu mata’iha al mar’ah as-shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (perempuan yang istiqamah pada peran dan konsekwen dengan citra-nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul SAW bersabda; “Demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman”. Ada yang bertanya; “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. (HR. Asy-Syaikhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah Agama mengutamakan pendidikan akhlaq. Sebuah bangsa akan tegak dengan kokoh karena etika moral dan akhlaknya. Etika dan moral itu dibentuk oleh budaya dan ajaran agama. Moral anak bangsa yang rusak, membuat bangsa terkoyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-BdcR0i05Voc/TXbsk78eYDI/AAAAAAAAErs/-WAGFKCIqx8/s1600/DSC05906.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-BdcR0i05Voc/TXbsk78eYDI/AAAAAAAAErs/-WAGFKCIqx8/s400/DSC05906.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581908907483095090" /&gt;&lt;/a&gt; Rumah tangga sebagai extended family (inti keluarga besar) dalam budaya Minangkabau menjaga dan mencetak generasi bermoral, dengan filosofi yang jelas, Adat bersendi syarak – syarak bersendi Kitabullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kaum perempuan (bundo kanduang, pemilik suku) berperan mendidik, menjaga nikmat Allah. Kaum lelaki (pemilik nasab), membentuk generasi berdisiplin. Kedua peran ini menjadi satu di dalam tatanan pergaulan masyarakat adat, dengan kekerabatan yang kuat.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan syarak (agama Islam bersendikan Kitabullah – Alquran dan Sunnah Rasul), mengikat adat dengan akhlaqul karimah atau etika religi sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat beradat. Pesan Rasulullah SAW ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,&lt;br /&gt;   2. ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,&lt;br /&gt;   3. ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه  كما يكره ان يلقى فى النار.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, Tiga perkara — barangsiapa terdapat pada dirinya –, dia akan merasakan lazatnya iman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya,&lt;br /&gt;   2. Mencintai seorang hamba hanya karena Allah,&lt;br /&gt;   3. Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(H.R. Imam Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa’I).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dalam Adat dan Budaya Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah – di Minangkabau,  perempuan menempati posisi pemilik rumah  – hiduik batampek,  mati bakubua, kuburan hiduik di rumah gadang, kuburan mati   di tangah padang –, dengan peran induak bareh  — nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang. Artinya, pengendali ekonomi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;PERAN IDEAL perempuan Minangkabau menjadi pemilik suku, ulayat, pusako, kekayaan, rumah, anak, kaum, dan disebut PADUSI artinya padu isi dengan sifat utama.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-lAB48kjzSAw/TXbqapAmZkI/AAAAAAAAEq0/tVMU0KYU2Wg/s1600/Nyah%2Bkamu%2B...%2B%2BPenjajah%2BBangsa%2Bkata%2BSiti%2BManggopoh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 258px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-lAB48kjzSAw/TXbqapAmZkI/AAAAAAAAEq0/tVMU0KYU2Wg/s400/Nyah%2Bkamu%2B...%2B%2BPenjajah%2BBangsa%2Bkata%2BSiti%2BManggopoh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581906531578177090" /&gt;&lt;/a&gt; SITTI MANGGOPOH ... "Nyah kamu ... Penjajah Bangsa" .. kata Siti Manggopoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a). benar, (b).jujur lahir batin, (c). cerdik pandai, (d). fasih mendidik dan terdidik, (e). bersifat malu. Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso,  malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso, apabila malu dan sopan telah hilang habislah rasa dan periksa. al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. Hati-hati, « bakato sapatah di pikiri, bajalan salangkah maliek suruik, muluik tadorong ameh timbangannyo, kaki tataruang inai padahannyo, urang pandorong gadang kanai, urang pandareh hilang aka, » &lt;/blockquote&gt; – artinya, berkata sepatah dipikirkan, setiap langkah berjalan memperhatikan apa yang sudah dikerjakan, mulut terdorong emas timbangnya, kaki tertarung inai padahannya, yang suka pendorong besar kenanya, dan yang keras mulut pertanda hilang akal –. Fatwa adat mengatakan, «  ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan ka sumbiang, » = jagalah adat selalu, ingat adat jangan rusak, jaga lembaga jangan sumbing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;2. Yakin kepada Allah  (iman bertauhid), «  iman nan tak bulieh ratak kamudi nan tak bulieh patah, padoman indak bulieh tagelek, haluan nan tak bulieh ba rubah » — &lt;/blockquote&gt;artinya, iman tidak boleh retak, kemudi tidak boleh patah, pedoman tidak boleh beranjak, haluan tidak boleh berubah –. Wujudnya tampak dalam kearifan pergaulan, « katiadaan ameh bulieh di cari, katiadaan aka putuih bicaro, tak barameh putuih tali, tak baraka taban bumi » = tidak ada emas boleh dicari, tidak ada akal putus bicara, tidak ada emas putus tali, tidak berakal terban bumi –. Akal adalah anugerah Allah yang wajib di jaga dengan iman. Iman dikokohkan dengan menjaga aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ياَ غُلاَمُ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَ إِذَا سَأَلَكَ فَاسْأَلِ اللهَ تَعَالىَ وَ إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ                       رواه الترذي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jagalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, nanti engkau akan mendapatinya di hadapan engkau. Apabila engkau meminta, pintalah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan, pintalah pertolongan kepada Allah ‘Azza Wajalla.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;3. Perangai berpatutan (istiqamah, konsisten). Perangai akan menjadi contoh anak cucu atau generasi pelanjut, ” bahimat sabalun abih, sadiokan payuang sabalun hujan” &lt;/blockquote&gt;– artinya, berhemat sebelum habis, sediakan paying sebelum hujan –. Kewajiban masa depan terpaut kepada pusaka adat turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-KqS56eQ4gHs/TXbskUvjGUI/AAAAAAAAErk/hJ-lrncNJ30/s1600/Talempong%2BPacik%252C%2BPermainan%2Bdan%2BKesenian%2BAnak%2BNagari%2BTalang%2Bbabungo%2B%2BKab.%2BSolok.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-KqS56eQ4gHs/TXbskUvjGUI/AAAAAAAAErk/hJ-lrncNJ30/s400/Talempong%2BPacik%252C%2BPermainan%2Bdan%2BKesenian%2BAnak%2BNagari%2BTalang%2Bbabungo%2B%2BKab.%2BSolok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581908896959895874" /&gt;&lt;/a&gt; Keunggulan perempuan Minangkabau, ”maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua ” = mahal tidak dapat dibeli, murah tidak dapat diminta, takut pada paham akan tergadai, takut jika budi akan terjual. Budi dan malu jika telah hilang, bencana datang tindih bertindih, ”ka ateh indak ba pucuak, ka bawah indak ba urek, di tangah di giriak kumbang, hiduik sagan mati tak amuah, bagai karakok tumbuah di batu” = ke atas tidak berpucuk, kebawah tidak berurat, di tengah dilarik kumbang, hidup segan mati tak bisa, bagaikan kerakap tumbuh di batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencontohkan watak uswah menyangkut diri sendiri dan hidup masyarakat, sekarang, besok dan di mana saja, “nan barisuak bukan kini, nan kini bukan kapatang” = yang besok bukan kini, dan yang kini bukan kemarin. Maknanya sangat realistis,berpangkal pada usaha  nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;4. Kaya hati, tagak badunsanak, mamaga dunsanak, tagak bakampuang, mamaga kampuang, tagak basuku, mamaga suku, tagak banagari, mamaga nagari, tagak babangso, mamaga bangso, —&lt;/blockquote&gt; artinya, berdunsanak memagar dunsanak, berkampung memelihara kampung, bersuku menjaga suku, bernegara membentengi  Negara, tegak berbangsa menjaga bangsa –.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watak keperibadiannya sopan santun, kuat dan tegas, berani dan setia, hemat dan khidmat, muluik manih, kucindan murah, pandai ba gaue samo gadang – mulut manis kecindan = kelakar menyejukkan, pandai bergaul sesama besar –, yang tua  dimuliakan, yang muda di kasihi, sama besar saling hormat menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;5. Tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang = hening itu pangkal bicara, berfikir naning = ingat itu seribu akal, karena sabar kebenaran datang.&lt;/blockquote&gt; Falsafah hidup beradat menempatkan perempuan Minang pada sebutan mandeh atau bundo kandung secara simbolik, limpapeh rumah nan gadang = perhiasan dan pemilik rumah, umban puro pegangan kunci, umban puruak aluang bunian = pemilik harta pusaka, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam  nagari = hiasan kampung semarak nagari, sama seperti tiang nagari, nan gadang basa batauah = yang dimuliakan, dipuja dan bertuah. Maka peran perempuan Minangkabau tiang utama di dalam rumah gadang. Artinya, menjadi sandaran anak cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;6. Jimek (hemat tidak mubazir), di kana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham nan ka tagadai, ingek di budi nan ka tajua,  mamakai malu dengan sopan = di ingat laba dan rugi, sejak awal bertindak akhir tujuan sudah terbayang, ingat paham akan tergadai, ingat budi akan terjual, dengan memakai malu dan sopan santun.&lt;/blockquote&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-2-pd5vrdfNY/TXbskSjFS5I/AAAAAAAAErc/KxLIxawRZVs/s1600/ARAKAN.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 273px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-2-pd5vrdfNY/TXbskSjFS5I/AAAAAAAAErc/KxLIxawRZVs/s400/ARAKAN.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581908896370740114" /&gt;&lt;/a&gt; Ciri utama perempuan Minangkabau “sehayun-selangkah, semalu-sehina”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ                                      رواه الديلمي عن علي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat kebahagiaan manusia: Istrinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh dan rezekinya diperoleh di negerinya. (Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali)&lt;br /&gt;Perempuan Shaleh dalam Pandangan Agama Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Agama Islam atau syarak menempatkan kaum perempuan dengan watak yang jelas, ialah mar’ah shalihah = perempuan saleh dan lembut menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu = memelihara kesucian diri dan CERIA. Tidak ada keindahan yang melebihi “indahnya wanita saleh” (Al Hadith). Perempuan Minang dan saleh amatlah pandai menjaga waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perempuan Saleh takut kepada Tuhan, diawasi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan saleh tidak menyia-nyiakan waktu tanpa faedah serta kuat mengoreksi diri setiap saat. Rasulullah SAW mengabarkan perbedaan antara orang yang berdzikir (koreksi diri) dengan yang tidak, seperti perbedaan antara orang hidup dan orang mati. Rasul bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, Perbandingan antara orang yang mengingat tuhan dengan yang tidak mau mengingat tuhannya, sama seperti perumpamaan antara orang yang hidup dan yang mati (HR. Imam Bukhari, Shahih al Bukhari, Kitab Ad Da’wat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perempuan saleh tahu tempat utama, Responsif terhadap lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piawai dan Mandiri, teguh dan kokoh, Watak mulia, Lembut hati, Penyabar, Penyayang sesama, Keras mempertahankan Harga Diri, Tegas, Kuat Iman dalam melaksanakan suruhan Allah, Pendamai, Suka memaafkan, Mampu menjadi pemimpin masyarakatnya (contohnya Sayidatina ‘Aisyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ                   رواه الضياء عن أنس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya dan kalau dia dicabut dari sesuatu, niscaya akan memburukkannya. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas)&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;Anak Gadih Minang sejak masa dulu telah belajar menjahit, memasak, bersilat, berkata sopan santun, dan diajar mengaji. Dengan pelajaran pelajaran itu melahirkan kepiawaian, yang walaupun dengan perubahan zaman di tengah globalisasi, pelajaran pelajaran tersebut mulai diabaikan. Padahal, kepiawaian tumbuh karena teguh melaksanakan kewajiban.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Diantara kewajiban kewajiban yang perlu adalah ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. kewajiban kepada Rabb-nya,&lt;br /&gt;   2. kewajiban kepada orang tuanya,&lt;br /&gt;   3. kewajiban kepada suaminya,&lt;br /&gt;   4. kewajiban terhadap anaknya,&lt;br /&gt;   5. kewajiban terhadap kaum kerabatnya (sukunya),&lt;br /&gt;   6. kewajiban terhadap tetangga,&lt;br /&gt;   7. kewajiban terhadap saudara dan temannya, dan&lt;br /&gt;   8. kewajiban terhadap masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perempuan Saleh selalu taat beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpengaruh pada tata laku, bermuara kepada mode pakaian yang dipakai (buktinya di Sumbar berpakaian saruang, kodek, baju kuruang, salendang, tikuluak, dsb).[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Perempuan Saleh tahan uji (shabar), disiplin (istiqamah), pandai memanfaatkan apa yang dimiliki untuk mewujudkan kebahagiaan (syukur ni’mah), merangkai keberhasilan, hemat, qanaah.&lt;/blockquote&gt;[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan saleh di Minangkabau yang taat, senantiasa  bermohon taufik kepada Allah dalam merealisasikan semua cita yang sedang di emban dalam meraih masa depan yang lebih bermartabat dengan mempertajam akal fikiran yang jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَرَادَ اللهُ إِنْفَاذَ قَضَائِهِ وَ قَدَرِهِ سَلَبَ ذَوِي العُقُوْلِ عُقُوْلَهُمْ حَتَّى يَنْفُذَ فِيْهِمْ قَضَاؤُهُ وَ قَدَرُهُ. فَإِذَا قَضَى أَمْرَهُ رَدَّ عُقُوْلَهُمْ وَ وَقَعَتِ النَّدَامَة ُ رواه الديلمى عن أنس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Allah hendak melaksanakan putusan atau hukuman-NYA, dicabut akal orang yang mempunyai akal sampai terlaksana ketentuanNya itu. Setelah hukuman itu selesai akal mereka dikembalikan dan timbullah penyesalan. (Diriwayatkan oleh Dailami dari Anas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perempuan saleh,arif menetapkan Majlis yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai tabiatnya, perempuan Minangkabau yang saleh tidak mungkin hidup sendiri. Dia harus mempunyai teman berbincang. Teman paling ideal adalah yang punya akhlak mulia.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Perempuan Saleh mengejar Keberhasilan Memacu diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Minang sebenarnya mampu membaca bacaan yang bermanfaat seperti telah didorong oleh perintis pendidikan perempuan (Rohana Kudus, Rahmah el Yunusiyah), yang dengan bimbingan syarak mengajarkan kepada setiap muslimah untuk memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim, menghafal serta menyimaknya.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perempuan Minangkabau mempunyai Prinsip Teguh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas melawan kejahatan, kokoh menghadapi percabaran budaya dan tegar menghadapi percaturan dunia, sanggup buat lingkungan sehat, bijak menata pergaulan baik dan nyaman, tahu diri, hemat, dan tidak malas. Pesan Rasulullah SAW; ”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesombongan dan maksiat sangat dimurkai oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللهُ تَعَالىَ: البَيَّاعُ الحَلاَّفُ، وَ الفَقِيْرُ المُخْتَالُ، وَ الشَّيْخُ الزَّانِي، وَ الإِمَامُ الجَائِرُ رواه النسائي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat golongan yang dibenci Allah: Saudagar yang gemar bersumpah, orang miskin yang sombong, orang tua yang suka berzina dan pembesar yang aniaya (kejam). (Diriwayatkan oleh Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Perempuan Saleh mampu Menghadapi Perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Minangkabau mampu menhadapi setiap perubahan tanpa harus tercerabut dari nilai-nilai moral dan tatanan pergaulan.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-a0kv5lzKHHA/TXbyi71HF0I/AAAAAAAAEr8/fDukMSZdLu4/s1600/DSC05847.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-a0kv5lzKHHA/TXbyi71HF0I/AAAAAAAAEr8/fDukMSZdLu4/s400/DSC05847.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581915470162237250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapang hati yang dipunyai oleh setiap insan yang hidup hanya dapat di bangun dengan ingat kepada Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَقُوْلُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ- رواه أحمد عن أبي هريرة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama (menolong) hambaKu, selama dia menyebut (mengingati) Aku dan masih bergerak bibirnya menyebut namaKu. (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Perempuan Minangkabau mampu melakukan pengawasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap diri dan turunannya sepanjang masa.  Menghindari prilaku cela, yaitu dusta (bohong), mencuri dan caci maki, sesuai sabda Rasulullah SAW; “Jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka” (Hadith Shahih). Disini peran perempuan sangat dominan di tengah rumah kaum dan sukunya. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Melaksanakan amar makruf (social support) dan nahyun anil munkar (social control) untuk kejayaan dunia akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَ لَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ    تيسير الوصول&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Tuhan yang diriku dalam tanganNya! Hendaklah kamu menyuruh perbuatan baik dan kamu mencegah perbuatan salah, atau (kalau tidak), nanti Allah dalam masa yang dekat akan menimpakan kepada kamu siksaanNya, kemudian itu kamu mendo’a kepadaNya dan doa kamu tidak diperkenankanNya. (Dari kitab Taisirul Wusul)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran, 3 : 104 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Konsep Islam, perempuan saleh bergaul dengan ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-k7vwZG-Fqdk/TXbskEKbzYI/AAAAAAAAErU/fnR2rRfgC7c/s1600/DSC05585.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-k7vwZG-Fqdk/TXbskEKbzYI/AAAAAAAAErU/fnR2rRfgC7c/s400/DSC05585.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581908892509261186" /&gt;&lt;/a&gt; Kata azwajan menggambarkan kokoh peran perempuan dalam wadah keluarga besar (extended family).[7] Rasulullah SAW menyebutkan, “Sorga terletak dibawah telapak kaki Ibu”(al Hadith). Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan di rumah tangga, lingkungan tetangga dan pergaulan warga masyarakat (bangsa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-27Hwua0hZtQ/TXbqbks6_nI/AAAAAAAAErM/lIK0aCQ2aYM/s1600/DSC04248.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-27Hwua0hZtQ/TXbqbks6_nI/AAAAAAAAErM/lIK0aCQ2aYM/s400/DSC04248.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581906547601768050" /&gt;&lt;/a&gt;RAPI DAN MENUTUP AURAT .. MEMAKAI MALU DAN SOPAN ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Etika religi dimulai dari mengucap salam, menyebar senyum, jenguk menjenguk, bertakziyah kala kemalangan, memberi dan mengagih pertolongan, melapangi jika kondisi memungkinkan, walau hanya memberi sepotong doa dengan ikhlas sesama tetangga. Dzikrullah  melahirkan pemikiran bersih, jernih dan diterima oleh semua pihak. Di dalamnya ada hikmah. Inilah keuntungan utama dari dzikrullah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَنَائِعُ المَعْرُوْفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوْءِ، وَ الصَّدَقَةُ خَفِيًّا تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ العُمْرَ، وَ كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ وَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المَعْرُوْفِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الدُّنْيَا، هُمْ أَهْلُ المُنْكَرِ فيِ الآخِرَةِ، وَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ أَهْلُ المَعْرُوْفِ           رواه الطبراني عن أم سلمة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan baik itu menjaga dari serangan bahaya, sedekah dengan sembunyi memadami marah Tuhan, memperhubungkan silaturahmi menambah umur dan setiap perbuatan baik itu sedekah. Orang yang mengerjakan perbuatan baik di dunia, mereka juga orang yang mengerjakan perbuatan baik di akhirat, sedang orang yang memperbuat kesalahan di dunia, mereka juga orang yang memperbuat kesalahan di akhirat. Orang yang dahulu masuk surga ialah orang yang berbuat baik. (Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ummu Salamah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khulashah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan perempuan yang tulus akan mencetak generasi yang berwatak taqwa, focus dalam berkarya (amal) dan kaya dengan rasa malu. Karakter ini mewarnai masyarakat tradisonal yang mewarisi tamaddun (budaya). Inilah peran perempuan menurut adat di Minangkabau hari ini dan masa datang dalam bimbingan syarak (agama) Islam. Dalam bimbingan Rasulullah SAW ada sinyalemen tentang tujuh watak yang menempati posisi mulia dan semstinya direbut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ فيِ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ وَ شَابٌّ نَشَأَ فيِ عِبَادَةِ اللهِ، وَ رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ إِلَيْهِ، وَ رَجُلاَنِ تَحَابَّا فيِ اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَ افْتَرَقَا عَلَيْهِ، وَ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ فيِ خَلْوَةٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَ رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَ جَمَالٍ إِلىَ نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ العَالَمِيْنَ، وَ رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتىَّ لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ                      رواه الشيخان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh golongan akan dinaungi Allah di bawah lindunganNya, di waktu tidak ada lindungan selain lindunganNya: Imam (kepala pemerintah) yang adil, pemuda yang mempergunakan masa mudanya untuk menyembah Allah, seseorang yang hatinya tergantung di mesjid apabila dia keluar dari mesjid sampai dia kembali ke mesjid, dua orang berkasih sayang karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang mengingati Allah ketika sendirian, lalu menetes air matanya, seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang perempuan yang bangsawan dan rupawan, lalu dia menjawab: Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam dan seseorang yang bersedekah dengan sedekahnya, lalu disembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan oleh tangan kanannya. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadist ini dapat disimpulkan ada beberapa upaya yang perlu dilakukan, antara lain ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Ilmu dan iman akan mendorong setiap diri umat manusia sanggup hidup mandiri.  Nilai-nilai agama (syarak) dalam konsep mencari ridha Allah, adalah Akhlak Mulia dan memadukannya dengan pengetahuan dan keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya termasuk akhlak (budi pekerti) orang beriman ialah kuat memegang agama, tegas dengan sikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, loba kepada pengetahuan, memberi bantuan dengan perasaan belas kasihan, ramah tamah dalam berilmu, hidup sederhana di waktu kaya, berhias di waktu miskin, memelihara diri dari loba tamak, berusaha di jalan yang halal, tetap berbuat baik, rajin dalam menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. “Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji)”. Pencerahan diri diben­tuk oleh latar pendidikan dan pengalaman hidup dengan modal selalu mendekatkan diri kepada Allah. Tujuan akhir yang diraih dalam gerak kehidupan adalah redha Allah. Menuju redha Allah dicapai melalui ‘al-qalb al-salim ‘ (hati yang salim, tenteram dan sejahtera). Kebaikan hati awal dari kebaikan jiwa dan jasad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا فَتَحَ لَهُ قُفْلَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ فِيْهِ الْيَقِيْنَ وَ الصِّدْقَ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا لِمَا سَلَكَ فِيْهِ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيْمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَ خَلِيْقَتَهُ مُسْتَقِيْمَةً وَ جَعَلَ أُذُنَهُ سَمِيْعَةً وَ عَيْنَهُ بَصِيْرَةً                          رواه الشيخ عن أبي ذر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Allah hendak mendatangkan kebaikan kepada hambaNya dibukakan kunci hatinya dan dimasukkan ke dalamnya keyakinan dan kebenaran dan dijadikan hatinya menyimpan apa yang masuk ke dalamnya dan dijadikan hatinya bersih, lidahnya berkata benar, budinya lurus, telinganya sanggup mendengar dan matanya melihat dengan terang. (Diriwayatkan oleh Syekh dari Abu Zar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Membentuk effectif leader harus mempunyai sahsiah (personality) yang selalu ingat kepada Allah menuju inti dari syarak dalam agama Islam (tauhid dan akhlak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَطِبِ الكَلاَمَ، وَ أَفْشِ السَّلاَمَ، وَ صِلِ الأَرْحَامَ، وَ صَلِّ بِالَّلْيلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ، ثُمَّ ادْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ           رواه ابن حبان عن أبي هريرة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapkanlah perkataan dengan baik, kembangkanlah ucapan memberi salam, perhubungkanlah silaturahmi dan sembahyanglah di waktu malam ketika orang banyak sedang tidur, sesudah itu masuklah ke dalam surga dengan selamat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Profil kepemimpinan perempuan di Minangkabau yang ideal berada pada kepemimpinan sentral, di tengah keluarganya, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, sebagai “biaiy, dan mandeh”. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-b4BIza-EWRI/TXbslBNAttI/AAAAAAAAEr0/lZKMZlkzLBo/s1600/Anak%2BGadih%2BMinang%2Bbelajar%2Bmenjahit%2Bbordiran.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-b4BIza-EWRI/TXbslBNAttI/AAAAAAAAEr0/lZKMZlkzLBo/s400/Anak%2BGadih%2BMinang%2Bbelajar%2Bmenjahit%2Bbordiran.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581908908894631634" /&gt;&lt;/a&gt; Perempuan Minangkabau harus membekali dirinya dengan kepandaian khas, seperti menjahit dan lainnya, untuk dapat memaknai peran sosiologis adalah, memposisikan lelaki pasangan (azwajannya) pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga marwah anak turunannya, dengan hati tenang, santun, pergaulan akrab, silaturahim, ibadah teratur, bijak memanfaatkan waktu baik, untuk dapat meraih redha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كَرِهْتَ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَلاَ تَفْعَلْهُ بِنَفْسِكَ  إِذَا خَلَوْتَ      رواه ابن حبان عن أسامة بن شريك&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang engkau tidak suka dilihat orang banyak datang dari engkau, janganlah engkau perbuat dengan diri engkau ketika engkau sendirian. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Usamah bin Syuraik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Taala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ أَسْمَاعِنَا و أَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَ اجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ ِبهَا قَابِلِيْنَ لَهَا وَ أَتِمَّهَا عَلَيْنَا         رواه الحاكم عن ابن مسعود&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah! Perbaikilah hubungan antara sesama kami, susunlah (satukanlah) hati kami, pimpinlah kami kepada jalan keselamatan, keluarkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya yang terang, jauhkanlah kami dari perbuatan keji, yang terang dan yang tersembunyi. Ya Allah! Berilah kami keberkatan berkenaan dengan pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri (suami) kami dan anak cucu kami. Terimalah tobat kami sesungguhnya Engkau Penerima tobat dan Penyayang. Jadikanlah kami orang yang mensyukuri nikmat engkau, menghargai nikmat itu, menerimanya dengan baik dan cukupkanlah nikmat itu untuk kami. (HR. Hakim dari Ibnu Mas’ud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah Taala memberi kita kekuatan senantiasa dapat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Amin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;[1] Disampaikan ralam rangka Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Bundo Kanduang berlandaskan Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah Tahun 2009, yang di adakan di Padang, pada tanggal 20-21 April 2009, oleh Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar, Ketua Umum Forum Keswaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Sumatera Barat,  Dakwah Sumbar, bertempat di Wisma Bhakti Bunda Jalan Asahan No.2, Padang, Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[1]  Bila Annisa’‑nya baik, baiklah negeri itu, dan kalau sudah rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits). Kaidah Alqurani menyebutkan, Nisa’‑nisa’ kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa’‑nisa’ kamu. Kamu dapat mendatan­gi ladang‑ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew­ajiban menjaga anfus (diri, eksistensi dan identitas) sesuai perintah Qaddimu li anfusikum, dengan selalu bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Dalam khazanah syarak kita menemui hadith Rasulullah SAW sebagai riwayat Abdullah bin Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya, kemudian apa lagi? Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (Muttafaq Alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Sesuai sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadith qudsy Allah berfirman, “Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melaksanakan shalat-shalat nafilah hingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, dengannya dia mendengar, Aku menjadi penglihatannya, dengan itu dia melihat, Aku menjadi tangannya, dengan itu pula dia bertindak (sehingga dia tidak pernah merasa cemas dan takut di dalam meraih cita2nya), Aku menjadi kakinya, dengan itu dia berjalan. Jika dia memohon kepadaKu maka Aku benar-benar akan memberinya dan Jika dia meminta perlindungan kepadaKu maka Aku benar-benar akan melindunginya“. (HR.Al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dengan seorang pandai besi“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Orang-orang yang mendapatkan taufik dari Allah selalu menjaga waktu mereka untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat. Seorang sahabat terkenal, Abdullah Ibnu Mas’ud telah berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Rasul saw bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia terbata-bata dalam membacanya serta kesulitan dalam membacanya maka dia mendapatkan dua pahala, sedangkan orang yang membaca dengan mahir maka dia bersama para penulis kitab (malaikat) yang mulia lagi berbakti.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Perempuan Minangkabau sejak masa lalu selalu berdzikir kepada Allah, satu amalan yang mudah, dimana setiap orang mampu melakukannya, baik kaya maupun miskin, berilmu maupun tidak, perempuan maupun pria, besar ataupun kecil. Berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan. Rasulullah SAW mengabarkan perbedaan antara orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir, seperti perbedaan antara orang yang hidup dan orang yang mati. Sabda Rasul, “Barangsiapa yang bangun di malam hari kemudian mengucapkan, “Laa ilaaha wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu bi yadihil khair yuhyi wa yumiitu wa Hua ala kulli syai’in qadiir, subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar wa laa haula walaa quwwata illa billah.” Kemudian dia berdo’a, “(Ya Allah ampunilah aku) niscaya akan diterima do’anya. Dan jika dia berwudhu (untuk shalat) niscaya diterima shalatnya“. (HR. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Perempuan Minangkabau sangat bijak mendidik anak-anak yang menjadi tanggung jawab yang agung. Seorang anak di Minangkabau, lebih takut kehilangan ibunya dari pada kehilangan bapaknya. Inilah satu tanggung jawab  besar bagi perempuan Minangkabau, membentuk dan memberi warna dari generasi pengganti, karena seorang ibu lebih dekat kepada anak-anaknya ketimbang yang lainnya. Seorang ibu (perempuan Minangkabau) selalu menerapkan amar makruf nahi munkar, sebagaimana dinasehatkan dalam satu hadith dari Abu Said Al-Khudri dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barang-siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan (nasihat). Dan jika tidak mampu maka hendaklah meng-ubahnya dengan hati (tidak senang dengan kemungkaran itu) dan itulah selemah-lemah iman’.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah (konsep tauhidullah). Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu. Hubungan hidup duniawi wajib dipelihara baik dengan jalinan ihsan (lihat QS. 31, Luqman : 14-15). Kandungan nilai pendidikan dan filosofi ini terikat kasih sayang. Hakikinya semua terjadi karena Rahman dan RahimNya, dan semuanya berakhir dengan menghadapNya. Maka kewajiban asasi insani menjaga diri dan keluarga dari bencana (QS. At Tahrim :6). Dengan memakai hidayah religi Alqurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ustadz Sulaiman Ibn Muhammad, Kaifa Taqdhi Al-Mar-atul Muslimah  Waqtaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Abdullah Ibnu Jarullah Ibrahim al Jarullah, Risalah Ila Kulli Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dr. Muhammad Ali Al Hasyimiy, Syakhshiyah Al-Mar’ah Al-Muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ummu Abdillah An Nawawi, Hadits Arba’in An-Nawawi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-5498876289312286921?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/5498876289312286921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=5498876289312286921' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/5498876289312286921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/5498876289312286921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2011/03/kepemimpinan-perempuan-berlandasan-adat.html' title='Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah” dalam Budaya Minangkabau, di Sumatera Barat'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-eI-GKXMNSwg/TXbqaaw3aMI/AAAAAAAAEqs/O4sKLSQvIRo/s72-c/Mandeh%2BRubiah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-6384465862228808260</id><published>2010-04-11T18:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T18:57:40.843-07:00</updated><title type='text'>Buya H. Masoed Abidin's Site</title><content type='html'>&lt;a href="http://buyamasoedabidin.multiply.com/photos/slideshow2/83"&gt;Buya H. Masoed Abidin&amp;#39;s Site&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-6384465862228808260?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://buyamasoedabidin.multiply.com/photos/slideshow2/83' title='Buya H. Masoed Abidin&apos;s Site'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/6384465862228808260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=6384465862228808260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6384465862228808260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6384465862228808260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2010/04/buya-h-masoed-abidins-site.html' title='Buya H. Masoed Abidin&apos;s Site'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-2192137213421981734</id><published>2010-04-09T00:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-09T02:59:26.653-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tungku tigo sajarangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buya Masoed Abidin'/><title type='text'>Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim Kepemimpinan di Minangkabau</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim Kepemimpinan di Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Buya H.Mas'oed Abidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mukaddimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekal utama dalam hidup, adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT dan hidup beradat.&lt;br /&gt;Mesti diajarkan adat dan syarak.&lt;br /&gt;Nilai-nilai tamadun budaya Minangkabau – ABS-SBK -- terikat kuat dengan penghayatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap jiwa (mental attitude) dari masyarakat Minangkabau, masih tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam adagium "Adat basandi Syara', syara' basandi Kitabullah ",&lt;br /&gt;dan "syara' mamutuih, Adat memakai !".&lt;br /&gt;Nilai-nilai budaya ini, menjadi pegangan hidup yang positif, mendorong dan merangsang, force of motivation, penggerak mendinamiseer satu kegiatan masyarakat bernagari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomis seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap jiwa yang lahir dari pemahaman syarak dalam budaya Minangkabau, kekuatan besar dari kekayaan budaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adat Minangkabau Unik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keunikan adat budaya Minangkabau itu, kita menghadapi ada beberapa kendala -- dalam implementasi penerapan nilai-nilai budaya adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK), dan syarak mangato adaik mamakaikan, di antaranya ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Generasi mudaterabaikan dalam pewarisan nilai budaya Minangkabau,&lt;br /&gt;b). hubungan kekerabatan keluarga mulai menipis,&lt;br /&gt;c). peran ninik mamak kini, sebatas seremonial,&lt;br /&gt;d). peran substantif dari ulama mulai kehilangan wibawa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hubungan Kekerabatan Harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan dengan Nilai-nilai ideal kehidupan ini, mesti dihidupkan terus dalam kehidupan bernagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. rasa memiliki bersama,&lt;br /&gt;b. kesadaran terhadap hak milik,&lt;br /&gt;c. kesadaran terhadap suatu ikatan,&lt;br /&gt;d. kesediaan untuk pengabdian,&lt;br /&gt;e. menjaga hubungan positif pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan Nagari harus memakai pola keseimbangan dan pemerataan.&lt;br /&gt;Nilai kepemimpinan di dalam Nagari, adalah keteladanan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap; berakhlak, berpegang pada nilai-nilai iman dan taqwa, memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.&lt;br /&gt;Memahami nilai nilai budaya luhur, punya makna jati diri yang jelas, menjaga martabat, patuh dan taat beragama, menjadi agen perubahan, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah, mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sedang Terjadi Perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran budaya itu terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan tumbuh disebabkan pembinaan akhlak anak nagari sering tercecerkan, pendidikan surau hampir tiada lagi, atau peran pendidikan surau di rumah tangga juga melemah, dan peran pendidikan akhlak berdasarkan prinsip budaya ABS-SBK menjadi kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi “,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Masyarakat Minangkabau Mandiri Berprestasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendali kemajuan sebenarnya adalah agama dan budaya, yakni budaya tamaddun (ABS-SBK) yang telah berlaku turun temurun dalam masyarakat Minangkabau..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercerabutnya agama dari diri masyarakat Sumatera Barat –Minangkabau --, berakibat besar kepada perubahan prilaku dan tatanan masyarakatnya, karena "adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah" dan "syarak mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)" – sungguhpun dalam pengamatan sehari-hari sudah sulit ditemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, ditemui maraknya penyakit masyarakat (pekat, tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, tindakan kriminal dan anarkis), yang merusak tatanan keamanan, maka akibat yang dirasakan adalah prinsip ABS-SBK menjadi kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan suluah bendang di Minangkabau atau yang disebut Tungku Tigo Sajarangan sejak dulu adalah membawa umat dengan informasi dan aktifitas -- kepada keadaan yang lebih baik, kokoh aqidah, qanaah, istiqamah, berilmu pengetahuan, mencintai nagari, matang dengan visi dan misi bernagari, kebersamaan dan gotong royong, berkualitas dengan iman dan hikmah, amar maktruf dan nahyun ‘anil munkar, research oriented, professional, berteraskan iman dan ilmu pengetahuan, mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiko mangaji dari alif, Jiko naiak dari janjang, Jikok turun dari tango, Jiko babilang dari aso, artinya hidup berperaturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Suku Sako Pusako.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Unsur Sistim Banagari di Minangkabau didukung oleh Suku, Sako dan Pusako.&lt;br /&gt;Ketiganya berjalin berkulindan di dalam satu Nagari.&lt;br /&gt;Ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONSEP PEMERINTAHAN HARUS MAMPU MENAUNGI MASYARAKATNYA.&lt;br /&gt;Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Implementasinya, Perda tentang Pemerintahan Nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan berpemerintahan di tingkat Nagari, hubungan harus berdasarkan adat. Adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari. Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an. Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.&lt;br /&gt;Ka lauik riak ma hampeh, ka karang rancam ma aruih, ka pantai ombak ma mamacah.&lt;br /&gt;Kini memang terasa, Rakyat di nagari-nagari mulai mengalami pergeseran pola hidup di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, mulai menjadi sasaran dari budaya westernisasi. Hal ini terjadi, ketiadaan bekal dalam pemahaman adat dan syarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tungku Tigo Sajarangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menata pemerintahan nagari, dengan perinsip ABS-SBK, dituntut adanya peribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan, berjiwa wiraswasta, menguasai manajemen, beradat dan beragama, menguasai teknologi terapan, berilmu pengetahuan, "hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah urang nan 4 Jinih (Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiek Pandai, Para Pemuda dan Bundo Kanduang), yang semuanya merupakan tali tigo sapilin, didalam susunan bernagari dan menjadi tungku tigo sajarangan sebagai salah satu struktur masyarakat adat di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam menata pemerintahan dan kehidupan beradat di tengan Masyarakat Hukum Adat Minangkabau saat ini, memang tantangannya sangat banyak, uluran tangan yang di dapat hanya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, mesti dijaga hubungan kekerabatan di Nagari berlangsung harmonis dan baik.&lt;br /&gt;Ada perasaan malu, bila tidak membina hubungan dengan baik.&lt;br /&gt;Seseorang akan dihargai, apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya.&lt;br /&gt;Hubungan kekerabatan Minangkabau kompleks, akan selalu terjaga dengan,&lt;br /&gt;”nan tuo di hormati, nan ketek di sayangi, pandai ba gaul samo gadang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai ideal kehidupan bernagari karena ;&lt;br /&gt;adanya rasa memiliki bersama, kesadaran terhadap hak milik, kesadaran terhadap suatu ikatan kaum dan suku, kesediaan untuk pengabdian, terjaga hubungan positif pernikahan (semenda menyemenda, bako baki, ipa bisan, andan pasumandan, dan hubungan mamak kamanakan ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kiat adat untuk meraih keberhasilan ;&lt;br /&gt;Dek sakato mangkonyo ado, dek sakutu mangkonyo maju,&lt;br /&gt;dek ameh sagalo kameh, dek padi mangko jadi.&lt;br /&gt;Artinya perlu kesepakatan dan kemakmuran di tengah masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melihat tatanan dan tataran masyarakat ini dapat tampak Bentuk Budaya sebenarnya, di antaranya pada tata karma bahasa (kato nan ampek), yang dikenal dengan ‘kato pusako’ dan tatanan (struktur masyarakat), pakaian, makanan, seni (tari, lagu, ukiran), peralatan, dan ritual (seremonial dan situs-situs).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Peran Tungku Tigo Sajarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari, pasti akan menemui di nagari satu iklim (mental climate) yang subur bila pandai menggunakan dengan tepat .&lt;br /&gt;Ada kekuatan agama, tamadun, budaya, adat istiadat, dan budi bahasa yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lah masak padi rang Singkarak, masaknyo ba tangkai-tangkai, sa tangkai jarang nan mudo. Kabek sa balik buhue sintak, payahlah urang nak ma ungkai, tibo nan punyo rarak sajo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku dalam adaik salingka nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alah bakarih samparono, bingkisan rajo Majopaik,&lt;br /&gt;Tuah ba sabab ba karano, pandai ba tenggang di nan rumik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu realita objektif adalah ;&lt;br /&gt;Siapa yang paling banyak menyelesaikan persoalan masyarakat ,&lt;br /&gt;pasti akan berpeluang banyak mengatur masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik masyarakat yang disebut Tungku Tigo Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin, seperti ; pemurnian wawasan fikir, mempertajam kekuatan zikir, penajaman visi adat banagari, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, pendalaman spiritual religi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Mengedepankan Persaudaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gerakan "membangun nagari“, setiap fungsionaris di nagari akan menjadi pengikat anak nagari, dalam membentuk masyarakat yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif, dengan kekuatan persaudaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang nan indak mambuang kayu,&lt;br /&gt;Nan luruih ka tangkai sapu,&lt;br /&gt;Nan bengkok ka singka bajak,&lt;br /&gt;nan ketek ka pasak suntiang,&lt;br /&gt;sa tangkok ka papan tuai ( ka ani-ani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasyarakatan budaya adat dan syarak sangat Islami,&lt;br /&gt;sesuai prinsip "adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah“.&lt;br /&gt;Maka anak nagari mesti dibina mencapai derajat pribadi taqwa,&lt;br /&gt;dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan syarak (Agama Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamutieh cando riak danau, tampak nan dari muko-muko,&lt;br /&gt;Batahun-tahun dalam lunau, namun nan intan bakilek juo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur,&lt;br /&gt;“nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensif menjauhi kehidupan materialistis,&lt;br /&gt;“dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo,&lt;br /&gt;dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.&lt;br /&gt;Hendaknya bida;l ini jangan bertemu di dalam kehidupan bernagari di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Mengakarkan Nilai Islam kedalam Budaya Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Masyarakat Adat Minangkabau selalu diingatkan supaya,&lt;br /&gt;Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah,&lt;br /&gt;padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak bulieh barubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Minangkabau mesti memiliki ilmu dengan akidah tauhid yang jelas.&lt;br /&gt;Generasi Minangkabau mestinya dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi,&lt;br /&gt;Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi,&lt;br /&gt;Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiak-kan budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Kualitas generasi Muda Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutamakan manhaj-ukhuwah ;&lt;br /&gt;“bulek aie dek pambuluah bulek kato ka mupakaik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamalkan budaya amal jama’i ;&lt;br /&gt;“kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,&lt;br /&gt;tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manyuruah babuek baik, Malarang babuek jahek,&lt;br /&gt;Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari.&lt;br /&gt;Managua manyapo, Tadorong mahelo, talompek manyentak,&lt;br /&gt;Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana.&lt;br /&gt;Tak ado karuah nan tak janieh.&lt;br /&gt;Tak ado kusuik nan tak salasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi muda mesti meniru kehidupan lebah; kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, baik hasil usahanya, dapat dinikmati oleh lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Sembilan Watak Kepemimpinan Rasulullah SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi Hidup Nagari-nagari di Minangkabau bersumber dari alam.&lt;br /&gt;Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam.&lt;br /&gt;Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan ruhaniyah, lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.&lt;br /&gt;Keutuhan budaya bertumpu kepada masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada, terutama dengan meniru dan menerapkan watak kepemimpinan Rasulullah SAW. antara lain,&lt;br /&gt;1. Fathanah (ilmiah),&lt;br /&gt;2. Amanah (jujur),&lt;br /&gt;3. Amaliah (teguh dan istiqamah/transparan), &lt;br /&gt;4. Shiddiq (lurus dan dipercaya),&lt;br /&gt;5. Shaleh (teguh ibadah dan berakhlak mulia),&lt;br /&gt;6. Setia (ukhuwwah mendalam),&lt;br /&gt;7. Tabligh (dialogis),&lt;br /&gt;8. Tauhid (memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah dan hari akhirat),&lt;br /&gt;9. Thaat (disiplin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Kepemimpinan Rasulullah tersebut diatas, sangat diperlukan di dalam mengimplementasikan ABS-SBK di nagari-nagari dan harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal, yang dijabarkan dengan kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekusutan dalam masyarakat Minangkabau, diatasi dengan komunikasi.&lt;br /&gt;Persoalan perilaku harus mendapatkan porsi yang besar.&lt;br /&gt;Diperlukan sosialisasi nilai-nilai budaya Minangkabau,&lt;br /&gt;membentuk kembali struktur masyarakat adat di Nagari-nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menata pemerintahan nagari, dengan perinsip ABS-SBK, dituntut adanya peribadi yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan, berjiwa wiraswasta, menguasai manajemen, beradat dan beragama, menguasai teknologi terapan, berilmu pengetahuan, "hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pemerintahan harus mampu menaungi masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan penata yang memiliki sikap perilaku Madani, yang FAST (Fathanah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh-dialogis) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat di nagari-nagari kini, memang mulai mengalami pergeseran pola hidup di bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, mulai menjadi sasaran dari budaya westernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terjadi, ketiadaan bekal dalam pemahaman adat dan syarak. Lebih kentara karena pengamalan agama Islam mulai melemah, maka kehidupan beradat sopan santun pun menjadi terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Nagari dibingkai undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Implementasinya di nagari-nagari sebenarnya diperkuat oleh Perda tentang Pemerintahan Nagari. Maka di nagari-nagari juga dapat dibuatkan Peraturan Nagari (Perna), sehingga adat dan syarak di nagari terlaksana dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan berpemerintahan di tingkat Nagari, adalah hubungan pemerintahan dan masyarakat yang timbal balik, dan semestinya berbasis kepada adat istiadat setempat, atau adanya perinsip “adat selingkar nagari, pusako selingkar kaum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat harus benar-benar dikuasai oleh semua aparat pemerintahan Nagari.Adat tidak semata sebagai kekayaan sains (ilmu pengetahuan) ke-Minangkabau-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat harus dapat dilaksanakan dalam kehidupan dan hubungan bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka lauik riak ma hampeh, ka  karang  rancam ma aruih, ka pantai ombak ma mamacah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiko ma ngauik kameh-kameh, jiko mancancang putuih-putuih, Alah salasai mangkonyo sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekekrabatan dijaga oleh ninik mamak dan penghulu yang dihimpun dalam KAN, dengan satu sistem pandangan banagari, cinta kepada Nagari dan kegiatan dalam membangun yang dipersamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Harapan untuk Generasi Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Minangkabau harus dibina memiliki budaya yang kuat, dinamik, relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, mengamalkan nilai-nilai agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah kristalisasi dari ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam. Generasi penerus harus taat hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah dapat dilakukan ;&lt;br /&gt;1. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,&lt;br /&gt;2. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,&lt;br /&gt;3. fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,&lt;br /&gt;4. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti .&lt;br /&gt;5. menanamkan aqidah shahih (tauhid),&lt;br /&gt;6. istiqamah pada agama yang dianut,&lt;br /&gt;7. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.&lt;br /&gt;8. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah.&lt;br /&gt;9. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam .&lt;br /&gt;10. melazimkan musyawarah dengan disiplin, teguh politik, kukuh ekonomi.&lt;br /&gt;11. bijak memilih prioritas , sesuai puncak budaya Islam yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Khulasah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan kekuatan dakwah ; dengan manajemen pendidikan berbasis umat yang lebih accountable, baik dari sisi pertanggungan jawab keuangan maupun organisasi, sehingga menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan Giat), dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya menjadi landasan dasar pengkaderan di nagari-nagari di Minangkabau dengan kewajiban,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna,&lt;br /&gt;kaluak paku kacang balimbiang, sayak timpuruang lengang-lenggangkan,&lt;br /&gt;anak di pangku kamanakan di bimbiang, urang kampuang di patenggangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Mengupayakan berlangsungnya timbang terima kepemimpinan dalam kaum dan nagari secara alamiah,&lt;br /&gt;Ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih,&lt;br /&gt;Agak-agak nan ka pai, ingek-ingek nan ka tingga,&lt;br /&gt;Patah tumbuah hilang ba ganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Teguh dan setia melaksanakan pembinaan dan mengajarkan adat istiadat kepada anak kemenakan dan menjaga lingkungan dengan baik.&lt;br /&gt;‘ Handak kayo badikik-dikik, Handak mulie tapek i janji,&lt;br /&gt;Handak tuah ba tabue urai, Handak namo tinggakan jaso,&lt;br /&gt;Handak luruih rantangkan tali, Handak pandai rajin baraja,&lt;br /&gt;Handak bulieh kuek mancari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu,&lt;br /&gt;Nan gurun buek ka parak, Nan munggu ka pandam pakuburan,&lt;br /&gt;Nan rawang ranangan itiek, Nan padang kubangan kabau,&lt;br /&gt;Nan bancah jadikan sawah, Nan gauang ka tabek ikan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya ada kemauan kuat melakukan perubahan, dan memanfaatkan alam sesuai dengan tata ruang yang jelas, karena segala tindakan dan perbuatan akan disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moga ini dapat berguna di dalam menyongsong KKM2010 yang hendaak digelar pada Agustus 2010 yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya pula pada Generasi muda di UI mampu menjadi pendorong untuk menjadikan Minangkabau maju dengan berbasis adat budayanya yang unik dan mampu duduk sama rendah serta tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di persada bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insyaallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-2192137213421981734?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/2192137213421981734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=2192137213421981734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/2192137213421981734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/2192137213421981734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2010/04/tigo-tungku-sajarangan-sebagai-sistim.html' title='Tigo Tungku Sajarangan sebagai Sistim Kepemimpinan di Minangkabau'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-1861167431162450988</id><published>2009-12-04T14:55:00.000-08:00</published><updated>2009-12-04T14:55:48.142-08:00</updated><title type='text'>NILAI ISLAM  DI DALAM  BUDAYA MINANGKABAU,</title><content type='html'>&lt;a href="http://masoedabidin.multiply.com/journal/item/84/NILAI_ISLAM_DI_DALAM_BUDAYA_MINANGKABAU"&gt;NILAI ISLAM  DI DALAM  BUDAYA MINANGKABAU,&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-1861167431162450988?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://masoedabidin.multiply.com/journal/item/84/NILAI_ISLAM_DI_DALAM_BUDAYA_MINANGKABAU' title='NILAI ISLAM  DI DALAM  BUDAYA MINANGKABAU,'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/1861167431162450988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=1861167431162450988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/1861167431162450988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/1861167431162450988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/12/nilai-islam-di-dalam-budaya-minangkabau.html' title='NILAI ISLAM  DI DALAM  BUDAYA MINANGKABAU,'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-340729867858671199</id><published>2009-02-18T04:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T04:47:01.649-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LKAAM Sumbar'/><title type='text'>Saafruddin Bahar, tentang Pertemuan LKAAM Sumbar</title><content type='html'>Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 16 dan 17 Februari 2009 bertempat di Asrama Haji di Parupuak, Tabing, Padang, Bp H Azaly Djohan S.H, selalu Ketua Umum Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat (Setnas MHA), Sdr Ahmadsyah Harrofie S.H,M.H selaku Sekretaris  Jenderal Sekretariat Bersama Lembaga Adat Rumpun Melayu se Sumatera, dan saya selaku Ketua Dewan Pakar Setnas MHA, menghadiri acara Musyawarah Kerja yang diadakan Pucuk Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM)  Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini  dihadiri oleh kl 200 orang peserta, terdiri dari utusan LKAAM tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se Sumbar; Kajari se Sumbar; ketua Pengadilan Negeri se Sumbar; ketua BPN kabupaten dan kota se Sumbar; Kapoltabes/Polres se Sumbar; dan undangan khusus lainnya. Musyawarah Kerja ini dibuka  secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya sampaikan pokok-pokok acara tersebut di atas, khusus bagi para sanak yang berminat untuk mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan Kerangka Acuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Dalam Kerangka Acuan Bimbingan Teknis ini tercantum pertimbangan bahwa konflik horizontal di dalam masyarakat SumateraBarat ‘ sudah masuk ke skala intensitas tinggi. Di setiap nagari di Sumatera Barat tidak ada yang tidak terjadi konflik horizontal, seperti : perkelahian massal antar nagari disebabkan persengketaan tapal batas; gugat mengugat antar kaum dalam persengketaan hak sako dan pusako; unjuk kekuatan massal dalam persengketaan pemanfaatan tanah ulayat, perselisihan antar keluarga karena pelanggaran adat yang berlanjut ke tindak kriminal”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2.    “Bimbingan teknis beracara hukum adat adalah suatu kegiatan Pndidikan dan pelatihan (diklat) berbentuk Training of Trainers (ToT) dimana Ketua dan Sekretaris LKAAM kabupaten/kota se Sumatera Barat yang menjadi peserta dapat mengembangkannya kepada seluruh ninik mamak pemangku adat sehingga mereka siap menangani konflik di tengah-tengah masyarakat adat bersama Pemerintah dan lembaga penegak hukum negara. Lingkup materi yang yang akan diberikan adalah pembekalan pengetahuan melalui ceramah terstruktur dengan bahan ajar tertulis dan penyajiannya secara tekstual dan kontekstual dengan media audio visual”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3. Materi Bimbingan Teknis dan daftar pembicara dalam acara Bimbingan Teknis ini adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Hari Pertama, 16 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          a. Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) serta Tugas Pokok  dan Fungsi (Tupoksi) Pemangku Adat di Nagari dan dalam  kaum/Suku, oleh Drs. M.Sayuti Dt Rajo Penghulu,M.Pd, Sekum  LKAAM Sumbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          b. Filsafat Hukum Adat dan Hukum Negara, oleh Bachtiar Abna   S.H,M.H, Dt Rajo Suleman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          c. Hak-hak Konstitusional Masyarakat Hukum Adat, oleh Waka Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          d. Peranan Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat (Setnas MHA) dalam Membela Masyarakat Adat, &lt;br /&gt;             dengan tiga makalah, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             1). Ketua Umum H.Azali Djohan S.H,” Lembaga Adat dan Regenerasi Kepemimpinan Adat dalam Rumpun Melayu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             2). Wakil Ketua Umum Prof Dr Ruswiati Suryasaputra MS, “Peran Strategis Sekretariat Nasional Masyarakat  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Hukum Adat bagi Keberlangsungan Kepemimpinan Adat”  [berhalangan hadir karena ada dinas di Jakarta],&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             3). Ketua Dewan Pakar Dr Saafroedin Bahar, “Arti Penting Inventarisasi Masyarakat Hukum Adat dan Mekanisme   Pelaksanaannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Hari Kedua, 17 Februari 2009.                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         a. Peradilan Hukum Adat dan Peradilan Hukum Negara oleh Ketua   Pengadilan Tinggi Sumatera Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         b. Sinergi Hukum Negara dan Hukum Adat dalam Penyelesaian Sengketa  Masyarakat Adat oleh Kapolda Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         c. UUPA dalam Perspektif Hukum Adat dan Hak Tanah Ulayat oleh  Kepala BPN Sumatera Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi Materi  dan Tanya Jawab pada Hari Pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi materi pada hari pertama disajikan oleh lima pembicara berbentuk panel, berlangsung secara amat intensif dari jam 20.00 – 24.10, berbentuk slides PowerPoint  dan  ceramah, masing-masing selama 25 menit, diikuti oleh tanya jawab dengan para peserta, terdiri dari tiga sesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Materi presentasi disajikan secara lugas, sistematis, dan jernih, baik mengenai struktur organisasi, tata kerja, dan tugas pokok serta fungsi pemangku adat, maupun mengenai filsafat hukum adat dan hukum negara, maupun mengenai hak konstitusional masyarakat hukum adat serta peranan Setnas MHA, maupun pertanyaan dan jawaban yang berlangsung setelahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus dari presentasi adalah membangun suasana kelembagaan yang memungkinkan berfungsinya kembali kepemimpinan para ninik mamak pemangku adat dalam menyelesaikan konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat Minangkabau, bekerjasama dengan fihak kepolisian, kejaksaan, serta pengadilan negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baik pembicara dari LKAAM Sumbar maupun pembicara dari Universitas Andalas menekankan perlunya payung hukum untuk kegiatan pengadilan adat ini, baik dengan memperlakukan hukum adat sebagai lex specialis maupun dengan menghidupkan      kembali institusi pengadilan adat yang pernah ada di masa lampau. [Menurut Panitia  Pelaksana, dalam kata sambutannya Gubernur Gamawan Fauzi sebagai keynote   speaker mengharapkan adanya satu fasal dalam undang-undang yang memberi   wewenang untuk hidupnya kembali pengadilan adat.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua orang peserta, yang satu berpangkat ajun komisaris polisi dan yang lain hakim pengadilan negeri, menyampaikan informasi bahwa pada saat ini sudah ada instruksi dari instansinya masing-masing bahwa sengketa adat serta tindak pidana ringan agar  diserahkan terlebih dahulu kepada para pimpinan masyarakat adat yang bersangkutan  untuk diselesaikan  sebelum diproses oleh fihak kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tim dari Setnas MHA menerangkan kegiatan yang telah dilakukan dalam bidang  hukum, baik dengan  mempersiapkan Naskah Akademik dan Rancangan Undang Undang Ratifikasi Konvensi ILO nomor 169 Tahun 1989 Tentang Hak Masyarakat Hukum Adat serta Kelompok Persukuan di Negara-negara Merdeka; maupun membentuk sebuah Tim Perumus Penyusunan Rancangan Undang-undang Masyarakat Hukum Adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara khusus saya mengingatkan para peserta, bahwa walaupun nagari sudah lama  ada secara de facto, namun secara de iure nagari belum mempunyai legal standing  sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang dilindungi oleh Pasal 18 B ayat (2) dan     Pasal 28 I ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, oleh karena menurut Undang-undang Nomor  32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, dasar hukum untuk desa dan yang  sederajat harus berbentuk peraturan daerah kabupaten. Oleh karena itu, sekali lagi saya menganjurkan agar dibentuk peraturan daerah kabupaten sebagai dasar hukum eksistensi nagari, yang memungkinkannya untuk menjadi Pemohon untuk uji materil  pada Mahkamah Konstitusi berdasar Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003   Tentang Mahkamah Konstitusi, seandainya ada hak konstitusional masyarakat   hukum adat yang dilanggar oleh undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam tanya jawab, seorang peserta menanyakan masalah -- yang selama ini telah menjadi wacana kita di Rantau Net – yaitu masalah posisi anak pisang dalam harta pusaka. Sudah barang tentu tidak ada masalah pusako antara anak pisang dengan  induak bakonya. Hubungan yang ada hanyalah hubungan darah melalui nasab Ayahnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan ini saya manfaatkan untuk memberikan informasi kepada para peserta tentang perlunya digunakan “Ranji ABS SBK’, yang berpedoman kepada fatwa Buya Masoed Abidin, bahwa orang Minang bersuku ke Ibu, bernasab ke Bapak, dan      bersako ke Mamak.    Ranji menurut garis matrilineal digunakan dalam masalah sako dan pusako, sedang ranji patrilineal berdasar nasab menurut ajaran Islam digunakan untuk menelusuri  hubungan darah, yang perlu dalam masalah kelahiran, pernikahan, serta kematian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seingat saya, baru kali ini LKAAM Sumbar melaksanakan Bimbingan Teknis dengan peserta dan pembicara dengan cakupan yang seluas dan sedalam itu. Bimbingan Teknis ini merupakan langkah pro aktif untuk menangani masalah riil yang dihadapi dalam masyarakat di Sumatera Barat, yang bertujuan menciptakan sinergi kelembagaan antara antara ninik mamak pemangku adat dengan pemerintah dan lembaga penegak hukum lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mendapat kesan kuat, bahwa Bimbingan Teknis oleh LKAAM Sumbar ini merupakan babak baru dalam pembinaan hukum adat dan masyarakat hukum adat di Sumatera Barat, yang tidak lagi [selalu] menoleh ke belakang, tetapi berorientasi ke depan; tidak lagi tertutup tetapi mulai terbuka; tidak lagi berbunga-bunga tetapi lugas; tidak lagi bersifat parokial-lokal tetapi sudah menempatkan diri dalam konteks nasional; tidak lagi reaktif tetapi pro-aktif. Syukur Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Saafroedin Bahar&lt;br /&gt;(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo)&lt;br /&gt;"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak".&lt;br /&gt;Alternate e-mail address: saaf10leo@gmail.com;&lt;br /&gt;saafroedin.bahar@rantaunet.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-340729867858671199?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/340729867858671199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=340729867858671199' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/340729867858671199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/340729867858671199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/02/saafruddin-bahar-tentang-pertemuan.html' title='Saafruddin Bahar, tentang Pertemuan LKAAM Sumbar'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-7943059440580196155</id><published>2009-02-18T01:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T02:53:35.333-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suryadi'/><title type='text'>Minangkabau atau MANICABO</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Batanyo ciek ka rang nan pandai,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baa kok dalam buku2 catatan urang Eropa nan tuo2, nan baumua 450 tahun ka ateh, namo Minangkabau ko ditulih MANICABO? Liek misalnyo buku Issac Camelin nan ditabik'an tahun 1646 nan judulnyo sampanjang tali baruak:&lt;span style="font-style:italic;"&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Begin ende voorthgangh, van der Vereenighde Nederlantsche Oost-Indische Compagnie: vervatende de voornaemnste reysen, by de inwoonderen der selver provincien derwaerts gedaen: alles  nevens de beschrijvinghen der rijken eylanden, havenen, revieren, stroomen, rheeden, inden, diepten en ondiepten: mitsgaders religien, manieren, aerdt, politie ende regeeringhe der volckeren: ook meede haarder speceryen, drooghen, geldt ende andere koopmanschappen met veele discoursen verrijckt: nevens eenige koopere platen verciert: nut ende dienstigh alle curieuse, ende de andere zee-varende liefhebbers &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(Amsterdam: jan Janzsz). &lt;br /&gt;Apokoh suku kato -CABO tu ado hubungannyo jo (urang) KUBU kini?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam,&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SZvSoXIAhjI/AAAAAAAADsE/-PrGYb7ues8/s1600-h/Kolom-Suryadi-a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 193px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SZvSoXIAhjI/AAAAAAAADsE/-PrGYb7ues8/s400/Kolom-Suryadi-a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304064577003095602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Balasan untuak :&lt;br /&gt;Ass.Wr.Wb Bapak Dr.Phil. Suryadi yth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Par-tamo2 ambo bukan urang pandai doo!!!!&lt;br /&gt;Tapi ambo cubo manjawab partanyoana  Bapak Suryadi Ph.D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandapek ambo bunyi dari phonetiknyo &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CABO&lt;/span&gt; iko dari  bhs Portugih artinyo kiro2 semenanjung,tanjung, awal/kaki dari Pagunuangan.&lt;br /&gt;Dek nan mulo2 mandapek Nusantara iko kan urang Portugih, (kato Urang Eropa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubu, dari bahaso melaju iko asa katonyo benteng , Exonym URANG KUBU, urang asli, Sakai, Akit, Talang, Tapung, Orang Utan, Orang Rawas, Lubu, Ulu, Rawas, Duwablas, Mountain Kubus, and Benua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sakitusen dulu P'Doktor Phil. Suryadi&lt;br /&gt;Mudah2an pandapek ambo bisa dianggok batua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Muljadi,German&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-7943059440580196155?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/7943059440580196155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=7943059440580196155' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7943059440580196155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7943059440580196155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/02/minangkabau-atau-manicabo.html' title='Minangkabau atau MANICABO'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SZvSoXIAhjI/AAAAAAAADsE/-PrGYb7ues8/s72-c/Kolom-Suryadi-a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-786013455153077213</id><published>2009-02-15T17:41:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T17:42:19.951-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garinyiek Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Menhir Matur</title><content type='html'>Menhir Matur Dibersihkan, Dispar dan Purbakala Sumbar Tinjau Situs Bersejarah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 16 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agam, Padek—Begitu mengetahi kondisi keberadaan sejumlah batu  purbakala dan memiliki nilai sejarah di jorong Batu Baselo Matur  Hilir Agam, Dinas Pariwisata bersama lembaga Purbakala Sumatera  Barat turun ke lokasi melihat dari dekat kondisi situs tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam waktu dekat kawasan tersebut akan didata dan diteliti, untuk melihat nilai sejarah yang ada di daerah tadi. Sebelumnya keberadaan situs batu purbakala yang diperkirakan sejenis menhir telah diketahui warga sejak puluhan tahun lalu, sehingga masyarakat jorong Batu Baselo kenagarian Matur Hilir melakukan gotong royong masal membersihkan cagar budaya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wali Jorong Batu Baselo, Doni Eka Putera dan Wali Nagari  Matur Hilir, keberadaan lusinan batu berbentuk menhir yang sangat mirip dengan batu undakan tempat duduk baselo (bersila), merupakan cikal bakal awal kenapa daerah tersebut bernama Batu  Baselo. Di lokasi situs tersebut diperkirakan dahulunya nenek moyang warga Matur Hilir dan sekitarnya bertemu dan merembukkan kegiatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wali Nagari Matur Hilir, diperkirakan menhir tersebut tidak hanya terdapat pada satu kawasan saja, namun diperkirakan masih ada dan tersebar pada radius 500 meter hingga 1 kilometer dari jorong Batu Baselo. Karena banyak temuan batu lainnya disekitar pemukiman masyarakat, yang diperkirakan saling berhubungan dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sangat yakin batu yang terdiri dari berbagai bentuk, seperti kursi, meja pipih, tempat hantaran (sesajian) atau berupa lasuang  dan nisan panjang berkaitan dengan budaya. Apalagi karena jorong  ini dinamakan Batu Baselo dan banyak ditemukan batu seperti tempat berkumpul orang duduk baselo, maka temuan ini harus dilestarikan,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menhir merupakan tugu batu yang digunakan oleh masyarakat zaman  batu pertengahan untuk melakukan sesembahan. Tugu batu tersebut  ditemukan di jorong Batu Baselo Matur Hilir, berupa beberapa menhir yang terkumpul di salah saru kawasan. Tumpukan batu aneka  bentuk ini dipercaya sebagai menhir oleh warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga bergotong royong untuk membersihkan situs sejarah yang telah tertimbun tanah tersebut, Sabtu (7/2) lalu. Selain tugu batu di jorong Batu Baselo, juga terdapat batu yang  bentuknya seperti orang bersila. Namun hingga saat ini warga belum menemukan batu bersila yang diduga adalah arca tersebut, tapi mereka masih meneruskan pencarian batu bersila yang menjadi asal usul nama jorong mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 500 meter dari tempat tersebut, tepatnya di Sungai Batang Matua jorong Aia Sumpu juga ditemukan batu dengan pahatan serupa, namun berbeda ukuran. Batu ini tidak lagi tertata rapi, karena sepintas tidak ada yang bisa menduga kalau batu ini memiliki pahatan yang hampir sama satu sama lain. Tapi jika diperhatikan lebih seksama, batu tersebut memiliki bentuk yang identik satu sama lain. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.padangekspres.co.id/content/view/30711/106/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-786013455153077213?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/786013455153077213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=786013455153077213' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/786013455153077213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/786013455153077213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/02/menhir-matur.html' title='Menhir Matur'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-4618596713402620949</id><published>2009-02-05T20:04:00.001-08:00</published><updated>2009-02-05T20:04:52.971-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garinyiek Minangkabau'/><title type='text'>Sia ka ganti Gamawan ko ?</title><content type='html'>Putra Terbaik Belum Dipilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan Pemimpin di Indonesia Berbiaya Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 6 Februari 2009 | 00:05 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, Kompas - Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengatakan, putra bangsa yang mempunyai kualitas terbaik belum tentu terpilih sebagai pemimpin bangsa ini. Hal itu disebabkan oleh sistem pemilihan pemimpin yang belum mengakomodasi mereka yang di luar partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Putra bangsa yang terbaik belum tentu yang terpilih. Diharapkan, (putra bangsa) yang terpilih menjadi yang terbaik. Kalau konsep yang terjadi di bangsa ini, bisa saja tokoh-tokoh yang lahir, tetapi tidak mempunyai fasilitas, akses, maupun dukungan lain, tidak akan muncul dan terlihat di kancah nasional,” kata Gamawan seusai menghadiri Milad Ke-62 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kamis (5/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gamawan, perlu ada desain ulang sistem penjaringan putra terbaik di Indonesia. Kalau ada tokoh-tokoh berkualitas yang muncul, perlu dibiayai negara untuk ikut berkampanye sebagai calon pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, kata Gamawan, diperlukan sejumlah indikator guna menentukan tokoh yang berkualitas sebagai pemimpin bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, partai juga harus ikhlas menerima bila ada tokoh di luar partai yang berkualitas dalam memimpin bangsa ini. Seleksi tokoh yang berkualitas juga bisa berasal dari sejumlah organisasi masyarakat (ormas) seperti HMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sumatera Barat, Gamawan mengaku menghadiri beberapa acara yang diadakan sejumlah ormas dalam rangka menjaring putra terbaik di Sumatera Barat yang bisa diusulkan untuk meneruskan tongkat kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kepemimpinan Gamawan akan berakhir tahun 2010. Kendati baru menjabat satu kali, Gamawan mengaku enggan mencalonkan kembali sebagai gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengaku enggan ikut maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, presidium Korps Alumni HMI Prof Nanad Fatah Natsir menilai, sistem pemilihan legislatif dan presiden di Indonesia masih membutuhkan biaya tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik berbiaya tinggi yang terjadi saat ini, dinilai Nanad, tidak akan melahirkan pemimpin yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik modal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang mendapatkan jabatan akan terfokus pada upaya pengembalian uang yang telah dikeluarkan selama proses pemilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau ini terjadi terus-menerus, itu bisa terjadi kebangkrutan bangsa. Karena itu, persoalan kaderisasi kepemimpinan harus segera diselesaikan,” kata Nanad seusai acara pelantikan presidium Korps Alumni HMI di Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencontohkan, kebutuhan dana calon bupati di Pulau Jawa dalam proses pencalonan mencapai Rp 15 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah duduk sebagai bupati, gaji yang diterima tidak akan mencukupi untuk mengembalikan modal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, segala kebijakan yang ditelurkan bupati akan terfokus pada pengembalian dana kampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan merosot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanad juga menyebutkan, selama ini merosotnya kepercayaan publik kepada lembaga legislatif terjadi lantaran kebijakan yang dihasilkan tidak berpihak kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berharap sistem pemilihan pemimpin bisa segera disempurnakan untuk mendapatkan pemimpin berkualitas sehingga mampu menyejahterakan masyarakat. (ART)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-4618596713402620949?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/4618596713402620949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=4618596713402620949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/4618596713402620949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/4618596713402620949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/02/sia-ka-ganti-gamawan-ko.html' title='Sia ka ganti Gamawan ko ?'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-8110666520219631772</id><published>2009-02-05T01:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T01:15:51.439-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><title type='text'>Tapal Batas antar Kabupaten Tanah Datar</title><content type='html'>Singgalang Online, Rabu, 04 February 2009&lt;br /&gt;Padang Panjang ‘Serobot’ Tanah Datar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batusangkar, Singgalang&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Datar menyatakan kesiapannya untuk membuat komitmen dan melakukan perundingan dengan Pemko Padang Panjang. Perundingan itu diperlukan guna menetapkan tapal batas dan menghindari tindakan sepihak dan penyerobotan teritorial yang akan dapat melahirkan persoalan hukum di kemudian hari.&lt;br /&gt;Demikian dikatakan Kepala Bagian Tata Pemerintahan (Tapem) Setdakab Tanah Datar, Drs. H. Armen Yudi, M.Si, menjawab Singgalang, Rabu (4/2), terkait dengan terbukanya peluang konflik perbatasan dan tidak adanya kepastikan peta yang digunakan antara Tanah Datar dan Padang Panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perkembangan Kota Padang Panjang tidak bisa dilepaskan dari peran dua kecamatan yang menjadi etalase Tanah Datar serta berbatasan langsung, yakni Kecamatan X Koto dan Kecamatan Batipuh. Warga yang berasal dari Tanah Datar itu sesungguhnya secara kultural telah menyatu dengan Padang Panjang, namun secara administrasi pemerintahan  harus ada ketegasan patokan batas wilayah. Apalagi secara historis, Padang Panjang adalah sebuah nagari yang pernah berada dalam lingkup X Koto,” terang Armen.&lt;br /&gt;Menurut dia, berbicara soal tapal batas antara Tanah Datar dengan Padang Panjang, sesungguhnya mengandung banyak persoalan-persoalan yang cukup sensitif. Itu pulalah sebabnya, Armen mengaku selaku membuka diri membuat komitmen bersama dengan Pemko Padang Panjang untuk penyelesaiannya. Tanah Datar, tegasnya, mustahil akan ‘menyerobot’ teritorial Padang Panjang. Alasannya, hubungan kedua daerah diibaratkan hubungan ayah dengan anak. “Tak mungkinlah ayah akan menyerobot harta anak. Tapi kalau harta ayah yang digasak anak, itu sudah lumrah dan sering terjadi,” ucapnya diplomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran menganut filosofis hubungan ayah dengan anak itu pulalah, hingga kini Pemkab Tanah Datar tak ingin mendesak Pemko Padang Panjang terkait dengan penyelesaian perbatasan tersebut, akan tetapi cenderung menunggu inisiatif dan niat baik dari sang anak itu sendiri.&lt;br /&gt;Armen sendiri mengaku, bila Pemko Padang Panjang punya komitmen untuk menyelesaikannya tahun ini juga, Pemkab Tanah Datar siap. Bahkan, dana Rp100 juta yang dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tanah Datar Tahun 2009 untuk menyelesaikan persoalan-persoalan perbatasan Tanah Datar dengan daerah-daerah tetangga, bisa dialihkan untuk menyelesaikan masalah batas Tanah Datar dengan Padang Panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beda dengan daerah-daerah lainnya di Sumatra Barat. Kota Padang Panjang dikelilingi Kabupaten Tanah Datar. Tak ada kota atau kabupaten lain yang berbatasan dengan Padang Panjang kecuali Tanah Datar. Itu artinya, lawan berunding Padang Panjang hanya satu, tidak serumit masalah yang dihadapi Tanah Datar sendiri. Wajar kalau niat baik mereka kami nanti-nanti,” tekan Armen.&lt;br /&gt;Dikatakan, saat ini tiga kecamatan di Tanah Datar telah masuk ke dalam wilayah hukum Padang Panjang, yakni Batipuh Selatan, Batipuh dan X Koto. Fakta demikian dapat dilihat dari wilayah kerja Polres Padang Panjang, Pengadilan Agama Padang Panjang dan Pengadilan Negeri Padang Panjang. Namun, tegasnya, ketiga kecamatan tersebut tetap berada dalam wilayah administratif Tanah Datar. Persoalan itulah, kata Armen, yang harus segera dibereskan agar tidak jadi permasalahan di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemkab Tanah Datar telah berhasil menyelesaikan tapal batasnya dengan Kabupaten Agam dan Kabupaten Limapuluh Kota.. Sementara perbatasan dengan Kabupaten Solok, Sijunjung, Padang Pariaman, Kota Sawahlunto dan Padang Panjang hingga kini baru para tahap menunggu komitmen bersama dan pembicaraan-pembicaraan tahap awal, belum jelas kapan tercapainya kata sepakat dan pemancangan tapal batas itu. o006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-8110666520219631772?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/8110666520219631772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=8110666520219631772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/8110666520219631772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/8110666520219631772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/02/tapal-batas-antar-kabupaten-tanah-datar.html' title='Tapal Batas antar Kabupaten Tanah Datar'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-4787861788747124917</id><published>2009-02-02T21:08:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T21:13:22.845-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pornografi'/><title type='text'>Pornografi dalam kajian Sosial oleh Wahyu Wicaksono</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Selasa, 3 Februari 2009 | 00:32 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAHYU WICAKSONO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Frans H Winarta (Kompas, 23/1/2009) menarik untuk ditanggapi. Tulisan ini menyoroti sikap atas seksualitas masyarakat Indonesia dari sudut sejarah dan budaya yang bersumber dari studi Utomo (2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi Utomo perlu dipaparkan kembali agar pihak yang pro dan kontra terhadap Undang-Undang Pornografi mendapat gambaran sikap atas seksualitas pada budaya masyarakat Indonesia secara proporsional melalui pendekatan sejarah dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pornografi-pornoaksi dan seksualitas ibarat dua sisi dari satu koin. Di satu sisi, norma dan nilai yang dilekatkan pada individu (aspek rekreasi) yang bersifat spesifik secara sejarah dan budaya. Sisi lain, sifat alamiah manusia (fungsi biologis-prokreasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap masyarakat Indonesia terbuka terhadap seksualitas yang mempunyai akar sosiokultural yang berubah dari waktu ke waktu. Setidaknya, hal ini bisa dilihat jejaknya dari Kakawin Arjunawiwaha (Mpu Tantular) dan Serat Centhini (Paku Buwono V). Kedua karya besar itu eksplisit menunjukkan secara terbuka karena aktivitas seksual dipandang sebagai hal alami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Awal konservatisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Supomo, pandangan konservatif terhadap seksualitas dibentuk oleh pengaruh ajaran Islam saat itu dan sistem pendidikan Belanda yang diliputi semangat viktorian. Ini terbukti dengan munculnya literatur yang semakin konservatif sepanjang abad ke-19 karena para penulisnya mengikuti sistem pendidikan Belanda.&lt;br /&gt;Akibatnya, masyarakat kelas menengah atas cenderung bersikap lebih konservatif daripada masyarakat pedesaan yang tidak mengenyam sekolah. Pendapat ini selaras dengan pendapat Hull yang menyatakan moralitas ”tradisional” yang menyalahkan hubungan seksual pranikah lebih dipengaruhi moralitas impor dari kolonialisme Belanda ketimbang pola sosial tradisional Melayu- Polinesia. Pendapat ini diperjelas Reid yang menunjukkan, sebelum abad ke-16, pandangan seksualitas orang Indonesia-Asia Tenggara lebih kendur atau bebas ketimbang bangsa Barat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbedaan sikap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sikap kontra sehubungan dengan diundangkannya UU Pornografi yang terjadi di Provinsi Bali dan Sulawesi Utara dapat dipahami melalui sudut pandang sejarah. Penelitian Schurhammer membuktikan, di Sulawesi Utara pada masa pra-Islam, perzinahan dengan perempuan yang belum menikah diperbolehkan, tetapi jika perzinahan dilakukan dengan perempuan yang telah terikat perkawinan, dikenai hukuman mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di Bali, Hirschfeld menemukan, hampir semuanya, tanpa kecuali, perempuan dewasa dan remaja bertelanjang dada sampai pusar, sedangkan perempuan kecil telanjang bulat. Mereka dengan bangga menunjukkan keindahan dada. Dr Kruse, dokter berwarga negara Jerman yang lama berpraktik di Bali, menuliskan dalam bukunya, hanya pelacur yang menutup dada mereka untuk membangkitkan rasa penasaran dan memikat laki-laki meski pendapat ini perlu diuji kebenarannya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Budaya petani Minangkabau menempatkan suami dalam posisi dipelihara oleh perempuan. Suami tinggal di luar rumah dan sekali-kali digunakan untuk kepentingan hubungan seks. Posisi ini lalu dianggap para suami sebagai posisi individu yang tidak memiliki harga diri dan mendorong mereka bermigrasi ke Indochina mencari pekerjaan dan kondisi hidup yang lebih baik.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kerajaan Jawa (Vorstenlanden), seorang sunan hidup di istana yang menguasai 450 perempuan, dengan hanya 34 yang dijadikan sebagai istri. Sisanya adalah penari dan pelayan yang, jika diinginkan raja, harus siap menjadi selir.&lt;br /&gt;Selain karya literatur dan aktivitas seksual, keterbukaan sikap terhadap seksualitas juga terlihat dari kesenian tradisional masyarakat yang masih bisa disaksikan saat ini. Tayub, ronggeng, dombret, dan jaipong, di mana gerakan-gerakan erotis yang mengeksploitasi pinggul, dada, dan pantat jelas terlihat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Benturan nilai&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan sikap terhadap seksualitas di berbagai budaya di Indonesia tidak bisa disatukan menjadi kesamaan sikap. Sikap budaya yang terbuka terhadap seksualitas sebagai hal alamiah sudah lama dipraktikkan dan mustahil dihapus jejaknya.&lt;br /&gt;Benturan dengan nilai dan norma ”baru” yang datang kemudian, yaitu pandangan Islam dan agama-agama lain, serta sistem pendidikan Belanda baru terjadi ”kemarin sore”. Ini akan memunculkan dua kubu yang berhadapan, seperti terjadi saat ini. Resistensi pasti terjadi di satu sisi, sementara keinginan untuk ”menyucikan” budaya juga terjadi di sisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua domain akan sibuk mendefinisikan pengertian pornografi-pornoaksi yang pada dasarnya tidak akan mudah (untuk tidak mengatakan tidak pernah bisa) karena landasan pijak yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ada atau tidak ada UU Pornografi, sexual misconduct dalam bentuk apa pun akan tetap dan akan terus terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi, tergantung dari individu yang memberi nilai, norma, dan pengertian yang dimiliki. Serahkan manajemen tubuh berikut persepsinya pada kesadaran diri individu masing- masing, bukan tekanan, keharusan, dan hukuman dari luar.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAHYU WICAKSONO Psikolog Sosial&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-4787861788747124917?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/4787861788747124917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=4787861788747124917' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/4787861788747124917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/4787861788747124917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/02/pornografi-dalam-kajian-sosial-oleh.html' title='Pornografi dalam kajian Sosial oleh Wahyu Wicaksono'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-595683613407238104</id><published>2009-02-02T21:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T21:07:26.613-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tan Malaka'/><title type='text'>Tan Malaka</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Diyakini 90 Persen, Makam Tan Malaka Akan Digali Maret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PadangKini.com | Senin, 2/2/2009, 10:10 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADANG--Makam pahlawan nasional asal Minangkabau, Tan Malaka atau Ibrahim bin Rasad gelar Datuak Tan Malaka, yang diduga berada di Desa Selopanggung, Jawa Timur, akan digali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarsyah, suami Aina Zarni, kemenakan Tan Malaka, mewakili keluarga besar Tan Malaka mengatakan, penggalian akan dilakukan sekitar bulan Maret atau April.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami menunggu izin tertulis dari Kementerian Sosial, kalau izin secara lisan dari Pak Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah sudah," kata Ibarsyah yang dikontak, Senin (2/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibarsyah, keyakinan makam Tan Malaka di Selopanggung 90 persen. Untuk memastikan itu makam akan digali dan kerangka akan dites DNA dan dicocokkan dengan pihak keluarga ayah dan ibu Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau benar itu makam Tan Malaka maka rencananya makam tersebut akan tetap di Selopanggung, hanya akan dipindahkan sekitar 200 meter lebih ke atas, karena tempat makam sekarang di lembah dan di pemakaman umum, kalau mau dipugar nanti takut makam lainnya terganggu," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibarsyah, warga Selopanggung sangat antusias dan mendukung agar kuburan Tan Malaka tetap di Selopanggung. Bahkan, katanya, kepala desa Selopanggung juga akan membantu jika nanti butuh pembebasan lahan untuk makam baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penggalian makam Tan Malaka, Panitia Peringatan 112 Tahun Tan Malaka akan meluncurkan buku terjemahan dari karangan Profesor Harry A Poeze tentang Tan Malaka. (yanti/s)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://padangkini.com/headline.php?sub=berita&amp;id=3307&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah Acara Disiapkan Peringati 112 Tahun Kelahiran Tan Malaka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PadangKini.com | Minggu, 1/2/2009, 19:07 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADANG--Sejumlah acara disiapkan memperingati 112 tahun (1897-2009) kelahiran tokoh nasional legendaris asal Minangkabau, Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang disampaikan Panitia Peringatan 112 Tahun Tan Malaka menyebutkan, ada tiga agenda kegiatan dalam rangka peringatan Tan Malaka yang dilahirkan 1897 dan hilang atau tewas pada 19 Februari 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda itu pencarian dan penggalian dugaan makan Tan Malaka di Selopanggung, Jawa Timur, penerbitan buku kenangan  dari sejumlah tokoh sezaman dan ahli yang belum pernah diterbitkan, dan pembuatan film dokumenter tentang Tan Malaka berjudul "Ironi Ketiga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian dan penggalian makam yang diduga sebagai makam Tan Malaka di Selopanggung didukung sejarawan Universitas Leiden, Belanda, Profesor Harry A Poeze, tim ahli arkeologi, dan Departemen Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya setelah makam digali, tulang-belulang akan dicocokkan dengan Zulfikar, keponakan kandung Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan penerbitan buku kenang-kenangan yang akan diterbitkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Tan Malaka berisi artikel-artikel dari tokoh atau pemimpin yang hidup sezaman dengan Tan Malaka yang belum diterbitkan, ditambah tulisan para ahli berbagai bidang, serta aktivis dan simpatisan. (s)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;http://padangkini.com/headline.php?sub=berita&amp;id=3303&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-595683613407238104?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/595683613407238104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=595683613407238104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/595683613407238104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/595683613407238104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/02/tan-malaka.html' title='Tan Malaka'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-5048281742288793431</id><published>2009-01-27T17:56:00.000-08:00</published><updated>2009-01-27T18:36:57.132-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kimpilasi Nilai keminangkabauan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ABSSBK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garinyiek Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buya Masoed Abidin'/><title type='text'>Penjelasan filosofi ABS-SBK</title><content type='html'>PENJELASAN FILOSOFI, &lt;br /&gt;PENJABARAN DAN  IMPLEMENTASI&lt;br /&gt;ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt; Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan landasan dari sistem nilai pandangan hidup yang menjadikan Islam sebagai sumber utama dalam tata dan pola perilaku yang melembaga dalam masyarakat Minangkabau. Artinya, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah kerangka untuk  memahami keberadaan insan Minangkabau sebagai khalifah Allah di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Minangkabau sadar akan adanya pergeseran sistem nilai dan pola perilaku, sehingga Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah perlu digali, dihayati  dan diamalkan dalam kehidupan sebagai salah satu ikhtiar mempertebal semangat kebangsaan dalam tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan  dalam pergaulan dunia. &lt;br /&gt;Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi  Kitabullah yang menjadi sumber pencerahan bagi kebangkitan manusia Minangkabau berasal dari titik temu perpaduan antara sistem nilai adat dengan agama Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka masyarakat Minangkabau menggali kembali nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai sumber pencerahan kebangkitan manusia Minangkabau dalam menghadapi masa depan yang penuh kompetisi yang dinamis antar bangsa, sehingga menciptakan alur perjalanan bangsa yang tidak linier. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistematika penggalian nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah kita rangkai dalam sub bab tentang: Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,  Ilahiyah dan Insaniyah, Insan Minangkabau, Pola Interaksi Masyarakat Minangkau, dan Pelembagaan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. FILOSOFI ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH&lt;br /&gt;Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah kerangka  pandangan hidup orang Minangkabau yang memberi makna hubungan antara manusia, Allah Maha Pencipta dan alam semesta. Sesungguhnya Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai konsep nilai, yang kini menjadi jati diri orang Minangkabau, lahir dari kesadaran sejarah masyarakatnya melalui proses pergulatan yang panjang. Semenjak masuknya Islam ke dalam kehidupan masyarakat Minangkabau terjadi titik temu dan perpaduan antara ajaran adat dengan Islam sebagai sebuah sistem nilai dan norma dalam kebudayaan Minangkabau yang melahirkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bertujuan untuk memperjelas kembali jati diri etnis Minangkabau sebagai sumber harapan dan kekuatan yang menggerakkan ruang lingkup kehidupan  dan tolok ukur untuk melihat dunia Minangkabau dari ranah kehidupan berbangsa dan bernegara, dan dalam pergaulan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam masuk ke Minangkabau mendapati suatu kawasan yang tertata  rapi dengan apa yang disebut “adat”, yang mengatur segala bidang kehidupan manusia dan menuntut masyarakatnya untuk terikat dan tunduk kepada tatanan adat tersebut. Landasan pembentukan adat adalah “budi” yang diikuti dengan akal, ilmu, alur dan patut sebagai adalah alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Islam membawa tatanan apa yang harus diyakini oleh umat yang disebut aqidah dan tatanan apa yang harus diamalkan yang disebut syariah atau syarak. Syariat Islam lahir dari keyakinan Iman, Islam, Hakikat dan Makrifat serta tauhid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adat dipahami orang Minangkabau sebagai suatu kebiasaan yang mengatur hubungan sosial yang dinamis dalam suatu komunitas, (seperti suku, kampung, dan nagari).  Adat dipahami juga sebagai ujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai budaya, norma, hukum dan aturan yang satu sama lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah sistem nilai dan norma, adat mempengaruhi perilaku individu dan masyarakat yang mewujudkan pola perilaku ideal.  Dengan kemampuan dan kearifan, orang Minangkabau membaca setiap gerak perubahan yang akhirnya antara Adat dan Islam saling topang menopang seperti, “aur dengan tebing” membentuk sebuah konfigurasi kebudayaan Minangkabau. Titik temu antara Adat dan Islam, dapat dilacak melalui pandangan “teologis” terhadap alam semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses perenungan dan penghayatan terhadap unsur-unsur kehidupan yang berpijak pada kemampuan dan intensitas pembacaan orang Minang terhadap alam. Alam adalah segala-galanya bagi mereka. Dari alam mereka belajar, berguru, memperbaharui diri, dan lewat alam pula mereka menemukan inspirasi dan kekuatan hidup. Banyak ayat-ayat Tuhan mengenai alam, khusus ayat-ayat kauniyah, yang diperuntukkan bagi manusia sehingga melalui alam manusia dapat menemukan dirinya dan Sang Khaliqnya. Alam dipahami sebagai tempat lahir, tumbuh dan mencari kehidupan. Tetapi juga bermakna sebagai kosmos yang memiliki nilai dan makna filosofis. Pandangan orang Minangkabau terhadap alam terlihat dalam ajaran; pandangan dunia (world view) dan pandangan hidup (way of life) yang seringkali mereka tuangkan melalui pepatah, petitih, mamangan, petuah, yang diserap dari bentuk, sifat, dan kehidupan alam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nilai dasar dari Adat Bersendi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah nilai ilahiyah dan insaniyah yang mendapat legitimasi dari Adat dan Islam sebagai rujukannya. Nilai-nilai ilahiyah muncul dari proses pembacaan atas semesta “Alam Takambang Jadi Guru”. Allah, melalui penciptaan alam semesta memperlihatkan Kekuasaan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam dengan segala isinya memperlihatkan tanda-tanda akan diri-Nya agar insan sampai pengenalan kepada Allah yang telah menciptakan dirinya. “Seseorang baru bisa sampai mengenal Allah, apabila ia mampu membaca dan memahami “dirinya”. Proses pembacaan terhadap alam dan diri merupakan salah satu metode yang mengantarkan insan pada kesadaran akan hubungan dirinya dengan Allah, yang menciptakannya. Dalam tradisi orang Minangkabau yang mengajarkan alam semesta dengan segala isinya menjadi guru yang membimbing mereka memahami dirinya dan mencari sumber kekuatan dalam hidup. Ini merupakan  sumbangan adat Minangkabau dalam falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” cermin hubungan manusia  dengan Allah Tuhan Maha Pencipta dan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teologis kekuatan ilahiyah berporos pada Sang Khalik. Dalam kehidupan kekuatan ilahiyah berperan sebagai pengembangan dan pemeliharan kualitas insaniyah melalui amal shaleh pancaran dari keimanan seseorang.  Dalam sistem Adat, semua nilai bertumpu pada kekuatan budi sebagai landasan perilaku dan perbuatan. Menurut pandangan Adat Minangkabau, semua tindakan dan kerja sosial diarahkan untuk peningkatan dan pengayaan kualitas diri untuk mendorong setiap individu dan masyarakat agar selalu mempertinggi, memperkuat dan memelihara harkat dan martabat kemanusiaan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kekuatan nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah sebagai landasan nilai Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai patokan dalam kehidupan bermasyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Prinsip kebenaran, merupakan nilai dasar yang mutlak dalam pergaulan umat manusia pancaran dari hakikat “tawhid” dan menjadi ‘modal dasar’ dalam setiap jiwa insan sebagai khalifah-Nya. Tawhid atau jiwa ketuhanan adalah konsep penghambaan  dari pembebasan manusia dengan Allah. &lt;br /&gt;Kebenaran adalah nilai dasar tempat berpijak, bergerak dan berakhirnya semua kehidupan. Watak dasar insan yang hanif menuntun mereka untuk selalu berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran, melakukan yang benar dan mengarahkan semua kerja sosialnya pada kebenaran itu sendiri. Bagi orang Minang kebenaran merupakan sebuah usaha untuk menciptakan tatanan yang adil dalam kehidupan masyarakat.” Orientasi hidup pada kebenaran lahir dari kesepakatan dan pengakuan bahwa setiap manusia memiliki hak dasar yang sama yang menjadi pilar dari segala aktivitas kemanusiaan. Segala kebijakan, keputusan dan kehidupan sosial harus berdasarkan pada kebenaran atau “nan bana. Kebenaran merupakan alas dari setiap produk sosial, politik, hukum, ekonomi, budaya, sekaligus menjadi harapan kehidupan yang berharkat dan bermartabat. Alurnya adalah “kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka nan bana. Nan ‘bana tagak dengan sendiri”  – Al haqqu mir-rrabik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prinsip keadilan adalah bagian yang menggerakkan kehidupan manusia. Tanpa keadilan kehidupan masyarakat akan selalu goyah. Dengan keadilan akan terjamin kehidupan masyarakat yang sejahtera. Dengan keadilan Minangkabau akan meraih kembali harkat dan martabatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsep adil adalah ciri taqwa, ajaran kemanusiaan yang harmonis yang didambakan oleh setiap manusia. Hakikat dari kebenaran, keadilan dan kebajikan penting bagi terciptanya kebangkitan Minangkabau. Prinsip kebenaran digerakkan oleh nilai-nilai kebajikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Prinsip kebajikan  akan lebih bermakna jika ditopang oleh prinsip kebenaran dan  prinsip keadilan yang  melahirkan kehidupan insan yang lebih bermakna.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Kebenaran, keadilan dan kebajikan merupakan “tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan”. Kebenaran menjadi landasan teologis atau nilai dasar, sedangkan keadilan merupakan nilai operasionalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga unsur ini merupakan perpaduan yang saling terkait dan terikat. Kebenaran tidak dapat berdiri sendiri tanpa ditopang nilai keadilan. Kebenaran dan keadilan akan bermakna apabila diikuti dengan nilai-nilai kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan menjadi pijakan dalam menerjemahkan nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai insaniyah. Dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah terkandung juga beberapa prinsip di antaranya: adab atau budi, kejujuran, kemandirian, etos kerja, keterbukaan, kesetaraan, berfikir dialektis, kearifan, visioner, saraso-tenggang manenggang, sahino-samalu, saiyo-sakato, sanasib sapananggungan, sopan santun, kerjasama dan tolong menolong, keberagaman, kebersamaan,  dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah juga terkandung prinsip dasar dan nilai operasional yang melembaga dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. adab dan budi, inti  dari ajaran adat Minangkabau, sebagai  pelaksanaan dari prinsip adat. “indak nan indah pado budi, indak nan elok dari baso” .Tidak ada yang indah dari pada budi dan baso basi. Yang dicari bukan emas, bukan pangkat, akan tetapi budi pekerti yang dihargai. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. kebersamaan, lahir dari hasil musyawarah  bulek aia ke pambuluah, bulek kato ka mufakat, yang dijabarkan “dalam senteang ba-bilai, singkek ba-uleh” sebagai pancaran iman kepada Allah swt. Di dalam masyarakat yang beradat dan beradab (madani) mempunyai semangat kebersamaam, sa-ciok bak ayam, sadancing bak basi”. Membangun kebersamaan dengan mengikutsertakan setiap unsur anggota masyarakat  di setiap  korong, kampung dan nagari di Minangkabau, sehingga semua yang dicita-citakan   tidak akan sulit diujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. keragaman masyarakat yang terdiri dari banyak suku  dan asal muasal dari berbagai ranah  bersatu dalam kaedah “hinggok mancakam, tabang basitumpu”, menyesuaikan dengan   lingkungan dan saling menghargai, dima bumi dipijak, disatu langit dijunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. kearifan, kemampuan menangkap perubahan yang terjadi, sakali aia gadang, sakali tapian baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim batuka,” Perubahan tidak mengganti sifat adat. Perubahan adalah sunatullah. Setiap usaha untuk mencari jalan keluar dari problematika perubahan sosial, politik dan ekonomi menjauhkan fikiran  dengan menjauhkan dari hal yang tidak mungkin. Seorang yang arif tidak boleh melarikan diri dari perbedaan pendapat, karena pada hakekatnya perbedaan itu membuka peluang  untuk memilih yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. tanggungjawab sosial yang adil, seia sekata menjaga semangat gotong royong. Semua  dapat merasakan dan memikul tanggung jawab bersama pula. Saketek bari  bacacah, banyak bari baumpuak, Kalau tidak ada, sama-sama giat mencarinya, dan sama pula menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. keseimbangan antara  kehidupan rohani dan jasmani berujud dalam kemakmuran, Munjilih di tapi aia, mardeso di paruik kanyang.  Memerangi kemaksiatan, diawali dengan menghapus kemiskinan dan kemelaratan. Rumah gadang gajah maharam, lumbuang baririk di halaman, lambang kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. toleransi sesuai dengan pesan Rasulullah, bahwa sesungguhnya zaman berubah, masa berganti. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Minangkabau diarahkan kepada pandai hidup dengan jiwa toleran, Seorang yang arif tidak boleh melarikan diri dari perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat mendorong dan membuka peluang untuk memilih yang lebih baik di antara beberapa kemungkinan yang tersedia. (Hujarat ;13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. kesetaraan, timbul dari sikap bermusyawarah yang telah hidup subur dalam masyarakat Minangkabau.  Sejalan dengan itu diperlukan saling tolong menolong  dengan moral dan buah pikir dalam mempabanyak lawan baiyo (musyawarah),   melipat gandakan teman berunding. Sikap musyawarah membuka pintu berkah dari langit dan bumi. Kedudukan pemimpin, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. kerjasama mengutamakan  kepentingan orang banyak dengan sikap pemurah yang merupakan  sikap mental dan kejiwaan yang tercermin dalam mufakat. Mufakat bertujuan menegakkan kebenaran dengan pedoman tunggal, hidayah dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. sehina semalu, dasar untuk memahami persoalan berdasarkan atas masalah seseorang dengan bersama dan bersama dengan seseorang. Dalam adat Minangkabau sesuatu hal adalah sebagian dari keseluruhan, yang satu bersangkut paut dengan lainnya, semuanya topang menopang walau hal sekecil apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. tenggang rasa dan saling menghormati adalah inti dari fatwa adat tentang budi atau akhlaqul karimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. keterpaduan, saling meringankan dengan kesediaan memberikan dukungan dalam kehidupan. “barek sapikua, ringan sajinjiang”, Kerja baik dipersamakan dengan saling memberi tahu sanak saudara dan jiran. “Karajo baiak baimbauan, karajo buruak baambauan. Apabila musibah menimpa diri seseorang, maka tetangga serta merta menjenguk tanpa diundang.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Prinsip-prinsip tersebut merupakan prinsip operasional yang melembaga di dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau. Jiwa ilahiyah menjadi pendorong bagi tindakan sebagai makhluk Allah yang mempunyai tanggungjawab sebagai khalifah. Setiap kebijakan, keputusan dan tindakan berorientasi pada kebajikan dan kemashlahatan ummat; pengayom bagi yang kecil dan menjadi suluh bagi orang banyak. Jiwa insaniyah merupakan sebuah aksi kemanusiaan dalam melakukan transformasi sosial. Dalam kerangka inilah masyarakat Minangkabau ditempatkan dan berproses dengan amal saleh untuk  kemashalahatan umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai operasional menjadi kerangka acuan dalam menentukan arah dan corak kehidupan masyarakat Minangkabau. Sementara prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan menjadi semangat dan jiwa dalam segala tindakan, sikap dan watak orang Minangkabau. Watak dan sikap tersebut diungkapkan dalam ”hiduik baraka, mati bariman”. Hidup berakal bermakna tidak ada kehidupan yang dilalui tanpa pertimbangan akal. Ikatan antara ’raso’ -rasa- yang timbul dari ’pareso’ - hati nurani- melahirkan  ketajaman pikiran, keseimbangan hakiki yang ingin dicapai oleh insan Minangkabau dalam  mengembalikan harkat dan martabat melalui akal dan budi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari pandangan falsafah tersebut, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah rujukan dalam merumuskan berbagai kebijakan terhadap kelangsungan hidup orang Minangkabau yang beriman, beradat, berbudaya, berharkat dan bermartabat. Dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Minangkabau membangun menuju masa depannya yang tidak boleh tercerabut dari kearifan dan nilai dasar serta nilai operasional tersebut. Artinya dengan segala kearifan Minangkabau melangkah ke masa depannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  ILAHIYAH DAN INSANIYAH&lt;br /&gt;Nilai yang terkandung dalam Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, adalah gambaran kehidupan yang ideal terhampar dalam alam pikiran Minangkabau, kehidupan yang lahir dari “roh” ilahiyah dan insaniyah. Dengan ‘roh ilahiyah” menemukan makna kehidupannya, dan melalui semangat insaniyah segala aktivitas kemanusiaan bernilai amal shaleh. Dengan kekuatan kedua nilai tersebut orang Minangkabau membentuk dan mengembangkan kehidupan sosialnya yang utuh, terpadu dalam sebuah tatanan yang harmonis dan penuh dengan keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, Sang Khaliq dengan segala Iradah-Kehendak- dan Qudrat-Kuasanya-, telah mengalirkan sifat-sifat ketuhanan ke dalam diri manusia. Penitahan Tuhan kepada manusia sebagai khalifatullah di muka bumi menjadi bukti bahwa kehidupan manusia bertumpu pada Tuhan. Dalam kehidupan manusia, yang diridhai oleh Sang Khaliq,  amat diperlukan sebuah kesadaran kosmis bahwa ilahiyah adalah sesuatu yang melekat dalam dirinya. Dan, dalam hubungan ini sejatinya manusia, pemegang amanah sebagai khalifah, dituntut untuk senantiasa mencerminkan nilai-nilai ilahiyah dalam siklus kehidupan yang serba pendek ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai insaniyah merupakan mata air tempat mengalirnya nilai-nilai universal sebagai tenaga penggerak kehidupan. Kedua nilai tersebut  terpadu dalam diri manusia. Tidak satu pun dalil yang meniadakan kedua nilai ini dalam diri manusia, sebab manusia sebagai ciptaan Tuhan, sebenarnya terikat dengan segala sesuatu yang bersumber dan bermuara pada Allah Maha Pencipta. Dengan kata lain, jika manusia ingin memperlihatkan keberadaannya, maka ia selalu mempertahankan dirinya sebagai bagian dari struktur sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikinya, nilai ilahiyah dan insaniyah adalah kanal Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang memiliki muatan nilai-nilai kecil yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika kebenaran, keadilan dan kebajikan telah menjadi gagasan orang Minangkabau, maka nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah akan mendorong membebaskan manusia dari taghut (berhala) individualistik yang selama ini menggerogoti nilai-nilai kebersamaan, kesetaraan, dan toleransi dalam mengembangkan kehidupan masyarakat Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai ilahiyah lahir dari proses pembacaan dan pemaknaan orang Minangkabau atas semesta dalam falsafah “Alam Takambang Jadi Guru”. Tuhan melalui penciptaan semesta dengan segala isinya memperlihatkan tanda-tanda Kekuasaan-Nya. Akhirnya manusia yang mampu membaca dan memahami “dirinya” akan mengenal Allah, Tuhan yang telah menciptakan “dirinya”. Proses pembacaan terhadap alam dan diri merupakan salah satu metode yang mengantarkan kesadaran manusia mengenal Tuhannya. Dalam tradisi Minangkabau alam semesta dengan segala isinya menjadi guru yang membimbingnya memahami dirinya sekaligus mencari sumber kekuatan dalam hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara filosofis, dalam diri manusia mengalir “jiwa ketuhanan” yang menghubungkannya dengan Allah Maha Pencipta. Firman Tuhan dalam Surat Ar-Ruum ayat 30 yang menitahkan agar manusia menghadapkan dirinya kepada agama yang hanif, dan menyuruh manusia agar tetap pada fitrah Tuhan yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, menjadi isyarat tentang hubungan ini. Ayat ini, di samping menunjukkan  hubungan manusia dengan Tuhan, sementara nilai ilahiyah (fitrah) itu sendiri sesungguhnya berada dalam dirinya. Manusia akan tetap bergerak dalam dimensi ilahiyah melalui proses penghayatan secara terus menerus yang berujung pada pengembangan kualitas insaniyah manusia. Tawhid atau keimanan adalah poros segala dimensi ilahiyah, sementara manusia adalah pusat dari insaniyah itu sendiri. Perpaduan keduanya terlihat dalam aktivitas kemanusiaan -amal shaleh- yang merupakan ceminan dari keimanannya kepada Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roh ilahiyah merupakan hakikat tawhid dan menjadi ‘modal dasar’ dalam setiap jiwa manusia yang telah dititahkan Tuhan sebagai khalifah-Nya. Hanya Tuhan pusat penghambaan, dan seluruh aktifitas sebagai khalifah pun yang tidak terlepas dari rasa terikat  kepada Tuhan. Tawhid adalah konsep penghambaan dan pembebasan manusia dari segala bentuk kungkungan. Pembebasan bermakna, bagaimana jiwa ilahiyah menjadi pendorong bagi tindakan manusia sebagai mahluk Tuhan yang mempunyai tanggungjawab sebagai khalifah. Setiap kebijakan, keputusan dan tindakan harus berorientasi pada kebajikan dan kemashlahatan ummat manusia; pengayom bagi yang kecil dan menjadi suluh bagi orang banyak. Kesimpulannya ialah, jiwa insaniyah merupakan sebuah perjanjian aksi kemanusiaan untuk melakukan perubahan sosial. Dalam kerangka inilah manusia Minangkabau ditempatkan, bergerak dan berproses dalam kaedah nilai ilahiyah dan insaniyah yang berorientasi pada amal shaleh dan kemashalahatan umat yang akhinya tercapai keindahan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.  KEBENARAN, KEADILAN, KEBAJIKAN DAN KEINDAHAN&lt;br /&gt;Orang Minangkabau berada dalam kehidupannya  yang serbaberagam. Keragaman bermakna pilihan yang paling sadar dari masing-masing orang Minangkabau dalam menentukan hidup dan kehidupan mereka. Dalam keberagaman makna, pada hakikinya, sesunguhnya aliran kehidupan itu mengalun dengan semangat dan nilai yang sama antar satu dengan yang lainnya. Sesuai dengan khittahnya, manusia terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah adalah sebuah potensi dasar manusia yang selalu cenderung kepada kebenaran, keadilan dan kebajikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran sebagai nilai dasar (fundamental) tempat berpijak, bergerak dan berakhir semua kehidupan. Watak dasar manusia yang hanif menuntun manusia untuk selalu berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran, melakukan yang benar dan menentukan arah yang tepat semua kerja sosialnya. Bagi orang Minangkabau kebenaran merupakan sebuah keniscayaan untuk menciptakan tatanan yang adil dalam interaksi antar masyarakat. Kebenaran atau “nan bana” dalam konteks sosial bermakna bahwa segala kebijakan, keputusan dan siklus kehidupan sosial harus berlandaskan  pada kebenaran. Kebenaran merupakan alas dari setiap produk sosial; politik hukum, ekonomi, budaya, sekaligus menjadi harapan dan impian tentang kehidupan madani yang beriman, mandiri dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi hidup pada kebenaran yang diatur dalam bentuk kesepakatan dan kearifan yang mengakui manusia mempunyai hak yang sama. Pengakuan itu adalah hak dasar yang menjadi pilar dari segala aktivitas kemanusiaan. Kebenaran dalam prakteknya senantiasa ditopang oleh nilai-nilai keadilan dan nilai-nilai kebajikan. Kebenaran, keadilan, dan kebajikan adalah sesuatu yang terus menurus dicari, karena manusia sangat rindu akan tatanan yang adil dan dilaksanakan atas prinsip kebenaran yang digerakkan oleh nilai-nilai kebajikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan adalah sesuatu yang penting menopang kehidupan orang Minangkabau.  Keadilan menjadi mesin penggerak dunia Minangkabau  sebagai sebuah entitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang sesungguhnya, kebenaran merupakan sandaran keadilan. Orang selalu dituntut untuk selalu mentransformasikan suatu kebenaran, dan dengan kebenaran itu pulalah manusia menjalankan keadilan. Jika kebenaran menjadi jalan bagi keadilan, maka kebajikan adalah pakaian yang akan membuat perjalanan hidup lebih indah dan mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Adat maupun Islam selalu mengajarkan dan mendorong orang untuk melakukan kebajikan karena kebajikan merupakan hal yang esensial bagi kehidupan manusia, tanpa kebajikan sepenuhnya kehidupan tidak lagi bermakna. Bagi orang Minangkabau, kebajikan adalah cermin kehidupan yang akan mengantarkan hubungan sosial yang lebih integratif berbasis sumber daya manusia dan sumber daya alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai nilai dasar dari perpaduan yang terjadi antara Adat dengan Islam, kebenaran, keadilan, dan kebajikan akan melahirkan gugusan-gugusan nilai-nilai operasional struktur sosial dan kultural Minangkabau. Oleh karena itu penting menegaskan kembali hakikat dari kebenaran, keadilan dan kebajikan yang akan mendorong terciptanya kebangkitan dunia Minangkabau berdasarkan internalisasi dari nilai-nilai kearifan universal yang berasal dari perpaduan Islam dengan Adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan yang lahir dari nilai ilahiah dan insaniah menjadi kerangka acuan dalam menentukan arah dan corak kehidupan. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai kerangka filosofis orang Minangkabau menjadi semangat dan jiwa dalam tindakan, sikap dan watak orang Minangkabau. Berdasarkan “kebenaran, keadilan dan kebajikan” kemudian menggiring masyarakat Minangkabau menganut paham pada falsafah hidup yang tegas dan mengikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. INSAN MINANGKABAU&lt;br /&gt;Insan Minangkabau adalah orang yang siap menatap masa depan. Siap bergumul dan bergulat dalam zaman yang senantiasa berubah, sesuai ungkapan adat, ”sakali aia gadang, sakali tapian berubah”. Sesungguhnya, kesiapan dan keberanian orang Minangkabau menghadapi tantangan zamannya lahir dari kemampuan atas intensitas pembacaan terhadap semesta. Pembacaan terhadap semesta merupakan sebuah proses yang senantiasa mengalir dalam siklus kehidupan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasafah ”Alam Takambang Jadi Guru” menjadi titik sentral bagi orang Minangkabau dalam memaknai kehidupannya. Proses perenungan dan penghayatan terhadap materi-materi kehidupan, yang berpijak pada kemampuan dan intensitas pembacaan mereka terhadap alam, mempunyai makna yang dalam bagi orang Minangkabau. Alam adalah segala-galanya bagi mereka, sebagai tempat lahir, tumbuh dan mencari kehidupan, serta sebagai sebuah kosmos yang memiliki nilai dan makna filosofis. Implikasi dari pemaknaan orang Minangkabau terhadap alam terlihat jelas dalam ajaran; pandangan dunia (world view) dan padangan hidup (way of life) yang seringkali mereka nisbahkan melalui pepatah, petitih, mamangan, petuah, yang diserap dari bentuk, sifat, dan kehidupan alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah ”Alam Takambang Jadi Guru”, sebagai pencerminan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menjadi anutan bagi orang Minangkabau, suatu konsep kemanusiaan yang ”egaliter” dalam sistem kodrat ”alam” yang dikotomis menurut alurnya yang harmonis. Pengertian alur yang harmonis dalam ”alam” ialah dinamika dalam sistem musyawarah dan mupakat berdasarkan ”alur” dan ”patut”, yaitu etika hukum yang layak dan benar. Sebagai masyarakat yang beragama, maka kebenaran yang benar berada di jalan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan kosmos ini pada akhirnya membawa mereka melihat keteraturan semesta bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan muncul melalui proses pergulatan antara pertentangan dan keseimbangan. Filsafat ‘Alam Takambang Jadi Guru’ mengandung pengertian bahwa setiap orang ataupun kelompok memiliki kedudukan sama, baik sebagai individu, maupun sebagai kelompok, sebagai hasil dari musyawarah. Pandangan ini mendorong untuk mandiri dan berkompetisi dalam meningkatkan martabat dan harga diri setiap individu. Dalam masyarakat Minangkabau yang komunal, setiap individu diberi peluang untuk mengembangkan diri atas dorongan kerabatnya sendiri.  Dia disegani, berwibawa dan berwawasan yang luas, “ba alam lapang, ba padang laweh”.  Berwawasan luas dan luwes. Prinsip ini, gadang diambak, tinggi dianjung,  suatu pengakuan menjadi besar dan tinggi karena lingkungan komunitasnya.  Sebaliknya ia pun harus membela masyarakatnya agar makin berharga dalam dan di luar lingkungannya. Lambat laun prinsip ini melembaga dalam diri setiap individu, bahwa  masyarakat itu merupakan milik dan bagian penting dari dirinya. Demikianlah masyarakat Minangkabau menyikapi cara melihat dirinya dan melihat alam dan perubahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses dialektika dipahami oleh orang Minang tidak sebatas pergulatan, tapi sebagai proses yang telah membentuk insan Minangkabau sebagai individu yang memiliki karakter, watak dan sikap yang jelas dalam menjalani siklus kehidupan. Di antara karakter itu adalah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, orang Minangkabau selalu menekankan nilai-nilai adab atau budi. Setiap individu dituntut untuk mendasarkan kekuatan budi dalam menjalani kehidupannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, etos kerja yang didorong oleh kekuatan budi, sehingga setiap individu dituntut untuk selalu melakukan sesuatu yang berarti bagi diri dan komunitasnya. Melalui semangat inilah kemudian mereka memiliki etos kerja yang tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kemandirian. Semangat kerja atau etos kerja dalam rangka melaksanakan amanah sebagai khalifah menjadi kekuatan bagi orang Minangkabau untuk selalu hidup mandiri, tanpa harus bergantung pada orang lain. “Baa di urang, baitu di awak” dan “malawan dunia urang” adalah sebuah filosofi agar individu dituntut untuk mandiri dalam memperjuangkan kehidupan yang layak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, saraso, tenggang menenggang dan toleran. Kompetisi adalah sesuatu yang sah dan dibenarkan untuk mempertinggi harkat dan martabat, namun ada kekuatan rasa yang mengalir dari lubuk budi. Setiap invididu hidup bukan sekedar memenuhi kebutuhan pribadi, melainkan juga berjuang dan memelihara komunitasnya. Hidup dalam pergaulan sosial harus didasarkan pada kekuatan rasa. Rasa akan melahirkan sikap tenggang menenggang dan toleran terhadap orang lain dengan segala perbedaan yang ada. Etos kerja dan semangat kemandirian muncul dari lubuk “pareso” (akal pikiran), sedangkan sikap tenggang menenggang dan toleran muncul dari kekuatan “raso”(hati nurani). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, kebersamaan yang menempatkan insan dalam posisi individu dan komunal yang memberi ruang untuk menjalin kehidupan bersama dalam kebersamaan. Selain penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat, kekuatan rasa, tenggang rasa dan toleran memperkuat munculnya kebersamaan dalam masyarakat Minangkabau. Kebersamaan itu sesungguhnya lahir dari pola penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat. Meskipun sebagai individu diberi ruang gerak untuk dirinya sendiri, namun ia harus bersikap saling tenggang menenggang dan menghargai setiap perbedaan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam,  visioner, semangat yang kemudian membuat orang Minang memiliki visi yang jelas dalam menjalani kehidupannya Dari kekuatan budi, etos kerja yang tinggi, watak kemandirian, nilai saraso, tenggang menenggang, dan kebersamaan, orang Minang bergerak maju, dinamis, dan melihat ke masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugusan watak dan sikap di atas, akhir dari proses hidup dialektik yang terpercik dari falsafah”hiduik baraka, mati barimanan”. ”Hidup ba raka” bermakna tidak ada kehidupan yang dilalui tanpa pertimbangan akal. Akal sesungguhnya bermakna ikatan antara ’rasa’ yang timbul dari hati nurani dengan ’pareso’ yang lahir dari kedalaman pikiran. Keseimbangan hakiki yang ingin dicapai oleh setiap orang Minangkabau. Orang Minangkabau terus menerus bergulat dengan akal dan budi dalam mempercepat pencapaian harkat, martabat dan hakikat kebenaran dalam kehidupan. Selanjutnya, ”mati bariman ” yang menjiwai manusia Minangkabau merupakan turunan yang integral dari proses ”hidup ba raka”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Minangkabau tidak rela meninggalkan generasinya sebagai kaum yang lemah dan mudah ditindas, baik moral, mau pun materiil. Mereka berpantang mati sebelum meninggalkan ”pusako”,  kebajikan yang ingin ditransformasikan, -baik dalam ucapan, sikap, dan tindakan-. sebagai bekal bagi keturunannya.  Sikap kejiwaan ini terhujam dalam dan menjadi pilar bagi orang Minangkabau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi orang Minangkabau, Tuhan Yang Abadi sebagai suatu realitas yang mengaliri kehidupannya sesungguhnya di dunia ini. Pilihan hidup ”mati bariman” adalah satu-satunya gerbang kebajikan yang sesungguhnya. Melalui penghayatan ini, orang Minangkabau selalu terdorong menciptakan tatanan dinamis, terbuka, seimbang dan kuat dalam membangun individu mandiri, berdaulat, beradab dan beriman untuk mewujudkan masyarakat madani yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Minangkabau adalah pribadi yang selalu menuju kesimbangan dalam menjalin corak hidup dari iman, ilmu, dan amal. Ini makna sesungguhnya dari falsafah ”tali tigo sapilin, tungku tigo sa jarangan”. Akidah tauhid sebagai ajaran Islam dipupuk melalui baso basi atau budi dalam tata pergaulan di rumah tangga dan di tengah masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penjiwaan ini, orang Minangkabau adalah sosok pribadi dari masyarakat yang tidak gentar, bahkan amat sadar akan tantangan zamannya; mereka selalu menghadap ke depan, dan mereka tidak akan rela menyeret diri kembali ke belakang; mereka selalu terbuka terhadap setiap perubahan ”sakali aia gadang, sakali tapian barubah”. Walaupun demikian orang Minangkabau tidak mudah terseret ke dalam arus yang menafikan kearifan kulturalnya ”walau duduak lah bakisa, tapi bakisa dilapiak nan sahalai, walaupun tagaklah barubah, nan tatap di tanah nan sabingkah”. ”Zaman boleh berubah, tapi realitas tidak boleh tercerabut dari akarnya”. Diktum ini kian mempertegas hidup orang Minangkabau dalam sebuah nilai yang bermuara pada nilai-nilai kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. POLA INTERAKSI PERGAULAN MASYARAKAT MINANG&lt;br /&gt;Dialektika berbagai kekuatan dan ragam kehidupan telah mengantarkan dunia Minangkabau pada tatanan harmonis dan berada dalam keseimbangan. Dialektika bagi orang Minangkabau dipahami sebagai sebuah konsep yang menempatkan orang berfikir dalam suatu totalitas. Dalam struktur sosial, terdapat hal-hal yang berbeda, namun kemudian menyatu membentuk struktur baru dalam kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam amanah Allah menjadikan ”manusia dan jin semata untuk mengabdi padaNya”. Di samping itu sebagai khalifah, Allah pun mengamahahkan ”manusia yang dijadikanNya berkaum, bersuku dan berbangsa untuk saling mengenal satu sama lainnya.” Kedua ayat ini menjadikannya manusia Minangkabau berkeyakinan yang benar (tawhid), beragama yang taat dan berakhlaq yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diterapkan juga dalam sistem sosial adat Minangkabau yang matrilineal dan Islam yang patrineal, kemudian membentuk sistem sosial baru dalam kebudayaan Minangkabau, dengan bentuk: Orang Minangkabau bernasab kepada ayah (sistem patrilineal), bersuku kepada ibu (matrilineal) dan bersako (pewarisan gelar) kepada mamak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem pewarisan, harta pusaka tinggi diwariskan kepada kemenakan (sistem matrilineal) dan pusaka rendah diwariskan kepada anak (sistem patrilineal). Orang Minangkabau mengamalkan hukum adat, hukum agama dan hukum negara (undang-undang). &lt;br /&gt;Masyarakat Minangkabau selalu mengatur pola interaksi antara sesama manusia yang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh dan mengatur kehidupan yang sejahtera di bumi Tuhan. Kebenaran, keadilan dan kebajikan yang menjadi prinsip orang Minangkabau untuk mengatur proses dialektika lam persentuhan antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, individu dengan kelompok, dan sebaliknya. Oleh karenanya orang Minangkabau dalam pergaulannya bertindak dalam jalur moralitas bahwa hidup harus dijalankan dengan penuh semangat kekeluargaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perimbangan pembagian dalam menata antara ruang dan waktu untuk menjalani kehidupan terus mengalir pada wawasan (matra) yang lebih luas. Bahwa orang Minangkabau lebih mudah menyesuaikan diri  dalam melihat beragam corak dan perbedaan ragam kehidupan. Bagi orang Minang perbedaan – terutama perbedaan pendapat-- adalah hal yang lazim sebagai proses dialektis. Basilang kayu di tungku, mako api hiduik. Silang pendapat merupakan benang merah untuk mencapai kesepakatan. Prinsip kebersamaan, baik secara moril maupun materil, terus mengalir dalam pola hidup yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau. Prinsip  diatur sedemikian rupa dalam menjalani proses hidup dan kehidupan sebagai makhluk yang selalu bersinggungan dengan makhluk lainnya yang tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya. Prinsip ini melahirkan paham egaliterianisme bahwa manusia ditakdirkan sama derajatnya. Selain kebersamaan yang dijunjung tinggi, orang Minangkabau memahami bahwa dalam perbedaan perlu dikelola sedemikian rupa sehingga menciptakan suatu harmonisasi dalam perbedaan dan perimbangan [dialektika] kehidupan yang kompleks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan merupakan suatu “keindahan tersendiri” bagi masyarakat Minangkabau dalam dialektika kehidupan yang selalu bersentuhan antara satu sama lain. Nilai estetis yang terkandung dalam perbedaan bahkan sangat dijunjung tinggi dan dianggap sebuah kewajaran yang memberikan warna dalam kehidupan yang dinamis. Kehidupan yang selayaknya hanya akan berjalan dengan adanya perbedaan yang harmonis dan saling melengkapi dalam proses bagaimana kehidupan itu dijalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip hidup yang tidak membedakan antara satu sama lain diperkokoh dengan keikhlasan dalam menerima perbedaan yang terjadi dalam dialektika kehidupan. Keikhlasan dalam menerima ragam perbedaan yang ada dalam masyarakat melahirkan kearifan melihat dan memahami sisi-sisi lain dari kehidupan yang berbeda. Di balik peristiwa itu tersirat berbagai makna dalam menjalani kehidupan yang terus mengalir dalam ruang dan waktu yang selalu berubah. Dalam perubahan ruang dan waktu ada proses pemaknaan alam dan lingkungan tersebut. Oleh karena itu, orang  Minangkabau berhati-hati, baik dalam berkata maupun berbuat, karena adanya kepekaan yang tinggi terhadap alam dan lingkungan. Orang Minangkabau mempertimbangkan segala sesuatu hingga taraf kemapanan yang sangat tinggi, namun tetap luwes dalam setiap masalah yang dihadapi. Maka menempatkan sesuatu tanggung jawab masing-masing merupakan perwujudan dari kearifan yang diserap dari lingkungan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan sosial yang tercipta atas persentuhan antar satu sama lain dalam proses interaksi dalam bingkai etika yang mapan. Dalam hal ini, orang Minangkabau menempatkan budi sebagai ajaran tertinggi Adatnya. Hanya dengan budi, pertalian yang akrab antar anggota masyarakat dapat diwujudkan. Tuhan pun menyuruh manusia untuk berlemah lembut, tidak boleh berlaku kasar. Maka bingkai dari semua interaki yang berjalan seiring dengan dinamika kehidupan adalah adab atau budi sebagai cerminan budaya yang menempatkan masing-masing orang bertanggung jawab tanpa membedakan antara satu sama lain. Hal tersebut terlihat, antara lain, dari tradisi dialog secara santun dalam bertutur kata dengan semua orang. Perkataan pun diatur dalam ritme dan intonasi yang berbeda terhadap semua orang sesuai dengan kapasitasnya. Pola komunikasi tersebut dibingkai dengan santun dan rasa empati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa santun dan empati terhadap semua orang melahirkan rasa tanggungjawab yang tinggi. Rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap sesama dalam kehidupan melahirkan sikap yang tanggap dalam kegoncangan atau turun naiknya kehidupan yang digambarkan sebagai roda pedati. Sehingga solidaritas antar sesama melahirkan sikap saling tolong menolong dalam kesulitan. Dalam kehidupannya, orang Minangkabau selalu berbagi sesama dalam semua kesempatan maupun kesempitan. Dalam hidup semua keuntungan untuk semua orang, dan semua kerugian ditanggung bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal tanggungjawab, orang Minangkabau meletakkannya dalam wilayah eksternal. Sementara memegang teguh prinsip disiplin dan keterbukaan dalam wilayah internal. Dalam kedua dimensi ini sesungguhnya orang Minang mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang terkait dengan dua dimensi tersebut pada wilayah individu dan masyarakat. Dengan jalinan antara kedua segi pertanggungjawaban yang dipikulkan di atas pundaknya, orang Minangkabau memelihara keselarasan perbuatan yang berkaitan masyarakatnya. Rasa tanggungjawab bermuara pada harga diri yang dipertahankan sampai titik darah terakhir. Artinya orang Minangkabau tidak mudah tergoda dengan segala iming-iming yang dijanjikan atas penyelewengan yang menguntungkan sepihak. &lt;br /&gt;Dalam mempertahankan prinsip harga diri, baik itu harga diri secara individu, maupun harga diri yang sifatnya kolektif (keluarga, suku dsb). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Minangkabau menanamkan pendirian yang teguh daripada menggadaikan harga diri. Harga diri bagi orang Minangkabau merupakan sesuatu yang tidak dapat ditakar dengan emas berbilang. Sehingga tidak ada tawar menawar dan tarik ulur dalam hal ini. Mempertahankan harga diri merupakan “ruh” untuk hidup di lingkungan sehingga etos kerja mereka sangat tinggi untuk mengumpulkan emas berbilang, nama terbilang. Usaha yang dilakukan dalam mendapatkan emas berbilang, nama terbilang, ketulusan dan keikhlasan dalam berusaha menjadi faktor pendukung utama dalam meningkatkan taraf hidup (ekonomi) agar harkat dan martabat mereka terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. PELEMBAGAAN ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip dasar  tersebut merupakan prinsip operasional dari prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan. Prinsip-prinsip operasional dilembagakan ke dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tidak semata sistem nilai konseptual, tapi yang lebih penting, bagaimana nilai-nilai tersebut dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Sistem nilai yang berhubungan dengan struktur kultural berupa struktur kognitif (pengetahuan) dan afektif (perasaan). Penerapan nilai yang berhubungan dalam struktur sosial berupa hubungan antar manusia membentuk ”perilaku”. Bila berhubungan dengan kultural akan membentuk ”sifat mental” yang dapat mempengaruhi dan mengendalikan perilaku. Wujudnya dengan segala keadaan masyarakat akhirnya membentuk “struktur mental” manusia yang menjadi anggotanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah diterapkan dan dilembagakan ke dalam struktur kultural dan struktur sosial masyarakat Minangkabau. Pelembagaan nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah harus menyentuh wilayah sosial empirik (pengetahuan dan pengalaman masyarakat) seperti struktur interaksi, struktur kepemimpinan, struktur musyawarah dan mufakat, struktur kepemilikan, struktur pewarisan, dan lain sebagainya. Ini berarti bahwa pranata sosial; pola kepemimpinan, musyawarah dan mufakat (struktur politik dan hukum), pola kepemilikan dan pewarisan (struktur ekonomi) serta pola interaksi (struktur budaya) mesti merujuk pada Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Konsekuensinya adalah bahwa sistem politik, hukum, ekonomi dan budaya hendaknya mencerminkan nilai-nilai budaya orang Minangkabau; atau institusi sosial dan kultural (tradisional) yang masih ada perlu direvitalisasi (dihidupkan kembali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. dipahami sebagai:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, konsep usaha Minangkabau untuk merumuskan ”siapa dirinya”, sebagai sebuah masyarakat madani yang beriman, beradat, berbudaya, berharkat, bermartabat, dan visioner. Hal ini berarti bahwa meninggalkan nilai-nilai falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah., berarti keluar dari ”Minangkabau”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, konsep ini berfungsi sebagai penentu tingkat hirarki nilai, Artinya secara kerohanian (transendental) yang dapat dipertanggung jawabkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, konsep ini  adalah landasan motivasi melakukan perubahan yang sekaligus menjadi standar dalam menentukan keabsahan setiap perubahan sosial yang akan dijalani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-5048281742288793431?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/5048281742288793431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=5048281742288793431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/5048281742288793431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/5048281742288793431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/01/penjelasan-filosofi-penjabaran-dan.html' title='Penjelasan filosofi ABS-SBK'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-8988778181004315730</id><published>2009-01-25T19:53:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T19:58:03.696-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Wisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garinyiek Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masoedabidin.blogspot.com'/><title type='text'>Ciloteh Lapau</title><content type='html'>CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN DINAMIKA MINANGKABAU&lt;br /&gt;Oleh : H.Mas’oed Abidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WILAYAH MINANGKABAU &lt;br /&gt;Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak) Rajo”, (artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).&lt;br /&gt;Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai bagian Barat dan Timur Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SX00qNCOHII/AAAAAAAADWs/AMqCmFxyTSQ/s1600-h/Buya+dan+H.Rustam+Madinah1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 251px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SX00qNCOHII/AAAAAAAADWs/AMqCmFxyTSQ/s320/Buya+dan+H.Rustam+Madinah1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295446636515695746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.&lt;br /&gt;Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak,  berdatuk dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.&lt;br /&gt;ISTILAH MINANGKABAU&lt;br /&gt;Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus matrilineal – atau keturunan menurut garis keibuan. Hubungan kekerabatan ini, adalah perpaduan dan pemesraan  antara istiadat (urf) dan syariat agama Islam. Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa anak yang dilahirkan bernasab kepada ayahnya, bersuku kepada ibunya, dan bersako terhadap mamaknya. Hubungan kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia.&lt;br /&gt;Sistem kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini. Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau, terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau.&lt;br /&gt;Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya, dengan kesukaan merantau ke negeri lain untuk mencari ilmu, mencari rezeki. Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang telah mendorong lajunya mobilitas horizontal dalam bentuk imigrasi, dan mobilitas vertical yang menuju kepada peningkatan kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JALINAN BAHASA DAN KEPERCAYAAN DI MINANGKABAU&lt;br /&gt;Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku, terbentuk  hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna asimilasi  adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk pemesraan itu adalah bahasa  dan kepercayaan dalam wadah kesusasteraan di Minangkabau.&lt;br /&gt;Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. Di mana bumi dipijak di sana adat dipakai. Kaidah hidup ini adalah satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi berbudaya Minangkabau, di mana saja.&lt;br /&gt;Kata "percaya" berarti pendapat, itikad, kepastian dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang diperoleh jiwa, dikuatkan oleh  pikiran. Kebenaran agama adalah keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat dan intelektual adalah kepercayaan.  Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidupannya.&lt;br /&gt;Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat yang  tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti dorongan rohaniah manusia, yang selalu  mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya.&lt;br /&gt;Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada hentinya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu.  Naluri itu dapat pula disebut instink atau fitrah.&lt;br /&gt;Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan rohaniah yang dapat juga disebut "perasaan keagamaan".  Maka dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani. Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya.&lt;br /&gt;Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan.  Dalam agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib.&lt;br /&gt;Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia atau ad-din atau syari’at (syarak). Kata religious dalam bahasa Latin berarti "mengikat". Perilaku manusia terikat dengan pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan.&lt;br /&gt;Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia.&lt;br /&gt;Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata (amal) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang membuat alam nyata manusia, atau syarak mangato adaik mamakaikan.&lt;br /&gt;Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuhan atas yang baik atau yang buruk. &lt;br /&gt;Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat naluri. Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASIMILASI ANTARA TUTUR BAHASA DAN KEPERCAYAAN&lt;br /&gt;Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya. Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai pengertian yang dalam, yaitu "hasil bahasa Minangkabau yang indah".&lt;br /&gt;Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan, terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-tulisan lama memakai huruf arab melayu. Pemakaian huruf hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu, adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.&lt;br /&gt;Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan seseorang atau masyarakat dan lingkungannya. Kesusateraan adalah pula hasil bertutur kata, berciloteh dengan sadar, bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan satu suku bangsa atau suatu bangsa. Salah satu aspek yang amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam bentuk kesusasteraan.&lt;br /&gt;Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “Kanan jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan upek.” &lt;br /&gt;Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah kekuatan keyakinan theis (agama) yang mengatur nyawa itu.&lt;br /&gt;Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama yang membimbing rasa dan periksa itu. Budaya kehidupan yang dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu. Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIWA BAHASA DI MINANGKABAU&lt;br /&gt;Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk karya sastera. Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan Minangkabau terasa kental sekali. Mempersoalkan hubungan yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera itu indah abadi.&lt;br /&gt;Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan bangsa Indonesia. Mutiara terpendam yang dapat diselami adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi kepada Ilahi.&lt;br /&gt;Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam satu ungkapan, adaik basandi syarak, menjadi kekuatan besar untuk meraih keberhasilan di setiap masa. Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri. &lt;br /&gt;Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan kebudayaannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam sastera bertutur dan berciloteh.&lt;br /&gt;Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam kehidupan tradisi mereka. Pada dasarnya manusia itu bersifat konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya". &lt;br /&gt;Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting. Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan Indonesia modern. Menggali khazanah kebudayaan lama Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan, serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis, terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan kearifan dalam berciloteh baik di lapau atau di surau.&lt;br /&gt;Memang amat sukar untuk menentukan berapa jumlah pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka dalam adat atau penghulu (ninik mamak). Serta berapa banyak yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai, suluah bendang di nagari, atau mereka yang dapat dianggap mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu.&lt;br /&gt;Berlakunya adaik istiadat nan salingka nagari, telah memberi warna perlakuan pribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga, terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERILAKU BERBUDAYA DAN BERAKHLAK DALAM PENGGUNAAN BAHASA&lt;br /&gt;Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan di nagari-nagari.&lt;br /&gt;Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus mengarah.&lt;br /&gt;Kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).&lt;br /&gt;Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini. Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.&lt;br /&gt;Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur. Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup sekarang. Dari pelajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni : Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat yang teradat) dan Adat Istiadat.&lt;br /&gt;Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul sentak artinya dapat dibuka atau dicabut. Adat yang berbuhul mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena dia adalah undang-undang alam (natuurwet), natural law dan sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya. Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau bertimbang.&lt;br /&gt;Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat disebut “sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak. Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada korong kampung”.&lt;br /&gt;Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari), cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan sangsako, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek (pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang rumah gadang) dan sebagainya. Pada dasarnya dalam empat kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata mufakat.&lt;br /&gt;Hanya saja pada kategori Adat nan Diadatkan meski boleh berubah, namun Adat nan Diadatkan harus dilestarikan, dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang panjang). Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih bersifat adat nan salingka nagari (selingkar nagari). Terlihatlah di sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang maka adat Minang bersifat terbuka. Berubahlah apa yang mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang dari Yang Maha Kuasa. Dalam adagium adat disebutkan : “sakali aie gadang, sakali tapian baraliah” (sekali air bah datang, sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah.&lt;br /&gt;Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan dengan tuntutan zaman yang sedang berubah. Ungkapan tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang, pituah, andai-andai, dan lain-lain. Ungkapan tradisional tersebut ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan dan ketentuan-ketentuan (norma). Tapi ungkapan semata ada juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya kata melereng (kiasan) semata.&lt;br /&gt;Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi pekerti, seperti “Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso”. Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa”. Para tetua leluhur orang Minangkabau telah mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang warnanya kurik (rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya. Ungkapan tradisional ini mengiaskan bahwa budi baik dan keindahan bahasa tidak boleh tanggal dari diri pribadi anak turunan Minangkabau di manapun kita berada.&lt;br /&gt;Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja. Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai karano budi / Itu nan urang pantangkan. Bila di turunkan di dalam bahasa nasional Telengkang keranda kaca, berderai cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan. Fatwa adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa. Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak sepantasnya dapat berakibat persahabatan jadi bercanggang atau berjarak.&lt;br /&gt;Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan perceraian satu sama lain. Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa “indak nan taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek” (tidak yang teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan).&lt;br /&gt;Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang sudah dibuat dan disepakati. Di dalam ungkapan seharian disebutkan ;&lt;br /&gt;Nak luruih rantangkan tali&lt;br /&gt;Nak mulia tapati janji&lt;br /&gt;Nak kuek paham dikunci&lt;br /&gt;Nak tinggi paelok budi&lt;br /&gt;Nak kayo kuek mancari, dan sebagainya&lt;br /&gt;(Supaya lurus rentangkan tali&lt;br /&gt;Supaya mulia tepati janji&lt;br /&gt;Supaya kuat paham dikunci&lt;br /&gt;Supaya tinggi perbaiki budi&lt;br /&gt;Supaya kaya kuatlah berusaha/ mencari)&lt;br /&gt;Di sebalik itu dituntut dialektika Arif dan Bijak seperti ; &lt;br /&gt;Diagak mako diagiah (buatlah perkiraan, baru dibagi)&lt;br /&gt;Diukua mako dikabuang (memotong sesuatu atau mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku sembrono memotong/membagi begitu saja . Dianjurkan diukur dulu).&lt;br /&gt;Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu kearifan dialektis, Malantiang manuju tampuak, Dima buah ka rareh, dan Mamahek manuju barih, Dima lubang ka tabuak, Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati. Artinya dalam bahasa nasional, “melempar menuju tampuak, kira-kira di mana buah itu jatuhnya”, dan “memahat menurut baris, kira-kira di mana lobang itu tembusnya”, atau “berunding berdasarkan kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat”.&lt;br /&gt;Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada satu kewajiban berhati-hati.&lt;br /&gt;Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “Gabak dahulu makonyo hujan, Cewang di langik tando akan paneh, Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih”, atau “Ingek urang nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan paliharo kaki, Bakato paliharo lidah”. Dapat dicermati dari ungkapan berbahasa dan bertutur ada banyak mendapatkan pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan panas”. Atau ungkapan selanjutnya, “ingatlah sebelum kena, berhemat sebelum habis” sebagai satu dinamika kearifan. Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “ingat dan waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di bawah dapat datang menimpa”, serta “kalau berjalan peliharalah kaki, kalau berucap kata pelihara lidah”. Di sini dapat dirasakan dialektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu.&lt;br /&gt;Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “Ka bukik samo mandaki, Ka lurah samo manurun” (ke bukit sama mendaki, ke kurah sama menurun), atau “Barek sapikua, Ringan sajinjiang” (Berat sepikul, Ringan sejinjing), dan “Malompek samo patah, Manyaruduak samo bungkuak” (Melompat sama patah, Menyeruduk sama bungkuk), serta “Talungkuik samo makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo basah, Tarapuang samo hanyuik” (Tertelungkup sama makan tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah, Terapung sama hanyut). Sebuah nilai keberadatan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan hidup.&lt;br /&gt;Kehidupan masyarakat Sumatera Barat ke depan di Alaf Baru abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-hal yang merusak atau mungkarat. Di dalam diri masyarakatnya semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat bekerja (enterprising). Hal tersebut akan lebih mudah terbangunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis.&lt;br /&gt;Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemelut, kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang.&lt;br /&gt;Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat atau di perantauan  akan selalu mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya. Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau kebiasaan adat telah mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.&lt;br /&gt;Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.&lt;br /&gt;Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.4, An-Nisak ayat 36).&lt;br /&gt;Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa. Sikap jiwa masyarakat seperti ini seringkali dapat ditempa melalui dialog atau celoteh yang penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau di Minangkabau, masa laloe. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-8988778181004315730?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/8988778181004315730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=8988778181004315730' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/8988778181004315730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/8988778181004315730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2009/01/ciloteh-lapau.html' title='Ciloteh Lapau'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SX00qNCOHII/AAAAAAAADWs/AMqCmFxyTSQ/s72-c/Buya+dan+H.Rustam+Madinah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-8051063250247014045</id><published>2008-09-16T20:52:00.001-07:00</published><updated>2008-09-16T20:54:34.871-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ranah Wisata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><title type='text'>Masjid Bingkudu Ampek Angkek Canduang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wisata Budaya Kab. agam | Kamis, 21/08/2008 13:52 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MESJID BINGKUDU EMPAT ANGKAT CANDUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;klik untuk melihat foto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASJID Bingkudu terletak di&lt;br /&gt;Dusun/Kampung Tigasuro, Desa&lt;br /&gt;Lima Suku Bawah, Kecamatan&lt;br /&gt;Empat Angkat Cadung, Kabupaten&lt;br /&gt;Agam, Provinsi Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Bangunan masjid terletak pada&lt;br /&gt;ketinggian 1.050 m di at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1957 dilakukan penggantian atap ijuk dengan atap seng oleh masyarakat setempat. Pada tahun anggaran 1991/1992 dilakukan pemugaran oleh Proyek Pelestarian dan Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatera Barat dengan jenis pekerjaan pembongkaran dan pemasangan kembali atap, plafon rangka atap, jendela, menara dan tangga menara. Kemudian pemugaran satu buah makam dan tempat wudlu, mimbar, mihrab, kolam, pemasangan penangkal petir pada menara, penataan lingkungan, pengecatan, serta pembuatan pintu gerbang. Masjid Bingkudu diperkirakan berdiri pada tahun 1823 diprakarsai oleh Inyik Lareh Candung gelar Inyik Basa (H Salam). Pendirian masjid merupakan hasil kesepakatan dari empat delegasi yang mewakili daerah sekitar Bingkudu, juga merupakan masjid yang tertua dan terbesar di daerah Bingkudu. Definis Bangunan Masjid Bingkudu terletak di atas sebidang tanah yang lebih rendah dari sekitarnya berukuran 60 x 60 m, berdenah bujur sangkar dengan ukuran bangunan 21 x 21 m dan bangunan masjid aslinya berbahan kayu dan atap ijuk. Bangunan berbentuk panggung menggunakan konstruksi atap susun tiga. Tinggi keseluruhan dari permukaan tanah +- 19 m dan mempunyai kolong setinggi +- 1,50 m. Pintu masuk terletak di sebelah timur. Ruang utama Bangunan utama masjid berdenah bujur sangkar berukuran 21 x 21 m terbuat dari kayu (tiang) dan papan (dinding, lantai), beratap susun tiga dari ijuk. Bangunan berbentuk panggung dengan tinggi kolong 1,50 m dan tinggi bangunan sampai puncak 19 m. Di bagian depan terdapat teras yang menghubungkan dengan bangunan menara. Di dalam teras juga terdapat sebuah bedug berukuran panjang 3,10 m, diameter 60 cm, terbuat dari pohon kelapa.Mihrab masjid terdapat di sebelah barat menjorok keluar dari bangunan utama. Mimbar masjid tidak terdapat di dalamnya, tetapi terletak di depannya. Mimbar terbuat dari ukiran kayu dengan hiasan warna keemasan dibuat tahun 1906, berbentuk huruf 'L.' Memiliki tangga naik menghadap ke depan dan tangga turun mengarah kesamping. Pada bagian kiri dan kanan tangga tersebut terdapat pipi tangga berukir dengan motif sulur-suluran. Pada mahkota mimbar terukir kaligrafi, dan pada bagian atas juga ditemukan tulisan angka 1316 H (1906 M).Pintu masuk ruang utama terdapat di sebelah timur. Di dalamnya terdapat 53 buah tiang berdiameter antara 30-40 cm dengan bentuk segi duabelas dan enambelas, juga terdapat sebuah tiang sebagai tonggak macu yang terdapat di tengah-tengah berbentuk segi enambelas berdiameter 75 cm. Di dalam masjid terdapat sebuah lampu gantung kuno dan beberapa buah lampu dinding kuno yang terpasang pada tiang-tiang masjid. Hiasan ukiran terdapat pada tiang-tiang bagian atas dan pada balok pengikat antara satu tiang dengan tiang lainnya merupakan kekhasan Masjid Bingkudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara Masjid Bingkudu berdiri pada tahun 1957, terletak di depan bangunan utama yang berbentuk segi delapan dengan atap kubah. Tinggi menara 11 m dan memiliki 21 anak tangga yang memutar ke arah kiri mengelilingi tiang utama yang terdapat di tengah-tengah. Menara tersebut merupakan menara pengganti (baru) yang sebelumnya terdapat terpisah di sebelah utara bangunan utama. Sedangkan menara lama dahulunya memiliki 100 anak tangga, karena tersambar petir, bangunan menara dipotong dan dinamai menara bulat dan difungsikan sebagai rumah garin dan tempat musyawarah tokoh masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat wudlu terdapat di selatan masjid berbentuk segi panjang dan tertutup. Selain itu, di sebelah selatan dan barat terdapat kolam. Sebuah makam yang terdapat di kompleks masjid adalah makam seorang ulama yang berpengaruh di daerah ini yaitu Syekh Ahmad Taher meninggal pada tanggal 13 Juli 1962. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-8051063250247014045?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/8051063250247014045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=8051063250247014045' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/8051063250247014045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/8051063250247014045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/09/masjid-bingkudu-ampek-angkek-canduang.html' title='Masjid Bingkudu Ampek Angkek Canduang'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-2029408917025346347</id><published>2008-09-16T20:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-16T20:30:43.021-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><title type='text'>Istano Silinduang Bulan di Pagaruyuang Batusangka</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wisata Budaya Kab. Tanah Datar | Kamis, 21/08/2008 13:35 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istano Silinduang Bulan&lt;br /&gt;klik untuk melihat foto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terletak di pusat kerajaan pagaruyung. Istana yang berukuran 28 x 8 meter disebut juga rumah Gadang Sembilan Ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istana ini didirikan di tapak istana lama yang terbakar tahun 1966 atau sekitar dua kilometer sebelah utara Istana Basa(terbakar 2007). Istano Silinduang Bulan yang sekarang merupakan replika yang sudah dibangun ulang untuk menggantikan istana lama yang terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Silsilah Ahli Waris Daulat yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung, Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah yang dikenal juga dengan panggilan Yang Dipertuan Hitam mempunyai empat orang saudara; Puti Reno Sori, Tuan Gadih Tembong, Tuan Bujang Nan Bakundi dan Yang Dipertuan Batuhampar, hasil perkawinan dari Daulat yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah (II) yang juga dikenal dengan kebesarannya Sultan Abdul Fatah Sultan Abdul Jalil (I) dengan Puti Reno Janji Tuan Gadih Pagaruyung XI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah menikah pertama kali dengan Siti Badi’ah dari Padang mempunyai empat orang putera yaitu: Sutan Mangun Tuah, Puti Siti Hella Perhimpunan, Sutan Oyong (Sutan Bagalib Alam) dan Puti Sari Gumilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan isteri keduanya Puti Lenggogeni (kemenakan Tuan Panitahan Sungai Tarab) mempunyai satu orang putera yaitu Sutan Mangun (yang kemudian menjadi Tuan Panitahan SungaiTarab salah seorang dari Basa Ampek Balai dari Kerajaan Pagaruyung).Sutan Mangun menikah dengan Puti Reno Sumpu Tuan Gadih Pagaruyung ke XIII (anak Puti Reno Sori Tuan Gadih Pagaruyung XII dan kemenakan kandung dari Sultan Alam Bagagarsyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan isteri ketiganya Tuan Gadih Saruaso (kemenakan Indomo Saruaso, salah seorang Basa Ampek Balai Kerajaan Pagaruyung) mempunyai putera satu orang: Sutan Simawang Saruaso (yang kemudian menjadi Indomo Saruaso).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan isteri keempatnya Tuan Gadih Gapuak (kemenakan Tuan Makhudum Sumanik) mempunyai putera dua orang yaitu Sutan Abdul Hadis (yang kemudian menjadi Tuan Makhudum Sumanik salah seorang Basa Ampek Balai dari Kerajaan Pagaruyung) dan Puti Mariam. Sutan Abdul Hadis mempunyai delapan orang putera yaitu: Sutan Badrunsyah, Puti Lumuik, Puti Cayo Lauik, Sutan Palangai, Sutan Buyung Hitam, Sutan Karadesa, Sutan M.Suid dan Sutan Abdulah. Puti Mariam mempunyai dua orang putera : Sutan Muhammad Yakub dan Sutan Muhammad Yafas (kemudian menjadi Tuan Makhudum Sumanik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik perempuan dari Daulat Sultan Alam Bagagarsyah yaitu Puti Reno Sori yang kemudian dinobatkan menjadi Tuan Gadih Pagaruyung XII menikah dengan saudara sepupunya Daulat Yang Dipertuan Sultan Abdul Jalil Yamtuan Garang Yang Dipertuan Sembahyang II Raja Adat Pagaruyung, mempunyai seorang puteri yaitu Puti Reno Sumpu Tuan Gadih Pagaruyung XIII. Puti Reno Sumpu dengan suami pertamanya Sutan Ismail Raja Gunuang Sahilan mempunyai seorang puteri: Puti Sutan Abdul Majid. Sedangkan dengan suami keduanya: Sutan Mangun Tuan Panitahan Sungai Tarab (putera dari Sultan Alam Bagagarsyah) mempunyai seorang puteri: Puti Reno Saiyah Tuan Gadih Mudo (Tuan Gadih ke XIV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puti Reno Saiyah ini menikah dengan Sutan Badrunsyah Penghulu Kepala Nagari Sumanik (putera dari Sutan Abdul Hadis dan cucu dari Sultan Alam Bagagarsyah) mempunyai putera empat orang yaitu: Puti Reno Aminah Tuan Gadih Hitam Tuan Gadih Ke XV, Puti Reno Halimah Tuan Gadih Kuniang, Puti Reno Fatimah Tuan Gadih Etek dan Sultan Ibrahim Tuanku Ketek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puti Reno Aminah dengan suami pertamanya Datuk Rangkayo Basa, Penghulu Kepala Nagari Tanjung Sungayang mempunyai seorang puteri: Puti Reno Dismah Tuan Gadih Gadang (Tuan Gadih Pagaruyung XVI) dan dengan suami keduanya Datuk Rangkayo Tangah dari Bukit Gombak mempunyai putera satu orang: Sutan Usman Tuanku Tuo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puti Reno Dismah Tuan Gadih Gadang menikah dengan Sutan Muhammad Thaib Datuk Penghulu Besar (ibunya Puti Siti Marad adalah cucu dari Sutan Abdul Hadis dan cicit dari Sultan Alam Bagagarsyah, sedangkan ayahnya Sutan Muhammad Yafas adalah anak dari Puti Mariam dan cucu dari Sultan Alam Bagagarsyah) mempunyai putera enam orang: Puti Reno Soraya Thaib, Puti Reno Raudhatuljannah Thaib, Sutan Muhammad Thaib Tuanku Mudo Mangkuto Alam, Puti Reno Yuniarti Thaib, Sutan Muhammad Farid Thaib, Puti Reno Rahimah Thaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan Usman Tuanku Tuo menikah dengan Rosnidar dari Tiga Batur (cicit dari Sutan Mangun anak Sutan Alam Bagagarsyah) mempunyai putera delapan orang: Puti Rahmah Usman, Puti Mardiani Usman, Sutan Akmal Usman Khatib Sampono, Sutan M .Ridwan Usman Datuk Sangguno, Sutan Rusdi Usman Khatib Muhammad, Puti Rasyidah Usman, Puti Widya Usman, Sutan Rusman Usman, Puti Sri Darma Usman.&lt;br /&gt;Puti Reno Halimah Tuan Gadih Kuniang tidak mempunyai putera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puti Reno Fatimah Tuan Gadih Etek menikah dengan Ibrahim Malin Pahlawan dari Bukit Gombak mempunyai putera tiga orang: Puti Reno Nurfatimah Tuan Gadih Angah, Puti Reno Fatima Zahara Tuan Gadih Etek dan Sutan Ismail Tuanku Mudo.&lt;br /&gt;Puti Reno Nurfatimah Tuan Gadih Angah menikah dengan Sy.Datuk Marajo dari Pagaruyung mempunyai seorang putera : Sutan Syafrizal Tuan Bujang Muningsyah Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puti Reno Fatima Zahara menikah dengan Sutan Pingai Datuk Sinaro Patiah Tanjung Barulak (adalah cicit dari Puti Fatimah dan piut dari Sultan Abdul Jalil Yamtuan Garang Yang Dipertuan Sembahyang) mempunyai putera delapan orang: Sutan Indra Warmansyah Tuanku Mudo Mangkuto Alam, Sutan Indra Firmansyah, Sutan Indra Gusmansyah, Puti Reno Endah Juita, Sutan Indra Rusmansyah, Puti Reno Revita, Sutan Nirwansyah Tuan Bujang Bakilap Alam, Sutan Muhammad Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan Ismail Tuanku Mudo menikah dengan Yusniar dari Saruaso (adalah cicit dari Yam Tuan Simawang anak Sultan Alam Bagagarsyah) mempunyai putera tujuh orang: Sutan Fadlullah, Puti Titi Hayati, Sutan Satyagraha, Sutan Rachmat Astra Wardana, Sutan Muhammad Thamrinul Hijrah, Puti Huriati, Sutan Lukmanul Hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan Ibrahim Tuanku Ketek dengan isteri pertamanya Dayang Fatimah dari Batipuh (kemenakan Tuan Gadang Batipuh) mempunyai seorang putera: Sutan Syaiful Anwar Datuk Pamuncak; dengan istri keduanya Nurlela dari Padang mempunyai seorang putera: Sutan Ibramsyah dan isteri ketiganya Rosmalini dari Buo mempunyai puteri dua orang: Puti Roswita dan Puti Roswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kutipan Silsilah Ahli Waris Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung dapat dilihat bahwa ahli waris baik berdasarkan garis matrilineal maupun patrilineal adalah anakcucu dari Puti Reno Sumpu Tuan Gadih Pagaruyung ke XIII yang sampai sekarang mewarisi dan mendiami Istano Si Linduang Bulan di Balai Janggo Pagaruyung Batusangkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mamaknya Sultan Alam Bagagarsyah ditangkap Belanda pada tanggal 2 Mei 1833 dan dibuang ke Batavia dan ayahnya Daulat Yang Dipertuan Abdul Jalil Yang Dipertuan Sembahyang mangkat di Muara Lembu, maka Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu dijemput oleh Datuk-datuk Yang bertujuh untuk kembali ke Pagaruyung melanjutkan tugas mamak dan sekaligus tugas ayahnya sebagai Raja Alam dan Raja Adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Pagaruyung, ternyata tidak ada lagi istana yang berdiri di Pagaruyung karena telah dibumi hanguskan. Kemudian pemerintah Belanda menawarkan bantuan untuk mendirikan istananya di Gudam atau di Kampung Tengah atau di Balai Janggo. Beliau memilih mendirikan istananya di Balai Janggo dengan alasan dekat dengan padangnya, Padang Siminyak (diceritakan oleh cucu beliau Puti Reno Aminah Tuan Gadih Hitam kepada penulis). Nama Istana Si Linduang Bulan kembali dipakai (nama istana tempat kediaman Raja Pagaruyung sejak dulu) untuk nama istana yang baru itu, sekaligus sebagai pengganti dari istana-istana raja Pagaruyung yang terbakar semasa Perang Paderi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istana Si Linduang Bulan ini kemudian terbakar lagi pada tanggal 3 Agustus 1961. Atas prakarsa Sutan Oesman Tuanku Tuo ahli waris Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung beserta anak cucu dan keturunan; Tan Sri Raja Khalid dan Raja Syahmenan dari Negeri Sembilan, Azwar Anas Datuk Rajo Sulaiman, Aminuzal Amin Datuk Rajo Batuah, bersama-sama Sapiah Balahan, Kuduang Karatan, Timbang Pacahan, Kapak Radai dari Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung serta Basa Ampek Balai dan Datuk Nan Batujuh Pagaruyung, Istana Si Linduang Bulan dibangun kembali dan diresmikan pada tahun 1989. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-2029408917025346347?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/2029408917025346347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=2029408917025346347' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/2029408917025346347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/2029408917025346347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/09/istano-silinduang-bulan-di-pagaruyuang.html' title='Istano Silinduang Bulan di Pagaruyuang Batusangka'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-5035090714060595290</id><published>2008-08-17T05:02:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T05:03:42.428-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masoedabidin.blogspot.com'/><title type='text'>Mohamad Natsir menurut tulisan Peneliti LIPI di Kompas</title><content type='html'>Supaya lebih jelas dan tidak keliru atas tulisan Asvi Warman Adam saya&lt;br /&gt;postingkan tulisannya di kompas tanngal 17 Juli 2008 , diambil dari&lt;br /&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/17/00452911/natsir.pahlawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir Pahlawan Nasional Jul 20, '08 10:25 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Asvi Warman Adam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal  17 Juli 2008, tepat 100 tahun kelahiran Mohammad Natsir. Kali&lt;br /&gt;ini,  peringatan tidak hanya mengenang pemikiran dan kepribadian tokoh&lt;br /&gt;yang bersih dan konsisten, tetapi ada usul untuk mengangkatnya sebagai&lt;br /&gt;pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad  Natsir  berjasa  mengembalikan  bentuk  pemerintahan federal&lt;br /&gt;menjadi  negara  kesatuan. Ia yang prihatin dengan proses disintegrasi&lt;br /&gt;negara-bangsa  berpidato  pada  sidang  DPR Republik Indonesia Serikat&lt;br /&gt;(RIS) tanggal 3 April 1950 yang dikenal sebagai Mosi Integral Natsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara kesatuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  mengusulkan  agar  RIS  melebur  kembali  menjadi  negara kesatuan&lt;br /&gt;Republik  Indonesia.  Atas  jasanya,  Soekarno  meminta  Natsir  untuk&lt;br /&gt;membentuk kabinet yang pertama dari negara kesatuan Republik Indonesia&lt;br /&gt;(1950-1951).  Dalam  pemilu  pertama  1955,  ia  berprestasi  memimpin&lt;br /&gt;Masyumi  (Majelis  Syuro  Muslimin  Indonesia)  meraih suara nomor dua&lt;br /&gt;terbanyak setelah PNI (Partai Nasional Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  kita  berbicara  tentang  etika  politik,  itu sudah ditunjukkan&lt;br /&gt;Natsir.  Ia  bisa  berdebat  sengit dengan Ketua PKI DN Aidit di dalam&lt;br /&gt;sidang,  setelah  itu berbincang ringan sambil meminum secangkir kopi.&lt;br /&gt;Kehidupan   yang   asketis  juga  dijalani  politikus  Muslim  kaliber&lt;br /&gt;internasional ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita kini melihat mobil- mobil mewah diparkir di pelataran gedung&lt;br /&gt;DPR,  Natsir  menolak  ketika  seorang pengusaha memberi hadiah sebuah&lt;br /&gt;mobil  Chevrolet Impala yang saat itu tergolong mentereng. Padahal, di&lt;br /&gt;rumahnya hanya ada sebuah mobil tua, De Soto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia   berpolitik  secara  santun  dan  berdakwah  tanpa  kekerasan.  Ia&lt;br /&gt;politikus  yang  hidup  bersahaja.  Ia  santun  terhadap  Soekarno dan&lt;br /&gt;bersikap  correct  terhadap  Soeharto.  Pada awal Orde Baru ia berjasa&lt;br /&gt;mengirim   nota  kepada  Tunku  Abdurrachman  dalam  rangka  pencairan&lt;br /&gt;hubungan diplomatik dengan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  mengontak Pemerintah Kuwait agar mau menanamkan modal di Indonesia&lt;br /&gt;dan  meyakinkan  pemerintahan  Jepang  tentang  kesungguhan  Orde Baru&lt;br /&gt;membangun  ekonomi.  Ironisnya, imbalan yang diberikan penguasa adalah&lt;br /&gt;larangan baginya untuk kembali ke pentas politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan nasional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya,  layakkah  ia  diangkat  sebagai  pahlawan nasional? Dalam&lt;br /&gt;kriteria  pahlawan  nasional ada klausul, orang itu tidak pernah cacat&lt;br /&gt;dalam  perjuangannya.  Selama  Orde  Baru kriteria itu digunakan tanpa&lt;br /&gt;ukuran  yang  jelas.  Kabarnya  Sanusi Hardjadinata, tokoh PNI, mantan&lt;br /&gt;Menteri   era  Soekarno  dan  Gubernur  Jawa  Barat  saat  berlangsung&lt;br /&gt;Konferensi  Asia-Afrika  (KAA)  di Bandung tahun 1955, ditolak menjadi&lt;br /&gt;pahlawan nasional karena pernah menandatangani Petisi 50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan  itu  terasa berlebihan karena petisi yang dikeluarkan 50 tokoh&lt;br /&gt;nasional  tahun  1980  itu  merupakan  sikap  kritis  atas  pernyataan&lt;br /&gt;Presiden  Soeharto yang otoriter terhadap mereka yang mencoba mengubah&lt;br /&gt;Pancasila  dan UUD 1945. Natsir menandatangani petisi itu, juga Sanusi&lt;br /&gt;Hardjadinata, Hugeng, Ali Sadikin, SK Trimurti, dan banyak tokoh lain.&lt;br /&gt;Alasan   ini  seyogianya  tidak  digunakan  untuk  menolak  pencalonan&lt;br /&gt;pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petisi   jelas   berbeda   dengan   pemberontakan,  meskipun  Soeharto&lt;br /&gt;menanggapi   dengan   tindak   kekerasan   senada.   Sebenarnya,  yang&lt;br /&gt;memberatkan   Natsir   adalah   keterlibatannya   dalam   Pemerintahan&lt;br /&gt;Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958 dan meningkat dengan&lt;br /&gt;pembentukan Republik Persatuan Indonesia (RPI) tahun 1960 yang terdiri&lt;br /&gt;dari  10  negara bagian seperti Republik Islam Aceh dan Republik Islam&lt;br /&gt;Sulawesi Selatan (Audrey dan George Kahin, 1997: 381)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sjafruddin Prawiranegara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun  lalu,  Sjafruddin  Prawiranegara  juga  diproses  sebagai calon&lt;br /&gt;pahlawan nasional. Namanya lolos seleksi Badan Pembina Pahlawan Pusat.&lt;br /&gt;Namun,  usulan  ini  kandas di tangan Presiden. Tampaknya keterlibatan&lt;br /&gt;Sjafruddin  Prawiranegara  dalam sebuah pemberontakan tetap tidak bisa&lt;br /&gt;ditolerir kepala negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Sjafruddin Prawiranegara memiliki jasa besar terhadap negara.&lt;br /&gt;Apa  jadinya  Indonesia  bila  Sjafruddin  tidak  memimpin  Pemerintah&lt;br /&gt;Darurat  Republik Indonesia (PDRI), pemerintahan gerilya yang bergerak&lt;br /&gt;di  Sumatera.  Tentu  terjadi  kevakuman  pemerintahan,  atau republik&lt;br /&gt;mengalami mati suri sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  ini,  pemerintah hanya menetapkan terbentuknya PDRI sebagai hari&lt;br /&gt;bela  negara.  Selain  bintang  jasa  tertinggi yang diterima, namanya&lt;br /&gt;diabadikan  pada  dua  gedung  yang berseberangan di Jl Budi Kemuliaan&lt;br /&gt;Jakarta  (di  kompleks  Bank  Indonesia  dan  satu  lagi di Departemen&lt;br /&gt;Pertahanan karena Sjafruddin pernah memimpin kedua instansi ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Minangkabau tentu bangga bila pemangku adat Mohammad Natsir yang&lt;br /&gt;bergelar  Datuk  Sinaro Panjang menjadi pahlawan nasional. Namun, bila&lt;br /&gt;ketentuan menegaskan, tokoh yang terlibat pemberontakan tidak memenuhi&lt;br /&gt;syarat,  dengan  jiwa  besar  harus menerimanya. Bukankah Natsir telah&lt;br /&gt;mendapat   penghargaan  Bintang  Republik  Indonesia  Adipradana  yang&lt;br /&gt;diberikan  semasa pemerintahan Habibie. Meski itu bukan gelar pahlawan&lt;br /&gt;nasional,  biarlah  asketisme  hidupnya senantiasa dikenang masyarakat&lt;br /&gt;dan  kebersahajaan beliau menjadi contoh bagi kita semua terutama para&lt;br /&gt;pemimpin di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-5035090714060595290?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/5035090714060595290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=5035090714060595290' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/5035090714060595290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/5035090714060595290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/08/mohamad-natsir-menurut-tulisan-peneliti.html' title='Mohamad Natsir menurut tulisan Peneliti LIPI di Kompas'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-6490652532492860347</id><published>2008-08-17T04:58:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T04:59:48.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masoedabidin.blogspot.com'/><title type='text'>Ekonomi dalam gagasan Mohamad Hatta cocok dengan zaman kini</title><content type='html'>12/08/08 23:27&lt;br /&gt;Sistem Ekonomi Bung Hatta Cocok dengan Kondisi Saat Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta (ANTARA News) - Sistem Ekonomi yang diusung oleh proklamator&lt;br /&gt;Indonesia Muhammad Hatta masih cocok dengan kondisi saat ini bahkan bisa&lt;br /&gt;menjawab kesejahteraan bagi rakyat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut diungkapkan oleh Anwar Abbas, pengarang buku "Bung Hatta dan&lt;br /&gt;Ekonomi Islam, Pergulatan Menangkap Makna Keadilan dan Kesejahteraan" dalam&lt;br /&gt;peluncuran buku tersebut di Jakarta, Selasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar melihat sistem perekonomian global dan Indonesia belum dan semakin&lt;br /&gt;tidak berpihak kepada rakyat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stiglitz (pemenang nobel Joseph E Stiglitz) mengatakan sistem ekonomi hari&lt;br /&gt;ini kurang berpihak kepada rakyat miskin karena itu perlu sistem ekonomi&lt;br /&gt;alternatif," kata Dosen Ekonomi Islam Fakultas Syariah Universitas Islam&lt;br /&gt;Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar mengatakan sistem ekonomi yang diusung Bung Hatta bisa menjawab hal&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana pemerintah mempunyai komitmen menyelenggarakan ekonomi&lt;br /&gt;berkeadilan dan bisa menyejahterakan rakyat. Saya lihat pemerintah sudah&lt;br /&gt;berusaha tapi tidak maksimal," kata Ketua Majelis Ekonomi Pengurus Pusat&lt;br /&gt;Muhammadiyah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar melihat apabila pemerintah benar-benar menerapkan sistem perekonomian&lt;br /&gt;seperti pada Pasal 27, Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 maka kesejahteraan&lt;br /&gt;rakyat bisa tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fenomena perekonomian saat ini egoistik dan individualistik sehingga&lt;br /&gt;keragaman, kebersamaan dan persatuan tidak tercapai," kata Sekretaris&lt;br /&gt;Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran ekonomi Hatta secara substansial dapat dinilai sejalan atau&lt;br /&gt;paralel dengan konsep Islam terutama dilihat dari sisi falsafah, tujuan&lt;br /&gt;nilai-nilai dasar dan nilai instrumentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu pemikiran ekonomi Hatta bisa dilihat sebagai salah satu&lt;br /&gt;bagian dalam pemikiran ekonomi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar mengatakan disertasinya tersebut memperkuat kesimpulan dari Nurcolish&lt;br /&gt;Majid dan Sri Edi Swasono yang melihat sosok Bung Hatta sebagai sosok yang&lt;br /&gt;religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sehingga kedua tokoh ini mempertanyakan kesimpulan yang menyatakan bahwa&lt;br /&gt;Hatta adalah seorang nasionalisme atau muslim sekuler seperti dikemukakan TH&lt;br /&gt;Sumartana dan Ricklets dan Endang Saifuddin," kata Anwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar mengatakan bahwa Sri Edi Swasono mengungkapkan pemikiran ekonomi yang&lt;br /&gt;dikembangkan Hatta terkait pada tauhid keislaman yang berdasar hakekat&lt;br /&gt;kehidupan bangsa ataupun manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hatta melihat bahwa alam semesta termasuk harta kekayaan milik Allah oleh&lt;br /&gt;karena itu ekonomi harus menjunjung nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan&lt;br /&gt;dengan mengaplikasikan.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COPYRIGHT C 2008&lt;br /&gt;http://www.antara.co.id/arc/2008/8/12/sistem-ekonomi-bung-hatta-cocok-dengan&lt;br /&gt;-kondisi-saat-ini/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-6490652532492860347?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/6490652532492860347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=6490652532492860347' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6490652532492860347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6490652532492860347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/08/ekonomi-dalam-gagasan-mohamad-hatta.html' title='Ekonomi dalam gagasan Mohamad Hatta cocok dengan zaman kini'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-4252532085319410861</id><published>2008-08-17T04:52:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T04:56:17.839-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masoedabidin.blogspot.com'/><title type='text'>SIMALANCA  yang ditulis oleh Wisran Hadi</title><content type='html'>SIMALANCA&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;Wisran Hadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh legendaris yang cerdik, licik, galir dan prolifik di dalam cerita rakyat Minangkabau namanya Si Malanca. Dia bisa jadi apa saja (sekarang mungkin dapat dipadankan dengan Gubernur, Bupati atau Walikota). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Malanca memang hebat, terutama dalam menyelami watak warganya. Menurut Si Malanca, setiap warga harus didengar keluhan, kritik atau saran-sarannya. Karena bagi warga itulah yang penting yaitu berbicara di depan Si Malanca.  Setelah mereka bicara, selanjutnya mereka dengan bangga akan bicara pula di warung dan lepau; “Lah den kecek an bana ka Si Malanca tu. Inyo iyo bajanji ka mamparatian kampuang awak ko! Maangguak-angguak inyo maiyoan apo nan den kecek an.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tuntas dihadapan Si Malanca adalah kebanggaan tersendiri. Dengan bicara tuntas di depan Si Malanca, artinya sipembicara telah melepaskan hutang sosial mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan demikianlah yang dipergunakan Si Malanca dalam menjalankan pemerintahan nagarinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Malanca juga mengunjungi dan mengundang tokoh-tokoh masyarakat datang ke rumahnya. Bicara berbagai hal tentang nagari dan masyarakatnya. Dan para tokoh-tokoh masyarakat itu pula, dengan semangat yang penuh mereka bicara segala aspek tentang kehidupan masyarakat, lengkap dengan kritik, solusi, nasehat-nasehat, pepatah-petitih dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Malanca mendengarkan semua itu dengan penuh perhatian.  Sehingga tokoh-tokoh itu mendapat kesan dan yakin, bahwa apa yang mereka katakan secara langsung kepada Si Malanca, adalah sebuah pekerjaan mulia dan penting. Ikut membantu kesulitan yang dihadapi Si Malanca.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagianya mereka si Malanca pun mendatangi kampung-kampung yang masih belum lengkap sarana umumnya. Jalan berlubang-lubang, listrik belum masuk, sarana air tidak terawat, dan sebagainya. Orang-orang kampung senang, karena Si Malanca telah berkunjung ke kampung itu. Orang-orang kampung pun bangga, karena Si Malanca tampak benar-benar telah mendengar keluhan warganya.  Bahkan dengan ramah Si Malanca mengatakan, bahwa kampung itu harus mendapat prioritas untuk dibangun dan dilengkapi sarana umumnya. Itulah yang membuat Si Malanca dekat di hati warganya. Si Malanca selalu bersedia mendengar keluhan warganya.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akan tetapi, setelah tokoh-tokoh masyarakat itu pulang dari rumah Si Malanca, atau setelah Si Malanca pulang dari kunjungannya ke kampung-kampung itu,  Si Malanca segera melupakan kata-kata atau kritik para tokoh masyarakat, janji-janjinya pada orang kampung. Si Malanca kembali meneruskan pekerjaannya sesuai dengan apa yang diinginkannya.  Dia bangun pasar di mana tempat yang disukainya, dibiarkannya anak-anak miskin terlantar, bahkan kendaraan macet pada setiap persimpangan dilihatnya sebagai sebuah dinamika kehidupan, dan sebagainya, dan sebagainya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, apabila ada seorang pejabat yang tampaknya sangat antusias mendengar kritik masyarakat tetapi diam-diam pejabat itu mengerjakan apa yang disukainya sendiri, lalu mereka yang mengenal cerita rakyat Si Malanca akan mengatakan;  Ah, memang baitu kalakuan Si Malanca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep apakah yang dipakai Si Malanca dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat yang suka dengan kebanggaan-kebanggaan demikian?  Itulah resep tentang kelicikan yang paling ampuh yang dimiliki orang Minangkabau;  iyoan nan di urang, laluan nan di awak.   Dan Si Malanca-Si Malanca itu sampai hari ini telah mempergunakannya dengan sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat contoh-contoh pituah-pituah si Malanca silakan klik di:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://nagari.or.id/index.php?moda=wisran&amp;no=131&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-4252532085319410861?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/4252532085319410861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=4252532085319410861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/4252532085319410861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/4252532085319410861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/08/simalanca-yang-ditulis-oleh-wisran-hadi.html' title='SIMALANCA  yang ditulis oleh Wisran Hadi'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-7606445477744113153</id><published>2008-08-17T04:50:00.001-07:00</published><updated>2008-08-17T04:51:11.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masoedabidin.blogspot.com'/><title type='text'>Kediaman Hatta</title><content type='html'>Menjelajah Rumah Kelahiran Bung Hatta, ”Soekarno Hatta 37 Itu Masih Sakral” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 12 Agustus 2008 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dahulu, warga Bukittinggi tempo doeloe menyebutnya Jalan Aua Tajungkang Tangah Sawah. Tapi karena di jalan tersebut dahulu telah lahir seorang putera terbaik bangsa dan dicatat sejarah sebagai Bapak Proklamator, maka pemerintah mengubah nama jalan tersebut menjadi Jalan Soekarno-Hatta. Pada rumah bernomor 37 itulah, seorang anak bangsa dilahirkan sebagai cikal bakal munculnya tokoh perintis kemerdekaan RI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, jika telah berkunjung atau pernah meluangkan waktu singgah ke rumah kelahiran Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi. Bagi yang belum, setidaknya feature ini bisa menggambarkan seperti apa suasana dan kesakralan yang terasa ketika menapak jengkal per jengkal salah satu bukti sejarah perjalanan hidup seorang anak bangsa yang sangat berjasa, dan telah menanamkan hidup sebagai orang Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tadi terletak di Jalan Soekarno Hatta nomor 37. Tapi ingat dan baca aturannya, sebelum menginjakkan kaki ke rumah tersebut, seluruh pengunjung tanpa terkecuali diwajibkan melepas alas kaki. Alasannya sederhana saja, agar tidak kotor dan kebersihan serta keasriannya terjaga. Tapi wajar saja, petugas memang agak kewalahan membersihkan rumah tersebut, terutama saat musim libur yang ramai dikunjungi wisatawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1995, Yayasan Wawasan Proklamator yang membawahi Universitas Bung Hatta bersama Pemprov Sumbar telah merenovasi serta mengembalikan keaslian rumah Bung Hatta mendekati aslinya. Termasuk mencari benda-benda yang pernah ada dirumah tersebut dahulunya. Hebatnya, tim renovasi juga berupaya mencari data dan informasi ke ratusan narasumber, untuk membuat replika kondisi sesungguhnya rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunannya terbagi menjadi dua lantai. Lantai satu rumah utama dan bagian belakang terdiri dari beranda, kamar bujangan, kamar Mak Saleh, kamar Saleh Sutan Sinaro, ruang tamu, kamar Mak Idris, ruang makan keluarga, empat ruangan batu dengan pintu, kandang bendi, kandang kuda dan dua lumbung penyimpan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memasuki kamar per kamar, sebaiknya dimulai dari kamar bujangan yang terletak paling dekat dengan beranda masuk. Dalam kamar bujangan terdapat koleksi buku-buku Bung Hatta yang sempat dikumpulkan dari sejumlah sumber. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya juga terdapat satu replika meja belajar yang dahulu selalu dipergunakan Hatta muda untuk membaca dan menulis. Juga terpajang diatas meja tadi sejumlah koleksi foto Bung Hatta bersama orang tua dan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di ruangan tadi juga ditemukan beberapa sisa koleksi perangko dan benda-benda pos, yang tercatat pernah dipergunakan atau dijual untuk pengiriman surat menyurat dari Pasaman. Cukup banyak benda-benda kecil lainnya, yang ditata dan diletakkan untuk mengingatkan bahwa di kamar tersebut Bung Hatta telah menghabiskan masa mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai rumah yang dibangun dengan pengaruh gaya Belanda, dinding rumah ini terbuat dari kombinasi papan dan anyaman bambu. Bahkan, walau berbentu seni arsitektur Belanda, tapi sebagian sisi bangunan tetap mendapat sentuhan Minangkabau, dengan bagian plafon yang berukir bambu serta rotan. Termasuk lantai yang menggunakan anyaman rotan sebagai lapisan lantai yang terbuat dari papan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ruang tamu, kamar tidur Mak Saleh dan Mak Idris terletak di sebelahnya. Di dinding ruang tamu terpampang duplikat foto-foto, duplikat teks proklamasi, ranji keluarga dari ayah dan ibu Bung Hatta, bibliografi dan lukisan bung Hatta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu gantung dan jam dinding merupakan koleksi asli yang sempat terselamatkan, termasuk sebuah jam dinding menggunakan gandul yang tidak berfungsi lagi. Bahkan terdapat sebuah mesin jahit kuno dikamar Mak Saleh, diperkirakan produksi akhir abad 18, dengan pemutar mesin di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman belakang terdapat sebuah sumur tua, yang diperkirakan telah ada sejak 1860, ketika rumah itu sendiri belum dibangun. Hingga sekarang sumur ini masih digunakan, dan sempat diteliti kondisi airnya oleh IPB. Masih di dekat sumur tadi, terdapat empat ruangan berdinding batu yang juga dijadikan kamar bujangan, dapur, kamar mandi dan ruang bendi. Jangan lupa, juga terdapat kerangka sepeda asli buatan 1908, tapi sebagian peralatannya telah diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun bergaya Belanda dengan pintu dan jendela lebar, dikiri bangunan terdapat dua lumbung padi, masing-masing milik Aminah (ibu Bung Hatta) dan milik Saleh (paman). Di depan lumbung terdapat lesung penumbuk padi dari batu, serta kandang kuda di bagian kanan dan kandang bendi yang terbuka tanpa pintu. Tapi sebagai anak Minang, Bung Hatta hanya beraktifitas di rumah tersebut hingga usia enam tahun, selanjutnya ia teruskan menuntut ilmu dan tinggal di Surau. (eka r alka) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-7606445477744113153?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/7606445477744113153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=7606445477744113153' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7606445477744113153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7606445477744113153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/08/kediaman-hatta_17.html' title='Kediaman Hatta'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-7098683271550369882</id><published>2008-08-17T04:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T04:51:10.349-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masoedabidin.blogspot.com'/><title type='text'>Kediaman Hatta</title><content type='html'>Menjelajah Rumah Kelahiran Bung Hatta, ”Soekarno Hatta 37 Itu Masih Sakral” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 12 Agustus 2008 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dahulu, warga Bukittinggi tempo doeloe menyebutnya Jalan Aua Tajungkang Tangah Sawah. Tapi karena di jalan tersebut dahulu telah lahir seorang putera terbaik bangsa dan dicatat sejarah sebagai Bapak Proklamator, maka pemerintah mengubah nama jalan tersebut menjadi Jalan Soekarno-Hatta. Pada rumah bernomor 37 itulah, seorang anak bangsa dilahirkan sebagai cikal bakal munculnya tokoh perintis kemerdekaan RI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, jika telah berkunjung atau pernah meluangkan waktu singgah ke rumah kelahiran Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi. Bagi yang belum, setidaknya feature ini bisa menggambarkan seperti apa suasana dan kesakralan yang terasa ketika menapak jengkal per jengkal salah satu bukti sejarah perjalanan hidup seorang anak bangsa yang sangat berjasa, dan telah menanamkan hidup sebagai orang Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tadi terletak di Jalan Soekarno Hatta nomor 37. Tapi ingat dan baca aturannya, sebelum menginjakkan kaki ke rumah tersebut, seluruh pengunjung tanpa terkecuali diwajibkan melepas alas kaki. Alasannya sederhana saja, agar tidak kotor dan kebersihan serta keasriannya terjaga. Tapi wajar saja, petugas memang agak kewalahan membersihkan rumah tersebut, terutama saat musim libur yang ramai dikunjungi wisatawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1995, Yayasan Wawasan Proklamator yang membawahi Universitas Bung Hatta bersama Pemprov Sumbar telah merenovasi serta mengembalikan keaslian rumah Bung Hatta mendekati aslinya. Termasuk mencari benda-benda yang pernah ada dirumah tersebut dahulunya. Hebatnya, tim renovasi juga berupaya mencari data dan informasi ke ratusan narasumber, untuk membuat replika kondisi sesungguhnya rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunannya terbagi menjadi dua lantai. Lantai satu rumah utama dan bagian belakang terdiri dari beranda, kamar bujangan, kamar Mak Saleh, kamar Saleh Sutan Sinaro, ruang tamu, kamar Mak Idris, ruang makan keluarga, empat ruangan batu dengan pintu, kandang bendi, kandang kuda dan dua lumbung penyimpan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memasuki kamar per kamar, sebaiknya dimulai dari kamar bujangan yang terletak paling dekat dengan beranda masuk. Dalam kamar bujangan terdapat koleksi buku-buku Bung Hatta yang sempat dikumpulkan dari sejumlah sumber. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya juga terdapat satu replika meja belajar yang dahulu selalu dipergunakan Hatta muda untuk membaca dan menulis. Juga terpajang diatas meja tadi sejumlah koleksi foto Bung Hatta bersama orang tua dan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di ruangan tadi juga ditemukan beberapa sisa koleksi perangko dan benda-benda pos, yang tercatat pernah dipergunakan atau dijual untuk pengiriman surat menyurat dari Pasaman. Cukup banyak benda-benda kecil lainnya, yang ditata dan diletakkan untuk mengingatkan bahwa di kamar tersebut Bung Hatta telah menghabiskan masa mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai rumah yang dibangun dengan pengaruh gaya Belanda, dinding rumah ini terbuat dari kombinasi papan dan anyaman bambu. Bahkan, walau berbentu seni arsitektur Belanda, tapi sebagian sisi bangunan tetap mendapat sentuhan Minangkabau, dengan bagian plafon yang berukir bambu serta rotan. Termasuk lantai yang menggunakan anyaman rotan sebagai lapisan lantai yang terbuat dari papan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ruang tamu, kamar tidur Mak Saleh dan Mak Idris terletak di sebelahnya. Di dinding ruang tamu terpampang duplikat foto-foto, duplikat teks proklamasi, ranji keluarga dari ayah dan ibu Bung Hatta, bibliografi dan lukisan bung Hatta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu gantung dan jam dinding merupakan koleksi asli yang sempat terselamatkan, termasuk sebuah jam dinding menggunakan gandul yang tidak berfungsi lagi. Bahkan terdapat sebuah mesin jahit kuno dikamar Mak Saleh, diperkirakan produksi akhir abad 18, dengan pemutar mesin di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman belakang terdapat sebuah sumur tua, yang diperkirakan telah ada sejak 1860, ketika rumah itu sendiri belum dibangun. Hingga sekarang sumur ini masih digunakan, dan sempat diteliti kondisi airnya oleh IPB. Masih di dekat sumur tadi, terdapat empat ruangan berdinding batu yang juga dijadikan kamar bujangan, dapur, kamar mandi dan ruang bendi. Jangan lupa, juga terdapat kerangka sepeda asli buatan 1908, tapi sebagian peralatannya telah diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun bergaya Belanda dengan pintu dan jendela lebar, dikiri bangunan terdapat dua lumbung padi, masing-masing milik Aminah (ibu Bung Hatta) dan milik Saleh (paman). Di depan lumbung terdapat lesung penumbuk padi dari batu, serta kandang kuda di bagian kanan dan kandang bendi yang terbuka tanpa pintu. Tapi sebagai anak Minang, Bung Hatta hanya beraktifitas di rumah tersebut hingga usia enam tahun, selanjutnya ia teruskan menuntut ilmu dan tinggal di Surau. (eka r alka) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-7098683271550369882?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/7098683271550369882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=7098683271550369882' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7098683271550369882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7098683271550369882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/08/kediaman-hatta.html' title='Kediaman Hatta'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-6300539948770812488</id><published>2008-08-17T04:48:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T04:49:33.497-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masoedabidin.blogspot.com'/><title type='text'>Makinuddin Hs dan Peristiwa Situjuah</title><content type='html'>Mayor Makinuddin HS dan Peristiwa Situjuah &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 11 Agustus 2008 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika dapat diibaratkan sebuah film kolosal, Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949 yang memiliki kaitan dengan keberadaan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), memiliki sederet pemeran utama, pemeran pendukung, pemeran pilihan, penyusun skenario, serta sutradara. Jika tokoh utama diperankan Khatib Sulaiman, Arisun Sutan Alamsyah, Dahlan Ibrahim, Kamaluddin Tambiluak, Syofyan Ibrahim, Munir Latief, dan Kapten Zainuddin Tembak. Untuk aksi pemeran pilihan tentu dimainkan oleh tokoh-tokoh sekelas Mayor A. Thalib, Kapten Syafei, Sidi Abu Bakar, Kapten Thantowi, dan sebagiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk pemeran pembantu, diperagakan dengan semangat tinggi oleh ratusan anggota BPNK, opsir, rakyat dan tentu saja serdadu dari negeri Kincir Angin Belanda, yang menggempur Lurah Kincia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, siapakah yang layak disebut sebagai penulis skenario serta sutradara di balik peristiwa Situjuah itu? Jawabannya, kemungkinan besar adalah Gubernur Militer Sumatra Tengah, Mr. Sutan Muhammad Rasyid, dan Wedana Militer Payakumbuh Selatan Mayor Makinuddin HS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Sutan Muhammad Rasyid adalah tokoh yang meminta diadakan rapat penting di Situjuah. Rapat tersebut bertujuan untuk mencari solusi upaya perjuangan bangsa dalam mempertahankan Pemerintahan Darurat Republik Indinesia (PDRI), dari gempuran Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah ‘skenario’ ditulis Sutan Muhammad Rasyid, tentu saja dengan sepengetahuan sang “produser” bernama Mr. Syafruddin Prawiranegara (Presiden PDRI). Maka, ditunjuklah seorang sutradara untuk mengatur. Sutradara itu bernama Mayor Makinuddin HS. Dialah yang mempersiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan rapat di Situjuah,” ujar Fajar Rillah Vesky, wartawan yang tengah menggarap Buku “Tambiluak: Secuil Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor Makinuddin pulalah yang meyakinkan Dahlan Ibrahim, kalau rapat di Lurah Kincia aman, karena di sekeliling ada banyak pembantu sekuriti yang menjadi pengawas. Walau kemudian, mujur tak dapat diraih, malang sekejap mata, Lurah Kincia justru diserang serdadu Belanda dari Padang Panjang dan Bukittingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Makinuddin&lt;br /&gt;Ketika pulang kampung, setelah merantau ke Singapura, Makinuddin kembali ke tanah air. Dia menjadi guru agama di Lubuak Jambi, dalam wilayah Riau. Tak lama kemudian, dia meninggalkan bumi Lancang Kuning dengan menjadi guru agama di Situjuah Batua (1942).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makinuddin melihat perjuangan pergerakan bangsa waktu itu sedang hangat-hangatnya. Sebagai seorang berpendidikan, cinta bangsa, keras, suka tantangan dan berani, hatinya kecilnya ikut terpanggil untuk bergabung dengan pergerakan di Payakumbuh/Limapuluh Kota .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan hati itu kemudian dibuktikan Makinuddin dengan masuk menjadi anggota Gyu Gun di Payakumbuh. Selama di Gyu Gun bentukan Jepang ini, dia mulai ditempa jiwa mileter. Rasa sebangsa dan setanah air, makin bergelora di jiwanya. Makinudin pun makin aktif di berbagai kegiatan perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Indonesia telah Merdeka, Makinuddin dipercaya sebagai Komandan Batalyon III/Singa Harau. Dialah Komandan Batalyon pertama di wilayah Payakumbuh/Limapuluh Kota setelah NKRI ada dan menikmati alam merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun Indonesia merdeka atau sekitar tahun 1947, Makinuddin mengalami perpindahan tugas. Dia dipercaya memimpin Batalyon Istimewa Galanggang di Payakumbuh. Namun jabatan tersebut tidak bertahan lama di tangannya, karena ibukota RI di Jogyakarta pada tahun 1948 mulai digempur Agresi Militer II Belanda. Gempuran serupa juga dirasakan di Bukittingi dan daerah lainnya dalam wilayah Sumatra Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena agresi Belanda semakin mengancam, para pejabat militer dan pemerintah RI ambil ancang-ancang. Mayor Makinuddin yang sedang menjabat sebagai Danyon Istimewa Galanggang, ditujujuk menjadi Komandemen Kepala Perlengkapan Sumatra Tengah pada tahun 1948-1949. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa bertugas di sini, Makinuddin pernah dua kali pindah kantor. Pertama, di gedung Gudang Garam kampung Cina Payakumbuh. Kedua, ke lantai dua Toko Tokra Jalan Kampung Cina. Diantara anak buahnya waktu itu adalah Syamsul Bahri, Junahar, Amiruddin KR dan Kamaluddin Tambiluak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Divisi III mengalami perubahan menjadi Divisi IX Banteng, jabatan Kepala P &amp; P diserahterimakan dari Mayor Makinuddin HS kepada Kapten Chatib Salim. Sedangkan Makinuddin diangkat menjadi Wedana Militer Payakumbuh Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjadi Wedana Militer inilah, Makinuddin dipercaya untuk mempersiapkan rapat penting pejuang pemerintahan dan militer Sumatra Tengah di Lurah Kincia, Situjuah Batua, 15 Januari 1949. Namun apalah daya, tidak lama setelah rapat tersebut ditutup sekiatr pukul 04.30 dini hari, Belanda datang menyerang. Akibatnya, para pahlawan berguguran satu persatu. Mereka yang meninggal pada hari itu diperkirakan mencapai 69 orang. Namun masih bersyukur, Makinuddin HS dapat selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setidaknya, usaha dan kerja keras Makinuddin HS, layak untuk dihargai, diapresiasi, sekaligus dijadikan keteladanan bagi generasi muda sekarang dan masa mendatang. Wedana militer itu telah memperlihatkan kalau seorang ‘anak kampung’ dari lereng Gunung Sago juga mampu memberi sumbangsih besar untuk negeri bernama Indonesia !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap tahun Peristiwa Situjuah diperingati. Mayor Makinuddin HS, memiliki peranan penting dalam peristiwa tersebut. Makinuddin HS wafat di Jakarta tahun 1974 dan dimakamkan TPU Karet. oJeffrey Ricardo Magno &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2007 - 2008 Harian Singgalang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-6300539948770812488?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/6300539948770812488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=6300539948770812488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6300539948770812488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6300539948770812488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/08/makinuddin-hs-dan-peristiwa-situjuah.html' title='Makinuddin Hs dan Peristiwa Situjuah'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-362321063926702966</id><published>2008-08-05T18:48:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T18:52:40.741-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><title type='text'>Sulthan Tunggul Alam Bagagarsyah</title><content type='html'>Artikel lama (April 2008) dari Harian Waspada Medan, nampaknyo belum pernah di posting (CP) ke Palanta, sebagai penambah nambah pengetahuan kita mengenai sejarah Ranah Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II&lt;br /&gt;Sultan Serdang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERBAKARNYA Pos Belanda di Padang dan Pariaman telah menimbulkan malu yang sangat besar bagi Belanda. Kebakaran itu dilakukan 2 bersaudara dari Suruasso pada tahun 1714. Setelah itu, keduanya menghilang. Mereka mengaku waris dari tahta Kerajaan Pagarruyung, yang waktu itu tahtanya dipegang oleh Raja Muning Shah alias Tuanku Nan Tuah, yang berhasil menyelamatkan diri dari uberan kaum Paderi. Raja Muning Shah ini mempersunting Tuan Gadis, tetapi kemudian bercerai dan Tuan Gadis kembali ke Suruasso.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SJkDb6o4JnI/AAAAAAAACrU/N6ezh4Q85IQ/s1600-h/RumahGadang.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SJkDb6o4JnI/AAAAAAAACrU/N6ezh4Q85IQ/s320/RumahGadang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231216220299601522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sir Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Bengkulu, pernah meminta bantuan kepada 2 bersaudara bengsawan Suruasso ini untuk mendampinginya melawat ke pedalaman Minangkabau. Ketika Belanda berkuasa, kedua bangsawan Suruasso ini beserta Sultan Alam Bagagar Shah disertai banyak pemukapemuka adat Minangkabau lainnya, dikumpulkan Belanda dengan dalih untuk “melindungi mereka dari ancaman Paderi”. Waktu itu Belanda sudah mendeking mereka dengan 100 orang serdadu ditambah 2 buah meriam besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika dipaksa dengan ancaman harus menandatangani Pernyataan untuk melepaskan semua tanah Minangkabau buat diserahkan kepada Hindia Belanda. Itu terjadi pada 10-2-1821, ketika itu Raja Muning Shah masih bersembunyi di Lubuk Jambi.  Maka dianggap Sultan Alam Bagagar Shah yang menggantikannya.(“Al die hoofden eene overeenkomst was getekend geworden, waarbij een afstand van alle Minangkabausche landen aan het Gouvernement werd bekend gestend”). &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SJkDblkZW1I/AAAAAAAACrM/Zol0JwWljL8/s1600-h/CapRaja.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SJkDblkZW1I/AAAAAAAACrM/Zol0JwWljL8/s320/CapRaja.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231216214643661650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menandatangani di bawah ancaman Belanda itu ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Daulat Yang Dipertuan Sultan Alam Bagagarshah van Pagarruyung;&lt;br /&gt;- Yang Dipertuan Sutan Kerajaan Alam van Suruasso;&lt;br /&gt;- Yang Dipertuan Raja Tangsir Alam van Suruasso;&lt;br /&gt;- Datuk Basuko en Datuk Mudo (voor zich en de overige 12 penghulu = untuk diri sendiri dan atas nama 12 Penghulu) van Batipuh;&lt;br /&gt;- Datuk Raja Muda en Datuk Palindih (voor zich en de overige 6 penghulu van Singkarak);&lt;br /&gt;- Datuk Raja Muda en Datuk Raja Bagagar (voor zich en de overige 8 penghulu van Saningbakar);&lt;br /&gt;- Datuk Raja Nan Sati (voor zich en de overige 5 penghulu van Bunga Tanjung);&lt;br /&gt;- Datuk Gadang Maharajalela (voor zich en de overige 5 penghulu van Pitalah);&lt;br /&gt;- Datuk Sati (voor zich en de overige 4 penghulu van Tg. Berulak);&lt;br /&gt;- Datuk Raja Bukuet (voor  zich en de overige  4 penghulu van Gunung Raja);&lt;br /&gt;- Datuk Penghulu Besar (voor zich en de overige 4 penghulu van Batu Sangkar);&lt;br /&gt;- Datuk Maharaja Lela (voor zich en de overige 6 penghulu van Sumpur);&lt;br /&gt;- Datuk Seripada (voor zich en de overige 6 penghulu van Melala);&lt;br /&gt;- Datuk Nakoda Intan en Datuk Paduka (voor zich en de overige 6 penghulu van Semawang);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deze Toewankoe Alam Bagagarshah was zusterkind en dus, volgens de landinstellingen, de wettige opvolger van bovengenoemden Raja Muningshah. Hij is later Regent van Tanah Datar geweest”.1.(Tuanku Alam Bagagarshah ini adalah putera dari saudara perempuan jadi menurut adat istiadat negeri ini, merupakan pengganti yang syah dari Raja Muningsyah tersebut. Ia kemudian menjadi Regent Tanah Datar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1824 Tuanku Nan Tuah alias Raja Muning Shah kembali ke Pagarruyung dari tempat persembunyiannya di Lubuk Jambi. Ternyata ia masih populer dan disambut rakyat dengan meriah di sana. Ia kemudian tinggal dengan tenang dan aman, karena tempat itu dijaga oleh pasukan Belanda yang membuat benteng disana sejak tangal 1 Januari 1823.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1826 Raja Muning Shah mangkat di Pagarruyung. Belanda mau melenyapkan bekas imperium tua Kerajaan Pagarruyung dan lalu memecah konsentrasi kekuasaan di Minangkabau itu. (De oude Vorst van Minangkabau, Raja Muningsyah of Tuanku Nan Tuah, kwam ook in het jaar 1826 te overlijden. Zijn Neef, Sultan Alam Bagagarsyah, was als Regent van Tanah Datar opgetreden en Tuanku Samat, een zoon van een der instellers der Padrische sekte, als Regent van Agam”. (Raja tua dari Minangkabau, Raja Muningsyah atau Tuanku Nan Tuah, mangkat pada tahun 1826. Keponakannya, Sultan Alam Bagagarsyah, diangkat sebagai Regent Tanah Datar dan Tuanku Samat, putera dari salah seorang pendiri Padri, diangkat sebagai Regent Agam).2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat tidak senang dengan politik pecah belah kekuasaan yang dilakukan Belanda, karena  politik licik Belanda agar dengan melalui para Regent (dan bawahannya para Kepala Laras dan Nagari serta Penghulu kampung dan Dusun) lebih mudah mengutip belasting dan  mengatur agar perdagangan rakyat tidak bebas lagi. Tidak mustahil jika banyak daerah seperti Sumpur, Batipuh, Sungai Bakau dan lain-lain berusaha sepandai mungkin menghindar dari tekanan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“……….de Resident en militaire Commandant gezamenlijk gemachtigd, onder nadere goedkeuring pachten of belasting in te voeren”)3. Oleh karena itu kaum Paderi berusaha akan membunuh Regent Tanah Datar, karena mereka mencurigai politik Belanda dibelakang layar, nanti akan melebarkan kekuasaan dia sampai ke pedalaman.  (“Men wil ook, dat die Tuanku (Pasaman van Lintau). maar wel de Regent van Tanah Datar, Sultan Alam Bagagarsyah, hem om het leven heft doen brengen, voon namelijk uit ijverzucht als bevreesd dat het Gouvernement hem eens het gezag over de binnen landen zou opdragen”.4  Mereka sebenarnya menghendaki ia digantikan oleh seorang Arab bernama Sayed Salimul Jafried, yang ahli hukum Islam tetapi juga pernah jadi orang kepercayaan Kolonel Stuers dulu. Dia ini pandai masuk kesana kemari. 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir tahun 1832, kaum Paderi pimpinan Tuanku Tambusai dibantu Panglimanya Tuanku Rao, telah hampir menguasai seluruh Tapanuli Selatan khususnya Padang Lawas, yang membuat Belanda serba salah karena takut melanggar perjanjian London 1824 dengan Inggris. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sentot Ali Basa, yang menurut Belanda berusaha, mengikat kembali rantai perlawanan menentang Belanda di Tanah Minangkabau bersama wilayah Tapanuli Selatan. Menurut laporan Belanda, Sentot Ali Basa, ini sengaja mau menimbulkan kekacauan kembali, dengan maksud agar dia nanti bisa meredakannya sendiri, dengan harapan agar Belanda mengangkat dia jadi raja (Panembahan) disesuatu daerah di Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu ia bersedia bekerja sama dengan Regent Tanah Datar Sultan Alam Bagagar Shah dan dengan Tuanku Nan Cerdik. “Terzelfde tijd werd het den Resident en Militiairen Komandant ook duidelijk dat de ontwerpen tot dien opstand geheel bekend waren geweest aan de Ali Basa, aan den Regent van Tanah Datar, Tuanku Pagarruyung en aan Tuanku Nan Tjerdik”. (Bersamaan waktu itu, makin jelaslah bahwa rencana pemberontakan itu seluruhnya diketahui oleh Ali Basa, kepada Regent Tanah Datar, Tuanku Pagarruyung dan kepada Tuanku Nan Cerdik) 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Alam Bagagarsyah secara sembunyi telah menyalakan api perlawanan terhadap Belanda khususnya didaerah Agam dengan 6 distrik, terutama Kamang, Mage, Kota Baru dan Sage masuk kampung keluar kampung dan diketahui penduduk sudah membuat benteng dan hempangan (barikade) dipersimpangan jalan besar pada awal 1833. (“Jang Dipertoean van Pagarruyung immer voortging met de vonken in het geheim aan te blazen, ten dade ook in die oorden den opstand te doen breken”)7. Sesuai dengan Peraturan (Reglement) Residen Sumatera Barat tgl. 27 Okt. 1823 No. 58, pembahagian Pemerintahan di Sumatera Barat sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.   Padang Wilayah&lt;br /&gt;1. Regent Padang, 2. Regent Pariaman, 3. Regent Pulau Cinko, 4. Regent Air Haji;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.   Minangkabau (Afdeeling ini dibagi sebagai berikut ) :&lt;br /&gt;1. Regent Tanah Datar, 2. Regent Tanah Datar Di bawah, 3. Regent Agam dan 5 Regen Limapuluh Koto;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah Regentschap ini ada Latas (distrik) dan di bawahnya lagi ada Kampung dan Dusun. Di Tapanuli dan Nias yang masa itu tunduk ke Sumatera Barat ada pembahagian lain. Pada mula system Regent ini diadakan, Sultan Alam Bagagar Shah menjabat sebagai Regent seluruh Minangkabau, kemudian turun hanya Tanah Datar saja. Kemudian dikeluarkan lagi wilayah Tanah Datar  Bawah dari kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Belanda, Sultan Bagagarsyah bercita-cita untuk mengusir Belanda sampai ke laut sehingga mudahlah baginya untuk mendirikan kembali Imperium Tua Minangkabau Pagarruyung bahkan akan meluaskannya. ( “Hij verbeelde zich dan indien wij genoodzaakt waren naar de stranden terug te trekken, het hem gemakkelijk zou vallen het oude Minangkabausche Rijk weder op te rigten en zelfs uit te breiden”).8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda kemudian menyelenggarakan suatu pertemuan besar di Biru, dimana hadir Sentot Ali Basa, Tuanku Sultan Bagagarsyah, Tuanku Nan Cerdik, Tuanku Alam. Disitu dibacakan oleh Residen Elout antara lain sebuah Surat Pengangkatan dari Yang Dipertuan Pagarruyung Sultan Bagagarsyah yang turut juga ditandatangani oleh Tuanku Imam Bonjol, yang menunjuk Tuanku Alam dari Kaman untuk beroperasi di daerah sebagian dari XII Koto (di pedalaman) dan di daerah 4 Raja di Kumpulan buat berontak mengusir Belanda dari tanah Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“…… een door zekeren in Kaman wonende Toeankoe Alam, ontworpen, door den Jang Dipertoean van Pagarruyung en den Tuanku Imam Bondjol ondertekend stuk”).9 Tuanku Alam langsung ditangkap dan keesokan harinya di hukum pancung oleh Belanda. Begitu juga Tuanku Nan Cerdik ditangkap dan kemudian dibuang ke Betawi tgl.16-3-1833. Komandan Militer Belanda mendesak agar Sentot Ali Basa segera disingkirkan. Kepada Sentot Ali Basa Residen secara diplomatis meminta agar Sentot berangkat ke Betawi guna melaporkan situasi keamanan disana. Ternyata ia tidak dibenarkan kembali ke Sumatera bahkan kemudian dibuang ke Bengkulu. Tentera Jawa Barisannya tetap di Sumatera dan menjadi bahagian dari tentera Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuang&lt;br /&gt;Mengenai Sultan Alam Bagagar Shah, banyak kalangan Belanda minta agar dia segera disingkirkan, tetapi Residen berpikir menunggu kesempatan yang lebih baik nanti karena Residen menganggap dia lemah pengaruhnya kepada rakyat. 10 (“Men vatte de gedachte op, om de Yang Dipertuan Pagarruyung te verwijderen, doch ditwerd tot gelegener uur uitgesteld”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah saat terakhir ditemukan bukti bahwa Regent Tanah Datar menancapkan pengaruhnya masuk kampung keluar kampung, terutama disekitar bulan April 1833, dan setelah diketahui Belanda bahwa Tuanku Sultan Alam Bagagar Shah menulis surat dan minta bantuan Inggris mengirim pasukan sebagai bantuan dari Singapura kepadanya, maka Residen Elout tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan harus segera menangkap Regent Tanah Datar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…………..dat de Regent van Pagarruyung reeds vele maanden vroeger brieven had geschreven aan de Engelschen (waarschinjlijkvan Singapore) om hunne hulp in te roepen tegen ons” (……….. bahwa Regent Pagarruyung sudah sejak berbulan-bulan yang lalu menulis surat kepada Inggris (mungkin ke Singapura) agar mereka memberikan pertolongan melawan kita).11 Ketika akan pulang meninggalkan rapat di Biru itu Residen Elout dengan marahnya mengecam tindak tanduk Sultan Bagagarshah. Lalu serta merta disuruhnya pasukan menangkap Sultan Alam Bagagarsyah dan di bawa ke Padang (2 Mei 1833). Ketika perlawanan rakyat makin menjadi-jadi kemudian ia nanti dibawa ke Jawa (Betawi) untuk dibuang disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya kepada Gubernur Jendral, Elout menulis: “Ik ben nu volkomen overtuigd dat de Regent Tanah Datar met den Ali Basa en Toewankoe nan Tjerdik sedert lang in het complot waren tegen het Gouvernement”. Kemudian didalam, suratnya tgl. 6 Desember 1833 Elout melaporkan lagi kepada Van den Bosch : “……… Untuk lebih perlu memberikan bukti kepada Yang Mulia mengulang kembali pengkhianatan seperti saya laporkan dahulu disertai bukti-bukti tertulis mengenai Yang Dipertuan Pagarruyung, mengingatkan kita bahwa dia sejak zaman Pemerintahan Kolonel dan Residen De Struers, selalu mencoba menentang kita, terbukti dalam surat jawaban kepadanya oleh Toeanku Kapoh, yang saya perlihatkan dulu kepada Yang Mulia ditempat ini (di Padang) dan juga balasan dari surat-menyurat dari Tuanku Alam yang kegiatan hebatnya di mana-mana sudah diketahui dan dalam surat menyurat yang sudah disampaikan kepada Yang Mulia. Kedua mereka ini sudah dikenal aktivitasnya satu persatu; dan sebaliknya begitu baiknya tindak tanduknya dibela di Betawi oleh Yang Dipertuan Pagarruyung”. 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata 2 hari sesudah penangkapannya, seharusnya Sultan Alam Bagagar Shah akan mengepalai sebuah rapat besar di Sumpur, di mana akan ditentukan jam dan hari proklamasi serentak pemberontakan terhadap Belanda diseluruh alam Minangkabau. Memang berita penangkapan dan pembuangan Sultan Alam Bagagarsyah menimbulkan aksi luas yang luarbiasa diseluruh Minangkabau. Di bawah pimpinan Regent Buah, yang juga kerabat dari Sultan Bagagar Shah dia, memerintahkan kepada beberapa orang Dubalang, menyerang Letnan Hendriks, pada malam 12 Mei 1833, tetapi dalam keadaan sekarat Hendriks dapat selamat lari ke benteng. Kemudian benteng Belanda di Gugung Sigandang dikepung gerilyawan rakyat, di mana komandan benteng, Letnan Tomsos, dapat ditewaskan bersama pasukannya dan benteng dibakar. Di Ambacang, benteng Fort de Kock dan benteng Belanda di Kuriri di kepung dan diserang gerilyawan rakyat. Belanda menunjukkan kekejamannya dengan memenggal 15 orang pejuang rakyat yang dapat tertangkap.13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian baru di Sumatera Barat itu membangkitkan ketakutan Belanda akan kemungkinan berulangnya lagi perang besar “Bonjol II”.Sehingga dengan terburu-buru didatangkanlah dari Betawi bantuan pasukan sebesar 1100 serdadu bersama dengan Mayor Jenderal Riesz didampingi Komisaris Hindia Belanda, Van den Bosch. Sultan Alam Bagagar Shah dibuang di Betawi dan mangkat di sana 1849. Selama masa pembuangan di Betawi kegiatannya terus dipantau oleh intel Belanda. Tetapi bagaimanapun sampai akhir hayatnya ia tidak pernah berkhianat dalam tujuan perjuangannya.&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASPADA Online&lt;br /&gt;Sunday, 06 April 2008 00:42 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-362321063926702966?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/362321063926702966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=362321063926702966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/362321063926702966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/362321063926702966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/08/sulthan-tunggul-alam-bagagarsyah.html' title='Sulthan Tunggul Alam Bagagarsyah'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SJkDb6o4JnI/AAAAAAAACrU/N6ezh4Q85IQ/s72-c/RumahGadang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-7703186417185921459</id><published>2008-08-05T18:45:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T18:46:38.875-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garinyiek Minangkabau Yogya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Minangkabau'/><title type='text'>Mandeh Sitti ( 1881-1965 ), Singa Betina dari Manggopoh</title><content type='html'>Mandeh Sitti ( 1881-1965 ), Singa Betina dari Manggopoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandeh Sitti Manggopoh( 1881-1965 ), pahlawan daerah sumbar, pejuang wanita dari sumbar,Sejak tahun 1908  api perlawanan terhadap Belanda berkobar di Manggopoh. Aksi penjajah Belanda yang menyengsarakan rakyat memicu pemberontakan di berbagai tempat, termasuk di Manggopoh. Sitti – dikenal dengan sebutan Mandeh Sitti Manggopoh ,  seorang wanita pejuang dalam perang Manggopoh bersama suami dan kelompoknya Mandeh Sitti yang dikenal sangat cantik, luwes namun lihai beladiri silek, dikenal pembenci penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dibuktikan Mandeh Sitti bersama  pasukannya  berhasil menghabisi serdadu Belanda di markasnya sendiri, 55 orang serdadu Belanda tewas. Penyerbuan itu  nestapa luar biasa bagi Belanda. Sitti lahir 15 Juni 1881 di Manggopoh, Lubukbasung, Agam. Orangtuanya petani biasa. Sitti tak pernah menduduki bangku sekolah , karena waktu itu belum ada sekolah rendah sekalipun. Untuk pendidikannya  Sitti hanya belajar mengaji di surau, menimba ilmu sekaligus mempelajari adat istiadat Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia 15 tahun, Sitti dikawinkan orangtuanya dengan Rasyid, yang dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik. Walau sudah berkeluarga dan mengurus anak, kebencian Sitti terhadap penjajah Belanda justru kian menumpuk, apalagi akhir 1907 pemerintah Belanda bersiap mengembangkan sayap jajahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi penindasan kian menyakitkan, Belanda menerapkan ­kewajiban belasting (pajak) pada rakyat , tak peduli kehidupan masyarakat yang susah. Rakyat Minangkabau, termasuk di Manggopoh tidak menerima aturan itu di berbagai tempat muncul protes sehingga memicu pemberontakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali Perang Kamang  yang berlanjut di Manggopoh, Lintau, Solok Rao dan berbagai daerah lain. Perang Manggopoh meletus akibat rasa benci pada Belanda yang semena-mena warga disiksa, disuruh kerja paksa, wanita-wanita diperkosa serta berbagai tindakan biadab lain yang membuat hati warga mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya di Manggopoh terbentuk badan perjuangan  yang terdiri dari 14 orang pemuda militan masing-masing Rasyid alias Hasyik,  Sitti ( isteri Rasyid ), Majo Ali,  St . Marajo Dullah, Tabat,  Dukap Marah Sulai­man,  Sidi Marah Kalik,  Dullah Pakih Sulai, Muhammad, Unik , Tabuh St. Mangkuto, Sain St.Malik,  Rahman Sidi Rajo  dan Kana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Majo Ali yang dianggap paling radikal dan diayomi oleh rakyat karena dikenal ahli beladiri juga berpengalaman dalam perang Kamang  sehingga dia menguasai teknik gerilya, persenjataan dan mengetahui kelemahan Belanda. Di suatu malam  di asrama  tentara Belanda terdengar gelak tawa penjajah  akibat minuman keras, tentara Belanda tengah asyik berjudi. Dalam suasana gelap itulah  seorang wanita cantik masuk ke asrama itu. Kedatangan wanita cantik itu  tidak mengundang curiga, padahal yang muncul adalah Sitti  buruan pemberontak yang paling dicari tentera Belanda. Siti yang sudah mempersiapkan rencana bersama kelompoknya membaur dengan tentera Belanda yang mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kelelahan  dan teler karena minuman keras, akhirnya puluhan tentara Belanda sudah terkapar di lantai tak sadarkan diri. Melihat peluang itu, Sitti segera memadamkan lampu dan memberi tanda pada para pejuang yang sudah siaga di luar markas Belanda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejuang menyerbu markas Belanda, terjadilah aksi pembantaian. Siti dengan garangnya menghabisi puluhan tentara Belanda yang panik karena ada serangan tiba-tiba. Para pejuang  betul-betul beringas melampiaskan dendam rakyat Manggopoh yang ditindas dan disengsarakan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aksi pembantaian di markas tentera Belanda itu  tercatat 55 orang nyawa tentara marsose melayang, hanya dua orang yang berhasil kabur ke Lubukbasung  walau dengan luka-luka serius di sekujur tubuhnya. Akibat pembantaian itu  Belanda murka – namun delapan pedati harus dikerapkan untuk membawa mayat serdadu Belanda yang dibantai pejuang. Bahkan Belanda sengaja mendatangkan bantuan tentara dari Bukittinggi untuk membumihanguskan  Manggopoh. Banyak warga tak bersalah jadi korban akibat tembakan membabi buta tentara Belanda yang murka .Bahkan patroli Belanda intensif ke perkampungan penduduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak aksi pejuang Manggopoh mendapat perhatian dari seorang ulama yakni Tuanku Padang yang langsung  berangkat ke Manggopoh. Diam-diam diadakannya rapat lima orang pejuang Manggopoh, yakni, Tabat, Sidi Marah Khalik, Muhammad dan Kana. Mereka memutuskan mengadakan penyerbuan yang kedua. Kedua ke markas Belanda itu  dilakukan sore hari pukul 5.30, para pejuang hanya menggunakan senjata tajam.  Namun aksi  penyerangan itu  berakhir naas, lima pejuang berani itu  tewas ditembak senjata otomatis milik Beland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya Belanda makin garang melakukan patroli, tentara penjajah berhasil menembak Majo Ali dan St. Marajo. Sudah 7 nyawa pejuang dari kelompk 14 yang melayang . Adapun Sitti dan Rasyid bersembunyi di Tarok Bajolang. Pelarian Sitti dan suaminya berlanjut bersama kawannya Tabuh, menuju  ke Batu Rubiah, tapi suami isteri pejuang itu berhasil ditangkap tentara Belanda di Bawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya menjalani hukuman, Rasyid dibuang ke Menado sedang  Sitti dibuang ke Pariaman. Keduanya hidup dalam rajaman penderitaan. Kedua pejuang kemerdekaan ini  tak pernah bertemu lagi sampai akhir hayatnya. Mandeh Sitti Manggopoh, hingga kini belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional, namun pemerintah sudah mengakui jasanya, dengan menetapkan  mandeh Sitti sebagai Perintis Kemerdekaan, sesuai surat keputusan Menteri Sosial  tanggal 17 januari 1964, nomor Pol: 1379/64/P.K. Lembaran Negara nomor 19/1964.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandeh Sitti Manggopoh wafat tanggal 20 Agustus 1965 jam 15.30 WIB di Gasan Gadang, Padang Pariaman dalam usia 84 tahun  dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang. Namun, hingga kini di saat seabad peringatan perang Manggopoh, semangat juang Mandeh Sitti  Singa Betina yang ditakuti penjajah Belanda akan tetap hidup. (men/berbagai sumber ) Sumber: Padang Ekspres&lt;br /&gt;Foto : Masjid Siti Manggopoh, Tanjung Mutiara, Agam Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 August, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright 2007 MinangKita.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-7703186417185921459?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/7703186417185921459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=7703186417185921459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7703186417185921459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7703186417185921459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/08/mandeh-sitti-1881-1965-singa-betina.html' title='Mandeh Sitti ( 1881-1965 ), Singa Betina dari Manggopoh'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-6933577690184826593</id><published>2008-06-18T11:09:00.000-07:00</published><updated>2008-06-18T11:11:46.475-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style='text-align:center;margin:0px auto 10px;'&gt;&lt;a href='http://1.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP3ZY876I/AAAAAAAABNI/T2d3i5P90tI/s1600-h/DSC00131.jpg'&gt;&lt;img src='http://1.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP3ZY876I/AAAAAAAABNI/T2d3i5P90tI/s320/DSC00131.jpg' border='0' alt='' /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Balai Adat Tapi Kotogadang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style='text-align:center;margin:0px auto 10px;'&gt;&lt;a href='http://4.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP32YZToI/AAAAAAAABNQ/5ZmsDUQrVoc/s1600-h/Picture+052.jpg'&gt;&lt;img src='http://4.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP32YZToI/AAAAAAAABNQ/5ZmsDUQrVoc/s320/Picture+052.jpg' border='0' alt='' /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Masjid Nurul Iman Kotogadang semasa masih utuh belum runtuh dihoyak gempa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style='text-align:center;margin:0px auto 10px;'&gt;&lt;a href='http://2.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP4b9hr4I/AAAAAAAABNY/OUG_RPgcKRg/s1600-h/DSC00137.jpg'&gt;&lt;img src='http://2.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP4b9hr4I/AAAAAAAABNY/OUG_RPgcKRg/s320/DSC00137.jpg' border='0' alt='' /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Masjid Nurul Iman Kotogadang semasa masih utuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style='text-align:center;margin:0px auto 10px;'&gt;&lt;a href='http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP4tlBmOI/AAAAAAAABNg/trVcqdoUsa4/s1600-h/Picture+057.jpg'&gt;&lt;img src='http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP4tlBmOI/AAAAAAAABNg/trVcqdoUsa4/s320/Picture+057.jpg' border='0' alt='' /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jam Gadang Bukittinggi&lt;div style='clear:both; text-align:CENTER'&gt;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' style='border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;' align='middle' border='0' /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-6933577690184826593?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/6933577690184826593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=6933577690184826593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6933577690184826593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6933577690184826593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/06/balai-adat-tapi-kotogadang-masjid-nurul.html' title=''/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SFlP3ZY876I/AAAAAAAABNI/T2d3i5P90tI/s72-c/DSC00131.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-2280681709024333721</id><published>2008-05-09T05:20:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T08:58:08.409-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masoedabidin.blogspot.com'/><title type='text'>Akidah Tauhid Sumber Kekuatan di Minangkabau</title><content type='html'>&lt;strong&gt;AQIDAH TAUHID DAN UKHUWWAH ISLAMIYAH&lt;br /&gt;SUMBER KEKUATAN DI MINANGKABAU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh : H. Mas’oed Abidin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goresan sejarah membuktikan bahwa kekerabatan yang mendalam itu, telah memberi kekuatan melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar, ditengah berbagai tekanan dan pemaksaan kehendak.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SDrcf__rIUI/AAAAAAAAA10/AxdS1ukqBgA/s1600-h/5-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SDrcf__rIUI/AAAAAAAAA10/AxdS1ukqBgA/s320/5-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204714761692586306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bukittinggi (Fort de Kock), pada tanggal 19 Agustus 1928 berlangsung satu rapat besar "Majlis Permusyawara¬tan Ulama Minangkabau" pertama. Dihadiri 800 ulama ulama, dan 200 utusan utusan dari 115 Persyarikatan Ummat Islam di Minangkabau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musyawarah Besar Minangkabau ini  menelorkan MOSI MENOLAK GURU ORDONANSI 1925 yang terkenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan berikut, 3 - 4 Nopember 1928, di tempat yang sama, Surau Inyiak Jambek, berlangsung lagi Permusyawaratan Ulama Mingakabau Kedua. &lt;br /&gt;Jumlah yang hadir lebih banyak,1500 orang.  &lt;br /&gt;Inilah buah dari keakraban iman. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SDpC_P_rH4I/AAAAAAAAAyU/lyf3-teGVsU/s1600-h/Tangga+Masjid+Al+Haram+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SDpC_P_rH4I/AAAAAAAAAyU/lyf3-teGVsU/s320/Tangga+Masjid+Al+Haram+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204545973772820354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di waktu peristiwa besar itu, sebagian besar dari kita belum lahir. &lt;br /&gt;Namun dapat membaca kembali di dalam &lt;strong&gt;buku PERINGATAN (Verslag) dari Majelis Permusyawaratan Oelama Minangkabau,&lt;/strong&gt; dikumpulkan oleh A. 'Imran Djamil dan H. Abdul Malik Karim (Hamka), diterbitkan oleh &lt;em&gt;Boekhandel en Taman Poestaka "Summatera Thawalib" Fort de Kock, di cetak pada Snelpers Drukkerij Gebr. "LIE" Fort de Kock, 1928. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan di dalamnya bahwa para ulama, intelektual dan pemimpin Ummat Islam, Ninik Mamak dan Muslimat  di Minangkabau telah biasa berjuang membentengi Adat dan Agama di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dibuktikan dengan terbitnya satu Seroean dan Harapan yang ditujukan kepada pemerintah (Penguasa Hindia Belanda) pada tahun 1941.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan itu diterbitkan berkenan dengan undang undang yang dikeluarkan oleh Resident Sumatera Barat ten¬tang &lt;em&gt;"Verordening betreffende vergrijpen tegen de adat"&lt;/em&gt; atau "Aturan tentang melanggar adat" yang berdampak menghilangkan &lt;strong&gt;"nilai nilai adat itu sendiri".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat menarik dari seruan pemimpin ummat Islam Minangkabau (Sumatera Barat) tersebut adalah persatuan yang mereka miliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanda tanganan seraun itu terdiri dari lima orang ulama besar. &lt;br /&gt;Mereka adalah &lt;strong&gt;Syeikh Daoed Rasyidi, Syeik Mohammad Djamil Djambek, Syeik Mohammad Dajmil Djaho, Syeikh Sulaiman ar Rasoeli, dan Syeik Ibrahim Moesa.&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Kemudian ada pula lima orang Ninik Mamak Alam Minangkabau, yaitu &lt;strong&gt;Dt. Simarajo Simabur Pariangan Padang panjang, Datuk Maharajo Dirajo Batipuh, Datuk Tungga Air Angat, Datuk Bandaro Sati bukit Surungan, dan Datuk Majo Indo Batu Sangkar.&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;Diperkuat oleh para intelektual, organisator, para pendiri pendidikan, saudagar (pedagang), yang dapat digolongkan cendikiawan di masa itu.  &lt;br /&gt;Tokoh tokoh berbobot di zaman itu adalah &lt;strong&gt;A.R. St. Mansoer (Muhammadiyah), Anwar (Bank Nasional), S.J. St. Mangkoeto (Bank Moeslimin Indonesia), Rky. Rahmah el Junu¬sijjah (Muslimat, Diniyah Putri), A. Kamil dan Zoelkarnaini&lt;/strong&gt; (Angkatan Moeda Muhammadiyah  yang kemudian dikenal dengan panggilan &lt;strong&gt;Buya Zoel&lt;/strong&gt;.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini gambaran nyata dari kuatnya ikatan “tungku tigo sajarangan” atau “tali nan sapilin tigo” di Minangkabau dalam menghadapi sikap arogansi para penjajah ranah bundo. &lt;br /&gt;Hasil nyata dari Seruan bertanggal 1 Januari 1941 itu adalah, Resident Sumatera Barat tidak jadi mengeluarkan undang undang yang membatasi wewenang adat ini. (lihat Typ. Tandikat PP   1941).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil besar ini di perdapat karena adanya satu landasan kuat. &lt;br /&gt;Kekuatan Tauhid, Aqidah Islamiyah yang di dukung oleh persa¬tuan dan Ukhuwah Islamiyah serta rasa kekeluargaan jua adanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal persatuan dan kesatuan semata mata bukanlah soal ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak hanya semata masalah HAM dan demokratisasi. &lt;br /&gt;Tidak bisa dibantah, bahwa ruh persatuan dan kesatuan itu akan berpengaruh besar bagi perkembangan iptek maupun HAM dan demokratisasi itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persatuan adalah aplikasi dari Tauhid (iman), yang akan mampu melahirkan "persaudaraan". &lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SCREvTiGrJI/AAAAAAAAAhQ/Zf-LHtqtqFw/s1600-h/Atase+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SCREvTiGrJI/AAAAAAAAAhQ/Zf-LHtqtqFw/s320/Atase+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198355449380252818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bersaudara tumbuh dari adanya Keimanan Kepada Allah. &lt;br /&gt;Sekaligus adalah aplikasi dari Ad Dinul Islam. &lt;br /&gt;Konsekwensinya bila keimanan Tauhid melemah, maka akan hilanglah pula "rasa bersau-dara". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punahnya rasa bersaudara ini dampaknya ikatan persatuan akan menjadi lemah.&lt;br /&gt;Persatuan yang sesungguhnya tidak bisa di beli dengan uang ataupun materi.  Soal persatuan adalah soal hati (qalb).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan yang akan di capai sebagai khittah yang telah digariskan terpulang kepada nawaitu yang telah diniat¬kan oleh hati.&lt;br /&gt;Di sinilah terdapat kemurnian (pure, kebersihan) amal perbuatan untuk mencapai tujuan sesuai yang diikhlaskan (bersih) hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah niat kita untuk sekedar membalik balik lembar sejarah dalam memenuhi hasrat nostalgia. &lt;br /&gt;Tujuan kita sudahlah jelas. &lt;br /&gt;Wijhah itu adalah satu.  &lt;br /&gt;Yaitu "keridhaan Allah" semata.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keridhaan Allah itu lah bagi kita yang menjadi motivasi bagi mewujudkan amal nyata "membentuk masyarakat utama" (khaira ummah) yang memotivasi kita untuk memilih berbuat atau tidak berbuat, bahkan memotivasi untuk bertindak dan kalau perlu adamasanya mesti diam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari keridhaan Allah yang di pegang oleh setiap mukmin, adalah menjadi tujuan hidup dan menjadi tujuan mati, dan menjadi ikatan pemersatu ummat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum satu program yang dihasilkan bisa diwujudkan dalam satu langkah oleh satu ummat di dalam Persyarikatan Muhammadiyah, kerja nomor satu adalah menyatukan wijhah yakni keredhaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan keredhaan orang lain. &lt;br /&gt;Bukan pula asal aku senang, atau juga tidak karena demi golongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu disimak kembali pesan Bapak M. Natsir, "&lt;strong&gt;carilah keredhaan Allah Yang Satu, supaya kita dapat bersatu&lt;/strong&gt;". &lt;br /&gt;Dan Ki Bagus Hadikusumo, 50 tahun silam mengatakan, "&lt;strong&gt;jangan cari benda benda bertebaran, nanti kita akan bertebaran lantarannya&lt;/strong&gt;". &lt;br /&gt;Ini suatu agenda besar bagi "ummat utama", yakni Ummat Muhammad Shallallahu 'alaihi Wassalam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila perpegangan ini tetap adanya dalam setiap tindak tanduk perjuangan, Insya Allah akan terhindar dari perpecahan (tafarruq) dan terjauh pula dari tanazu' (sikut menyikut). &lt;br /&gt;Yang akan lahir adalah perlombaan sehat dan jujur (fastabiqul khairaat).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang berbahaya, berobah niat di tengah perjalanan. &lt;br /&gt;Apa yang tadi telah dirumuskan semula menjadi kabur tak terbaca. &lt;br /&gt;Pada awalnya hendak menanam "cinta dan Takut kepada Allah" berubah menjadi "cinta kekuasaan dan takut mati".  &lt;br /&gt;Yang diniatkan pada awalnya "dakwah Ilallah" (mengajak ummat utama kepada Allah), berobah tumbuh menjadi "dakwah ghairullah (kepentingan diri, jual tampang untuk aku).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan 'aku isme" atau "ananiyah" akan menyuburkan tafarruq dan tanazu' itu.  &lt;br /&gt;Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama.&lt;/strong&gt; Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri.  &lt;br /&gt;Mulai dari kelompok yang terkecil, bahkan keluarga.  &lt;br /&gt;Masihkah prinsip prinsip utama masih dipertahankan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua.&lt;/strong&gt; Masing masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali ukhuwah, kekerabatan dan kekeluargaan di antara keluarga tanpa gembar gembor, namun secara jujur dalam mengatasi satu dua persoalan di tengah ummat yang kita pandu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga, &lt;/strong&gt;Memelihara kesempatan kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan kekerabatan di tengah "keluarga" kita, dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah ummat, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keempat,&lt;/strong&gt; Berusaha mencari titik titik pertemuan (kalimatun sawa) di antara kalangan kita, antara kalangan dan pribadi pribadi para intelektual muslim (zu'ama), para pemegang kendali sistim *umara), dan para ikutan ummat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan iakatan yang tidak tegang dan kaku, karena kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelima,&lt;/strong&gt; Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama' (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar 'Aqidah Islamiyah dan Syari'ah, dengan memelihara mutu ibadah di kalangan ummat utama, Mu'amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlak (pemeliharaan tata nilai melelui pendidikan dan kaderisasi yang terarah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummat utama tidak bisa ditegakkan dan di bentengi secara dadakan. &lt;br /&gt;Hanya mungkin dilakukan melalui didikan, latihan, ujian lahir dan bathin, setaraf demi setaraf. &lt;br /&gt;Mengutamakan perbaikan dari dalam.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-2280681709024333721?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/2280681709024333721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=2280681709024333721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/2280681709024333721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/2280681709024333721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/05/akidah-tauhid-sumber-kekuatan-di.html' title='Akidah Tauhid Sumber Kekuatan di Minangkabau'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SDrcf__rIUI/AAAAAAAAA10/AxdS1ukqBgA/s72-c/5-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-6882810297222504444</id><published>2008-05-06T04:33:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T04:52:41.935-07:00</updated><title type='text'>Sesudut Perjalanan</title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-b16e939845a709bc" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v23.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3Db16e939845a709bc%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330299105%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D56614FBCBFD0AFB70914C1A96F279AF74E10205C.4F6E6FA3AA3F6A511DF7C0281440D5E5496ED3BD%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Db16e939845a709bc%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DYeERBQI-eEwc8rIh21_OQEPQj_Q&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v23.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3Db16e939845a709bc%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330299105%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D56614FBCBFD0AFB70914C1A96F279AF74E10205C.4F6E6FA3AA3F6A511DF7C0281440D5E5496ED3BD%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Db16e939845a709bc%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DYeERBQI-eEwc8rIh21_OQEPQj_Q&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-6882810297222504444?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/6882810297222504444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=6882810297222504444' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6882810297222504444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/6882810297222504444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/05/blog-post_06.html' title='Sesudut Perjalanan'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-1694008258389059430</id><published>2008-05-06T04:16:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T04:19:49.500-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SCA-hnPIsMI/AAAAAAAAAac/qBfmkkz7oFY/s1600-h/DSC02712.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197222717174624450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SCA-hnPIsMI/AAAAAAAAAac/qBfmkkz7oFY/s320/DSC02712.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-1694008258389059430?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/1694008258389059430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=1694008258389059430' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/1694008258389059430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/1694008258389059430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/05/blog-post.html' title=''/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SCA-hnPIsMI/AAAAAAAAAac/qBfmkkz7oFY/s72-c/DSC02712.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-3217542693924742924</id><published>2008-05-06T02:43:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T00:53:10.983-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau Matrilineal'/><title type='text'>Kekeluargaan Matrilineal di Minangkabau</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;KEKELUARGAAN MATRILINEAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh : H Mas'oed Abidin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam klen-nya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, waris dan pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Muhammad Radjab (1969) sistem matrilineal mempunyai ciri-cirinya sebagai berikut;&lt;br /&gt;1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.&lt;br /&gt;2. Suku terbentuk menurut garis ibu&lt;br /&gt;3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)&lt;br /&gt;4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku&lt;br /&gt;5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan, sedangkan&lt;br /&gt;6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-lakinya&lt;br /&gt;7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya&lt;br /&gt;8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem kekerabatan ini tetap dipertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang. Bahkan selalu disempurnakan sejalan dengan usaha menyempurnakan sistem adatnya. Terutama dalam mekanisme penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peranan seorang penghulu ataupun ninik mamak dalam kaitan bermamak berkemanakan sangatlah penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan peranan penghulu dan ninik mamak itu boleh dikatakan sebagai faktor penentu dan juga sebagai indikator, apakah mekanisme sistem matrilineal itu berjalan dengan semestinya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi keberadaan sistem ini tidak hanya terletak pada kedudukan dan peranan kaum perempuan saja, tetapi punya hubungkait yang sangat kuat dengan institusi ninik mamaknya di dalam sebuah kaum, suku atau klen.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah sistem, matrilineal dijalankan berdasarkan kemampuan dan berbagai penafsiran oleh pelakunya; ninik-mamak, kaum perempuan dan anak kemenakan. Akan tetapi sebuah uraian atau perincian yang jelas dari pelaksanaan dari sistem ini, misalnya ketentuan-ketentuan yang pasti dan jelas tentang peranan seorang perempuan dan sanksi hukumnya kalau terjadi pelanggaran, ternyata sampai sekarang belum ada. Artinya tidak dijelaskan secara tegas tentang hukuman jika seorang Minang tidak menjalankan sistem matrilineal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem itu hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun begitu, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri. Hal seperti dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan sistem tersebut yang tetap terjaga sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dengan adanya hukum faraidh dalam pembagian harta menurut Islam, harta pusaka kaum tetap dilindungi dengan istilah “pusako tinggi”, sedangkan harta yang boleh dibagi dimasukkan sebagai “pusako randah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan. Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan Minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan permainan” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah institusi ninik-mamak menjadi penting dan bahkan sakral bagi kemenakan dan sangat penting dalam menjaga hak dan kewajiban perempuan. Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala plus minusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dari sistem ini adalah, dia tetap bertahan walau sistem patrilineal juga diperkenalkan oleh Islam sebagai sebuah sistem kekerabatan yang lain pula. Sistim matrilieal tidak hanya jadi sebuah “aturan” saja, tetapi telah menjadi semakin kuat menjadi suatu budaya, way of live, kecenderungan yang paling dalam diri dari setiap orang Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, pada setiap individu laki-laki Minang misalnya, kecenderungan mereka menyerahkan harta pusaka, warisan dari hasil pencahariannya sendiri, yang seharusnya dibagi menurut hukum faraidh kepada anak-anaknya, mereka lebih condong untuk menyerahkannya kepada anak perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu nanti menyerahkan pula kepada anak perempuannya pula. Begitu seterusnya. Sehingga Tsuyoshi Kato dalam disertasinya menyebutkan bahwa sistem matrilineal akan semakin menguat dalam diri orang-orang Minang walaupun mereka telah menetap di kota-kota di luar Minang sekalipun. Sistem matrilineal tampaknya belum akan meluntur sama sekali, walau kondisi-kondisi sosial lainnya sudah banyak yang berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat menjalankan sistem itu dengan baik, maka mereka yang akan menjalankan sistem itu haruslah orang Minangkakabu itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-a87dfb65037d7c58" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v8.nonxt7.googlevideo.com/videoplayback?id%3Da87dfb65037d7c58%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330299105%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D850E8F18603BB206C5901212B400204A93087456.69150AA29B226C9411E7A5E42374744576D516F3%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Da87dfb65037d7c58%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D-AoRYnUeS_VMADw2IytO_CoBJqw&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v8.nonxt7.googlevideo.com/videoplayback?id%3Da87dfb65037d7c58%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330299105%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D850E8F18603BB206C5901212B400204A93087456.69150AA29B226C9411E7A5E42374744576D516F3%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Da87dfb65037d7c58%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D-AoRYnUeS_VMADw2IytO_CoBJqw&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat menentukan seseorang itu orang Minangkabau atau tidak, ada beberapa ketentuannya, atau syarat-syarat seseorang dapat dikatakan sebagai orang Minangkabau. Syarat-syarat seseorang dapat dikatakan orang Minangkabau;&lt;br /&gt;1. Basuku (bamamak bakamanakan)&lt;br /&gt;2. Barumah gadang&lt;br /&gt;3. Basasok bajarami&lt;br /&gt;4. Basawah baladang&lt;br /&gt;5. Bapandan pakuburan&lt;br /&gt;6. Batapian tampek mandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di dalam berkaum bernagari, dianggap “orang kurang” atau tidak sempurna.&lt;br /&gt;Bagi seseorang yang ingin menjadi orang Minang juga dibuka pintunya dengan memenuhi berbagai persyaratan pula.&lt;br /&gt;Dalam istilah inggok mancangkam tabang basitumpu.&lt;br /&gt;Artinya orang itu harus masuk ke dalam sebuah kaum atau suku, mengikuti seluruh aturan-aturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa aspek penting yang diatur dalam sistem matrilienal.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pengaturan harta pusaka&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Harta pusaka yang dalam terminologi Minangkabau disebut harato jo pusako.&lt;br /&gt;Harato adalah sesuatu milik kaum yang tampak dan ujud secara material seperti sawah, ladang, rumah gadang, ternak dan sebagainya.&lt;br /&gt;Pusako adalah sesuatu milik kaum yang diwarisi turun temurun baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Oleh karena itu di Minangkabau dikenal pula dua kata kembar yang artinya sangat jauh berbeda; &lt;strong&gt;sako&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;pusako&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Sako&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang tidak berbentuk material, seperti gelar penghulu, kebesaran kaum, tuah dan penghormatan yang diberikan masyarakat kepadanya. Sako merupakan hak bagi laki-laki di dalam kaumnya. Gelar demikian tidak dapat diberikan kepada perempuan walau dalam keadaan apapun juga.&lt;br /&gt;Pengaturan pewarisan gelar itu tertakluk kepada sistem kelarasan yang dianut suku atau kaum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menganut sistim kelarasan Koto Piliang, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan; patah tumbuah. Artinya, gelar berikutnya harus diberikan kepada kemenakan langsung dari si penghulu yang memegang gelar itu. Gelar demikian tidak dapat diwariskan kepada orang lain dengan alasan papun juga. Jika tidak ada laki-laki yang akan mewarisi, gelar itu digantuang atau dilipek atau disimpan sampai nanti kaum itu mempunyai laki-laki pewaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menganut sistem kelarasan Bodi Caniago, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan hilang baganti. Artinya, jika seorang penghulu pemegang gelar kebesaran itu meninggal, dia dapat diwariskan kepada lelaki di dalam kaum berdasarkan kesepakatan bersama anggota kaum itu. Pergantian demikian disebut secara adatnya gadang balega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam halnya gelar kehormatan atau gelar kepenghuluan (datuk) dapat diberikan dalam tiga tingkatan:&lt;br /&gt;a. Gelar yang diwariskan dari mamak ke kemenakan. Gelar ini merupakan gelar pusaka kaum sebagaimana yang diterangkan di atas. Gelar ini disebut sebagai gelar yang mengikuti kepada perkauman yang batali darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga ayah (bako) kepada anak pisangnya, karena anak pisang tersebut memerlukan gelar itu untuk menaikkan status sosialnya atau untuk keperluan lainnya. Gelar ini hanya gelar panggilan, tetapi tidak mempengaruhi konstelasi dan mekanisme kepenghuluan yang telah ada di dalam kaum. Gelar ini hanya boleh dipakai untuk dirinya sendiri, seumur hidup dan tidak boleh diwariskan kepada yang lain; anak apalagi kemenakan. Bila si penerima gelar meninggal, gelar itu akan dijemput kembali oleh bako dalam sebuah upacara adat. Gelar ini disebut sebagai gelar yang berdasarkan batali adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Gelar yang diberikan oleh raja Pagaruyung kepada seseorang yang dianggap telah berjasa menurut ukuran-ukuran tertentu. Gelar ini bukan gelar untuk mengfungsinya sebagai penghulu di dalam kaumnya sendiri, karena gelar penghulu sudah dipakai oleh pengulu kaum itu, tetapi gelaran itu adalah merupakan balasan terhadap jasa-jasanya. Gelaran ini disebut secara adat disebabkan karena batali suto. Gelar ini hanya boleh dipakai seumur hidupnya dan tidak boleh diwariskan. Bila terjadi sesuatu yang luar biasa, yang dapat merusakkan nama raja, kaum, dan nagari, maka gelaran itu dapat dicabut kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Pusako&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pusako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang berbentuk material, seperti sawah, ladang, rumah gadang dan lainnya.&lt;br /&gt;Pusako dimanfaatkan oleh perempuan di dalam kaumnya.&lt;br /&gt;Hasil sawah, ladang menjadi bekal hidup perempuan dengan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Rumah gadang menjadi tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;Laki-laki berhak mengatur tetapi tidak berhak untuk memiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu di Minangkabau kata hak milik bukanlah merupakan kata kembar, tetapi dua kata yang satu sama lain artinya tetapi berada dalam konteks yang sama.&lt;br /&gt;Hak dan milik.&lt;br /&gt;Laki-laki punya hak terhadap pusako kaum, tetapi dia bukan pemilik pusako kaumnya.&lt;br /&gt;Dalam pengaturan pewarisan pusako, semua harta yang akan diwariskan harus ditentukan dulu kedudukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;'Kedudukan harta pusaka itu terbagi dalam; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Pusako tinggi.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Harta pusaka kaum yang diwariskan secara turun temurun berdasarkan garis ibu.&lt;br /&gt;Pusaka tinggi hanya boleh digadaikan bila keadaan sangat mendesak sekali hanya untuk tiga hal saja;&lt;br /&gt;pertama, gadih gadang indak balaki,&lt;br /&gt;kedua, maik tabujua tangah rumah,&lt;br /&gt;ketiga, rumah gadang katirisan.&lt;br /&gt;Selain dari ketiga hal di atas harta pusaka tidak boleh digadaikan apalagi dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Pusako randah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Harta pusaka yang didapat selama perkawinan antara suami dan istri.&lt;br /&gt;Pusaka ini disebut juga harta bawaan, artinya modal dasarnya berasal dari masing-masing kaum.&lt;br /&gt;Pusako randah diwariskan kepada anak, istri dan saudara laki-laki berdasarkan hukum faraidh, atau hukum Islam.&lt;br /&gt;Namun dalam berbagai kasus di Minangkabau, umumnya, pusako randah ini juga diserahkan oleh laki-laki pewaris kepada adik perempuannya.&lt;br /&gt;Tidak dibaginya menurut hukum faraidh tersebut. Inilah mungkin yang dimaksudkan Tsuyoshi Kato bahwa sistem matrilineal akan menguat dengan adanya keluarga batih.&lt;br /&gt;Karena setiap laki-laki pewaris pusako randah akan selalu menyerahkan harta itu kepada saudara perempuannya.&lt;br /&gt;Selanjutanya saudara perempuan itu mewariskan pula kepada anak perempuannya.&lt;br /&gt;Begitu seterusnya.&lt;br /&gt;Akibatnya, pusako randah pada mulanya, dalam dua atau tiga generasi berikutnya menjadi pusako tinggi pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peranan laki-laki&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang.&lt;br /&gt;Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian, pembagian harta pusaka, perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk keperluannya anak beranak.&lt;br /&gt;Peranan laki-laki di dalam dan di luar kaumnya menjadi sesuatu yang harus dijalankannya dengan seimbang dan sejalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Sebagai kemenakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kaumnya, seorang laki-laki bermula sebagai kemenakan (atau dalam hubungan kekerabatan disebutkan; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;ketek anak urang, lah gadang kamanakan awak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;).&lt;br /&gt;Sebagai kemenakan dia harus mematuhi segala aturan yang ada di dalam kaum.&lt;br /&gt;Belajar untuk mengetahui semua aset kaumnya dan semua anggota keluarga kaumnya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ketika seseorang berstatus menjadi kemenakan, dia selalu disuruh ke sana ke mari untuk mengetahui segala hal tentang adat dan perkaumannya.&lt;br /&gt;Dalam kaitan ini, peranan Surau menjadi penting, karena Surau adalah sarana tempat mempelajari semua hal itu baik dari mamaknya sendiri maupun dari orang lain yang berada di surau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menentukan status kemenakan sebagai pewaris sako dan pusako, anak kemenakan dikelompokan menjadi tiga kelompok:&lt;br /&gt;a. Kemenakan di bawah daguak&lt;br /&gt;b. Kemenakan di bawah pusek&lt;br /&gt;c. Kemenakan di bawah lutuik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenakan di bawah daguak adalah penerima langsung waris sako dan pusako dari mamaknya.&lt;br /&gt;Kemenakan di bawah pusek adalah penerima waris apabila kemenakan di bawah daguak tidak ada (punah). Kemenakan di bawah lutuik, umumnya tidak diikutkan dalam pewarisan sako dan pusako kaum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Sebagai mamak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada giliran berikutnya, setelah dia dewasa, dia akan menjadi mamak dan bertanggung jawab kepada kemenakannya.&lt;br /&gt;Mau tidak mau, suka tidak suka, tugas itu harus dijalaninya.&lt;br /&gt;Dia bekerja di sawah kaumnya untuk saudara perempuannya anak-beranak yang sekaligus itulah pula kemenakannya.&lt;br /&gt;Dia mulai ikut mengatur, walau tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan mamaknya yang lebih tinggi, yaitu penghulu kaum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Sebagai penghulu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dia akan memegang kendali kaumnya sebagai penghulu.&lt;br /&gt;Gelar kebesaran diberikan kepadanya, dengan sebutan datuk.&lt;br /&gt;Seorang penghulu berkewajiban menjaga keutuhan kaum, mengatur pemakaian harta pusaka.&lt;br /&gt;Dia juga bertindak terhadap hal-hal yang berada di luar kaumnya untuk kepentingan kaumnya.&lt;br /&gt;Setiap laki-laki terhadap kaumnya selalu diajarkan; kalau tidak dapat menambah (maksudnya harta pusaka kaum), jangan mengurangi (maksudnya, menjual, menggadai atau menjadikan milik sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa peranan seorang laki-laki di dalam kaum disimpulkan dalam ajaran adatnya; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tagak badunsanak mamaga dunsanak Tagak basuku mamaga suku Tagak ba kampuang mamaga kampuang Tagak ba nagari mamaga nagari&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Peranan di luar kaum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selain berperan di dalam kaum sebagai kemanakan, mamak atau penghulu, seorang anak lelaki setelah dia kawin dan berumah tangga, dia mempunyai peranan lain sebagai tamu atau pendatang di dalam kaum isterinya.&lt;br /&gt;Artinya di sini, dia sebagai duta pihak kaumnya di dalam kaum istrinya, dan istri sebagai duta kaumnya pula di dalam kaum suaminya.&lt;br /&gt;Satu sama lain harus menjaga kesimbangan dalam berbagai hal, termasuk perlakuan-perlakuan terhadap anggota kaum kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kaum istrinya, seorang laki-laki adalah sumando (semenda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumando ini di dalam masyarakat Minangkabau dibuatkan pula beberapa kategori;&lt;br /&gt;a. &lt;strong&gt;Sumando ninik mamak.&lt;/strong&gt; Artinya, semenda yang dapat ikut memberikan ketenteraman pada kedua kaum; kaum istrinya dan kaumnya sendiri. Mencarikan jalan keluar terhadap sesuatu persoalan dengan sebijaksana mungkin. Dia lebih berperan sebagai seorang yang arif dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sifat berikut ini tidak boleh dipakai.&lt;br /&gt;b. &lt;strong&gt;Sumando kacang miang&lt;/strong&gt;. Artinya, sumando yang membuat kaum istrinya menjadi gelisah karena dia memunculkan atau mempertajam persoalan-persoalan yang seharusnya tidak dimunculkan. Sikap seperti ini tidak boleh dipakai.&lt;br /&gt;c. &lt;strong&gt;Sumando lapik buruk&lt;/strong&gt;. Artinya, sumando yang hanya memikirkan anak istrinya semata tanpa peduli dengan persoalan-persoalan lainnya. Dikatakan juga sumando seperti seperti sumando apak paja, yang hanya berfungsi sebagai tampang atau bibit semata. Sikap seperti ini juga tidak boleh dipakai dan harus dijauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumando tidak punya kekuasan apapun di rumah istrinya, sebagaimana yang selalu diungkapkan dalam pepatah petitih; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sadalam-dalam payo Hinggo dado itiak Sakuaso-kuaso urang sumando Hinggo pintu biliak &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan sumando yang baik dikatakan; &lt;strong&gt;Rancak rumah dek sumando Elok hukum dek mamaknyo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum dan Pesukuan Orang Minangkabau yang berasal dari satu keturunan dalam garis matrilineal merupakan anggota kaum dari keturunan tersebut.&lt;br /&gt;Di dalam sebuah kaum, unit terkecil disebut samande.&lt;br /&gt;Yang berasal dari satu ibu (mande). Unit yang lebih luas dari samande disebut saparuik.&lt;br /&gt;Maksudnya berasal dari nenek yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saniniak maksudnya adalah keturunan nenek dari nenek.&lt;br /&gt;Yang lebih luas dari itu lagi disebut sakaum. Kemudian dalam bentuknya yang lebih luas, disebut sasuku. Maksudnya, berasal dari keturunan yang sama sejak dari nenek moyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suku artinya seperempat atau kaki&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Jadi, pengertian sasuku dalam sebuah nagari adalah seperempat dari penduduk nagari tersebut.&lt;br /&gt;Karena, dalam sebuah nagari harus ada empat suku besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padamulanya suku-suku itu terdiri dari &lt;strong&gt;Koto, Piliang, Bodi &lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;Caniago&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, karena bertambahnya populasi masyarakat setiap suku, suku-suku itupun dimekarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Koto dan Piliang&lt;/strong&gt; berkembang menjadi beberapa suku; Tanjuang, Sikumbang, Kutianyir, Guci, Payobada, Jambak, Salo, Banuhampu, Damo, Tobo, Galumpang, Dalimo, Pisang, Pagacancang, Patapang, Melayu, Bendang, Kampai, Panai, Sikujo, Mandahiliang, Bijo dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bodi dan Caniago&lt;/strong&gt; berkembang menjadi beberapa suku; Sungai Napa, Singkuang, Supayang, Lubuk Batang, Panyalai, Mandaliko, Sumagek dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam majlis peradatan keempat pimpinan dari suku-suku ini disebut &lt;strong&gt;urang nan ampek suku&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Dalam sebuah nagari ada yang tetap dengan memakai ampek suku tapi ada juga memakai limo suku, maksudnya ada nama suku lain; Malayu yang dimasukkan ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suku dengan suku yang lain, mungkin berdasarkan sejarah, keturunan atau kepercayaan yang mereka yakini tentang asal sulu mereka, boleh jadi berasal dari perempuan yang sama.&lt;br /&gt;Suku-suku yang merasa punya kaitan keturunan ini disebut dengan sapayuang.&lt;br /&gt;Dari beberapa payuang yang juga berasal sejarah yang sama, disebut sahindu.&lt;br /&gt;Namun, yang lazim dikenal dalam berbagai aktivitas sosial masyarakat Minangkabau adalah; sasuku dan sapayuang saja.&lt;br /&gt;Sebuah kaum mempunyai keterkaitan dengan suku-suku lainnya, terutama disebabkan oleh perkawinan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu kaum punya struktur yang umumnya dipakai oleh setiap suku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Struktur di dalam kaum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sebuah kaum, strukturnya sebagai berikut;&lt;br /&gt;a. Mamak yang dipercaya sebagai pimpinan kaum yang disebut Penghulu bergelar datuk.&lt;br /&gt;b. Mamak-mamak di bawah penghulu yang dipercayai memimpin setiap rumah gadang, karena di dalam satu kaum kemungkinan rumah gadangnya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamak-mamak yang mempimpin setiap rumah gadang itu disebut; tungganai.&lt;br /&gt;Seorang laki-laki yang memikul tugas sebagai tungganai rumah pada beberapa suku tertentu mereka juga diberi gelar datuk.&lt;br /&gt;Di bawah tungganai ada laki-laki dewasa yang telah kawin juga, berstatus sebagai mamak biasa.&lt;br /&gt;Di bawah mamak itulah baru ada kemenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Struktur dalam kaitannya dengan suku lain.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari sistem matrilienal yang mengharuskan setiap anggota suku harus kawin dengan anggota suku lain, maka keterkaitan akibat perkawinan melahirkan suatu struktur yang lain, struktur yang mengatur hubungan anggota sebuah suku dengan suku lain yang terikat dalam tali perkawinan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Induk bako anak pisang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Induak bako anak pisang merupakan dua kata yang berbeda; induak bako dan anak pisang. Induak bako adalah semua ibu dari keluarga pihak ayah. Bako adalah semua anggota suku dari kaum pihak ayah. Induak bako punya peranan dan posisi tersendiri di dalam sebuah kaum pihak si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Andan pasumandan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Andan pasumandan juga merupakan dua kata yang berbeda; andan dan pasumandan. Pasumandan adalah pihak keluarga dari suami atau istri. Suami dari rumah gadang A yang kawin dengan isteri dari rumah gadang B, maka pasumandan bagi isteri adalah perempuan yang berada dalam kaum suami. Sedangkan andan bagi kaum rumah gadang A adalah anggota kaum rumah gadang C yang juga terikat perkawinan dengan salah seorang anggota rumah gadang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bundo Kanduang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Minangkabau dewasa ini kata Bundo Kanduang mempunyai banyak pengertian pula, antara lain;&lt;br /&gt;a) Bundo kanduang sebagai perempuan utama di dalam kaum, sebagaimana yang dijelaskan di atas.&lt;br /&gt;b) Bundo Kanduang yang ada di dalam cerita rakyat atau kaba Cindua Mato. Bundo Kanduang sebagai raja Minangkabau atau raja Pagaruyung.&lt;br /&gt;c) Bundo kanduang sebagai ibu kanduang sendiri.&lt;br /&gt;d) Bundo kanduang sebagai sebuah nama organisasi perempuan Minangkabau berdampingan LKAAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bundo kanduang yang dimaksudkan di dalam adat adalah Bundo Kanduang sebagai perempuan utama.&lt;br /&gt;Bundo kanduang sebagai perempuan utama.&lt;br /&gt;Apabila ibu atau tingkatan ibu dari mamak yang jadi penghulu masih hidup, maka dialah yang disebut Bundo Kanduang, atau mandeh atau niniek.&lt;br /&gt;Dialah perempuan utama di dalam kaum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Minangkabau dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” menempatkan perempuan pada posisi peran.&lt;br /&gt;Kadangkala dijuluki dengan sebutan;&lt;br /&gt;~ orang rumah (&lt;em&gt;hiduik batampek, mati bakubua, kuburan hiduik dirumah gadang, kuburan mati ditangah padang&lt;/em&gt;),&lt;br /&gt;~ induak bareh (&lt;em&gt;nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang&lt;/em&gt;),&lt;br /&gt;~ pemimpin (&lt;em&gt;tahu di mudharat jo manfaat, mangana labo jo rugi, mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai&lt;/em&gt;),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahamannya berarti perempuan Minang sangat arif, mengerti dan tahu dengan yang pantas dan patut, menjadi asas utama kepemipinan di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Minangkabau memanggil ibunya dengan bundo karena perempuan Minangkabau umumnya menjaga martabat,&lt;br /&gt;(1). Hati-hati (watak Islam khauf), &lt;em&gt;ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan kasumbiang, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(2). Yakin kepada Allah (iman bertauhid), &lt;em&gt;jantaruah bak katidiang, jan baserak bak amjalai, kok ado rundiang ba nan batin, patuik baduo jan batigo, nak jan lahie di danga urang.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(3). Perangai berpatutan (uswah istiqamah), &lt;em&gt;maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(4). Kaya hati (Ghinaun nafs), sopan santun hemat dan khidmat,&lt;br /&gt;(5). Tabah (redha), &lt;em&gt;haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang&lt;/em&gt;,&lt;br /&gt;(6). Jimek (hemat tidak mubazir), &lt;em&gt;dikana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham katagadai, ingek di budi katajua, mamakai malu dengan sopan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ungkapan sehari-hari, perempuan Minang disebut pula padusi artinya padu isi dengan lima sifat utama; (a). benar,&lt;br /&gt;(b). jujur lahir batin,&lt;br /&gt;(c). cerdik pandai,&lt;br /&gt;(d). fasih mendidik dan terdidik,&lt;br /&gt;(e). bersifat malu (&lt;em&gt;Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, &lt;em&gt;Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso&lt;/em&gt;, artinya didalam kebenaran Islam, al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah hidup beradat mendudukkan perempuan Minang pada sebutan bundo kandung menjadi &lt;em&gt;&lt;strong&gt;limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, umbun puruak aluang bunian, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batauah, kok hiduik tampek ba nasa, kalau mati tampek ba niaik, ka unduang-unduang ka madinah, ka payuang panji ka sarugo. &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan ini sesungguhnya amat jelas mendudukkan betapa kokohnya perempuan Minang pada posisi sentral, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaum, dan kalangan awam di nagari dan taratak menggelarinya dengan “biaiy, mandeh”, menempatkan laki-laki pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga harta dari perempuan-nya dan anak turunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir bernasab ayah (laki-laki), bersuku ibu (perempuan), bergelar mamak (garis matrilineal), memperlihatkan egaliternya suatu persenyawaan budaya dan syarak yang indah.(2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran Agama Islam menempatkan perempuan (ibu) mitra setara (partisipatif) dan lelaki menjadi pelindung wanita (qawwamuuna 'alan‑nisaa'), karena kelebihan pada kekuatan, badan, fikiran, keluasaan, penalaran, kemampuan, ekonomi, kecerdasan, ketabahan, kesigapan dan anugerah (QS. An Nisa' 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dibina menjadi mar'ah shalihah (= perempuan shaleh yang ceria dan lembut, menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu (= memelihara kesucian faraj di belakang pasangannya, karena Allah menempatkan faraj dan rahim perempuan terjaga, maka tidak ada keindahan yang bisa melebihi perhiasan atau tampilan "indahnya wanita shaleh" (Al Hadist). Kodrat perempuan memiliki peran ganda; penyejuk hati dan pendidik utama, menempatkan sorga terhampar dibawah telapak kaki perempuan (ibu, ummahat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran Agama Islam menempatkan perempuan (ibu) mitra setara (partisipatif) dan lelaki menjadi pelindung wanita (qawwamuuna 'alan‑nisaa'), karena kelebihan pada kekuatan, badan, fikiran, keluasaan, penalaran, kemampuan, ekonomi, kecerdasan, ketabahan, kesigapan dan anugerah (QS. An Nisa' 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Perempuan dibina menjadi mar'ah shalihah (= perempuan shaleh yang ceria dan lembut, menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu (= memelihara kesucian faraj di belakang pasangannya, karena Allah menempatkan faraj dan rahim perempuan terjaga, maka tidak ada keindahan yang bisa melebihi perhiasan atau tampilan "indahnya wanita shaleh" (Al Hadist). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kodrat perempuan memiliki peran ganda; penyejuk hati dan pendidik utama, menempatkan sorga terhampar dibawah telapak kaki perempuan (ibu, ummahat). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di bawah naungan konsep Islam, perempuan berkepribadian sempurna, bergaul ma'ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terpatri pada tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada dan tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya, inilah kata yang lebih tepat untuk azwajan itu.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Secara moral, perempuan punya hak utuh menjadi Ikutan Bagi Umat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masyarakat baik lahir dari relasi kemasyarakatan pemelihara tetangga, perekat silaturrahim dan tumbuh dengan pribadi kokoh (exist), karakter teguh (istiqamah, konsisten) dan tegar (shabar, optimis) menapak hidup. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rohaninya (rasa, fikiran, dan kemauan) dibimbing keyakinan hidayah iman. Jasmaninya (gerak, amal perbuatan) dibina oleh aturan syari'at Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِه إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ِأَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهَِ &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Allah telah menyari’atkan dasar hidup “ad-din” bagi kamu seperti telah diwasiatkanNya kepada Nuh, dan telah dipesankan kepadamu (Muhammad). Agama yang telah dipesankan kepada Ibrahim, Musa, Isa dengan perintah agar kalian semua mendaulatkan agama ini dan jangan kalian berpecah dari mengikutinya…” (QS.Syura : 13). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perilaku kehidupan menurut mabda' (konsep) Alquran, bahwa makhluk diciptakan dalam rangka pengabdian kepada Khaliq (QS. 51, Adz Dzariyaat : 56), memberi warning peringatan agar tidak terperangkap kebodohan dan kelalaian sepanjang masa. Manusia adalah makhluk pelupa (Al Hadist).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tegasnya, seorang Muslim wajib menda'wahkan Islam, menerapkan amar ma'ruf dan nahi munkar (QS. Ali 'Imran :104), dimulai dari diri sendiri, agar terhindar dari celaan (QS. Al Baqarah :44 dan QS. Ash‑Shaf :3). Amar ma'ruf nahi munkar adalah tiang kemashlahatan hidup umat manusia, di dasari dengan Iman billah (QS. Ali 'Imran :110) agar tercipta satu bangunan umat yang berkualitas (khaira ummah). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka posisi perempuan atau bundo kanduang di dalam Islam ada dalam bingkai (frame) ini. Perempuan yang disebut bundo anduang dalam kaumnya, mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari seorang penghulu karena dia setingkat ibu, atau ibu penghulu itu betul. Dia dapat menegur penghulu itu apabila si penghulu melakukan suatu kekeliruan. Perempuan-perempuan setingkat mande di bawahnya, apabila dia dianggap lebih pandai, bijak dan baik, diapun sering dijaikan perempuan utama di dalam kaum. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara implisit tampaknya, perempuan utama di dalam suatu kaum, adalah semacam badan pengawasan atau lembaga kontrol dari apa yang dilakukan seorang penghulu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Dalam Ajaran Islam, penghormatan kepada Ibu menempati urutan kedua sesudah iman kepada Allah (konsep tauhidullah). Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ibu, diwasiatkan sejalan untuk seluruh manusia. Penghormatan kepada Ibu (perempuan) menjadi disiplin hidup yang tidak boleh diabaikan. Disiplin ini tidak dibatas oleh adanya perbedaan anutan keyakinan. Hubungan hidup duniawi wajib dipelihara baik dengan jalinan ihsan (lihat QS. 31, Luqman : 14-15). Universalitas (syumuliyah) Alquran menjawab tantangan zaman (QS. Al Baqarah, 2 dan 23) dengan menerima petunjuk berasas taqwa (memelihara diri), tidak ragu kepada Alquran menjiwai hidayah, karena Allahul Khaliqul 'alam telah menciptakan alam semesta amat sempurna, tidak ditemui mislijk kesiasiaan (QS. 3, Ali 'Imran, ayat 191), diatur dengan lurus (hanif) sesuai fithrah yang tetap (QS. 30, Ar Rum, ayat 30) dalam perangkat natuur‑wet atau sunnatullah yang tidak berjalan sendiri, saling terkait agar satu sama lain tidak berbenturan. Kandungan nilai pendidikan dan filosofi ini terikat kokoh kasih sayang, hakikinya semua datang dan terjadi karena Rahman dan RahimNya dan akan berakhir dengan menghadapNya, maka kewajiban asasi insani menjaga diri dan keluarga dari bencana (QS. At Tahrim :6) dengan memakai hidayah religi Alqurani. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; "Ibu (an-Nisak) adalah tiang negeri" (al Hadist). Jika kaum perempuan suatu negeri (bangsa) berkelakuan baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu. Sebaliknya, bila berperangai fasad akibatnya negeri itu akan binasa seluruhnya. Banyak hadist Nabi menyatakan pentingnya pemeliharaan hubungan bertetangga, menanamkan sikap peduli, berprilaku mulia, solidaritas tinggi dalam kehidupan keliling dan memelihara citra diri. "Demi Allah, dia tidak beriman”, "Siapakah dia wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya". (Hadist diriwayatkan Asy-Syaikhan). Pentingnya pendidikan akhlak Islam, “Satu bangsa akan tegak kokoh dengan akhlak (moralitas budaya dan ajaran agama yang benar)”. Tata krama pergaulan dimulai dari penghormatan kepada perempuan (ibu) dan rumah tangga, dikembangkan kelingkungan tetangga dan ketengah pergaulan warga masyarakat (bangsa), sesuai QS.41, Fush-shilat, ayat 34.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-3217542693924742924?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/3217542693924742924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=3217542693924742924' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/3217542693924742924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/3217542693924742924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/05/kekeluargaan-matrilineal-di-minangkabau.html' title='Kekeluargaan Matrilineal di Minangkabau'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-7063244193250289574</id><published>2008-05-06T01:44:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T02:16:57.445-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><title type='text'>Minangkabau dan Sistim Kekerabatan</title><content type='html'>Draft : Subangan Pikiran untuk Kompilasi ABSSBK, oleh BuyaHMA;-.[…]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;MINANGKABAU DAN SISTIM KEKERABATAN &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hubungan Kekeluargaan Minangkabau, bersuku ke ibu, bersako ke mamak, dan bernasab ke ayah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Oleh : H Mas’oed Abidin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;MINANGKABAU DALAM SEJARAH DAN TAMBO&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;1. Asal usul manusia Minangkabau&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata Minangkabau mengandung banyak pengertian. Minangkabau dipahamkan sebagai sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut budaya Minangkabau. Kawasan budaya Minangkabau mempunyai daerah yang luas. Batasan untuk kawasan budaya tidak dibatasi oleh batasan sebuah propinsi. Berarti kawasan budaya Minangkabau berbeda dengan kawasan administratif Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Minangkabau dipahamkan pula sebagai sebuah nama dari sebuah suku bangsa, suku Minangkabau. Mempunyai daerah sendiri, bahasa sendiri dan penduduk sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Minangkabau dipahamkan juga sebagai sebuah nama kerajaan masa lalu, Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung. Sering disebut juga kerajaan Pagaruyung, yang mempunyai masa pemerintahan yang cukup lama, dan bahkan telah mengirim utusan-utusannya sampai ke negeri Cina. Banyaknya pengertian yang dikandung kata Minangkabau, maka tidak mungkin melihat Minangkabau dari satu pemahaman saja.&lt;br /&gt;Membicarakan Minangkabau secara umum mendalami sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, agama, dan segala aspek kehidupan masyarakatnya. Mengingat hal seperti itu, ada dua sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji Minangkabau, yaitu sumber dari sejarah dan sumber dari tambo. Kedua sumber ini sama penting, walaupun di sana sini, pada keduanya ditemui kelebihan dan kekurangan, namun dapat pula saling melengkapi. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Menelusuri sejarah tentang Minangkabau, sebagai satu cabang dari ilmu pengetahuan, maka mesti didasarkan bukti-bukti yang jelas dan otentik. Dapat berupa peninggalan-peninggalan masa lalu, prasasti-prasasti, batu tagak (menhir), batu bersurat, naskah-naskah dan catatan tertulis lainnya. Dalam hal ini, ternyata bukti sejarah lokal Minangkabau termasuk sedikit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Banyak catatan dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tentang Minaangkabau atau Sumatera West Kunde, yang amat memerlukan kejelian di dalam meneliti. Hal ini disebabkan, catatan-catatan dimaksud dibuat untuk kepentingan pemerintahan Belanda, atau keperluan dagang oleh Maatschappij Koningkliyke VOC.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Tambo atau uraian mengenai asal usul orang Minangkabau dan menerakan hukum-hukum adatnya, termasuk sumber yang mulai langka di wilayah Minangkabau sekarang. Sungguhpun, penelusuran tambo sulit untuk dicarikan rujukan seperti sejarah, namun apa yang disebut dalam tambo masih dapat dibuktikan ada dan bertemu di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Tambo diyakini oleh orang Minangkabau sebagai peninggalan orang-orang tua. Bagi orang Minangkabau, tambo dianggap sebagai sejarah kaum. Walaupun, di dalam catatan dan penulisan sejarah sangat diperhatikan penanggalan atau tarikh dari sebuah peristiwa, serta di mana kejadian, bagaimana terjadinya, bila masanya, dan siapa pelakunya, menjadikan penulisan sejarah otentik. Sementara tambo tidak terlalu mengutamakan penanggalan, akan tetapi menilik kepada peristiwanya. Tambo lebih bersifat sebuah kisah, sesuatu yang pernah terjadi dan berlaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Tentu saja, bila kita mempelajari tambo kemudian mencoba mencari rujukannya sebagaimana sejarah, kita akan mengalami kesulitan dan bahkan dapat membingungkan. Sebagai contoh; dalam tambo Minangkabau tidak ditemukan secara jelas nama Adhytiawarman, tetapi dalam sejarah nama itu adalah nama raja Minangkabau yang pertama berdasarkan bukti-bukti prasasti.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dalam hal ini sebaiknya sikap kita tidak memihak, artinya kita tidak menyalahkan tambo atau sejarah. Sejarah adalah sesuatu yang dipercaya berdasarkan bukti-bukti yang ada, sedangkan tambo adalah sesuatu yang diyakini berdasarkan ajaran-ajaran yang terus diturunkan kepada anak kemenakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Minangkabau menurut sejarah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak ahli telah meniliti dan menulis tentang sejarah Minangkabau, dengan pendapat, analisa dan pandangan yang berbeda. Tetapi pada umumnya mereka membagi beberapa periode kesejarahan; Minangkabau zaman sebelum Masehi, zaman Minangkabau Timur dan zaman kerajaan Pagaruyung. Seperti yang ditulis MD Mansur dkk dalam Sejarah Minangkabau, bahwa zaman sejarah Minangkabau pada zaman sebelum Masehi dan pada zaman Minangkabau Timur hanya dua persen saja yang punya nilai sejarah, selebihnya adalah mitologi, cerita-cerita yang diyakini sebagai tambo. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Prof Slamet Mulyana dalam Kuntala, Swarnabhumi dan Sriwijaya mengatakan bahwa kerajaan Minangkabau itu sudah ada sejak abad pertama Masehi.&lt;br /&gt;Kerajaan itu muncul silih berganti dengan nama yang berbeda-beda. Pada mulanya muncul kerjaan Kuntala dengan lokasi sekitar daerah Jambi pedalaman. Kerajaan ini hidup sampai abad ke empat. Kerajaan ini kemudian berganti dengan kerajaan Swarnabhumi pada abad ke lima sampai ke tujuh sebagai kelanjutan kerajaan sebelumnya. Setelah itu berganti dengan kerajaan Sriwijaya abad ke tujuh sampai 14.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Mengenai lokasi kerajaan ini belum terdapat kesamaan pendapat para ahli. Ada yang mengatakan sekitar Palembang sekarang, tetapi ada juga yang mengatakan antara Batang Batang Hari dan Batang Kampar. Candi Muara Takus merupakan peninggalan kerajaan Kuntala yang kemudian diperbaiki dan diperluas sampai masa kerajaan Sriwijaya. Setelah itu muncul kerajaan Malayapura (kerajaan Melayu) di daerah yang bernama Darmasyraya (daerah Sitiung dan sekitarnya sekarang). Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini kemudian dipindahkan oleh Adhytiawarman ke Pagaruyung. Sejak itulah kerajaan itu dikenal dengan kerajaan Pagaruyung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Menurut Jean Drakar dari Monash University Australia mengatakan bahwa kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan yang besar, setaraf dengan kerajaan Mataram dan kerajaan Melaka. Itu dibuktikannya dengan banyaknya negeri-negeri di Nusantara ini yang meminta raja ke Pagaruyung, seperti Deli, Siak, Negeri Sembilan dan negeri-negeri lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Minangkabau menurut tambo&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam bentuk lain, tambo menjelaskan pula tentang asal muasal orang Minangkabau. Tambo adalah satu-satunya keterangan mengenai sejarah Minangkabau. Bagi masyarakat Minangkabau, tambo mempunyai arti penting, karena di dalamtambo terdapat dua hal; (1) Tambo alam, suatu kisah yang menerangkan asal usul orang Minangkabau semenjak raja pertama datang sampai kepada masa kejayaan kerajaan Pagaruyung. (2) Tambo adat, uraian tentang hukum-hukum adat Minangkabau. Dari sumber inilah hukum-hukum, aturan-aturan adat, dan juga berawalnya sistem matrilineal dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Di dalam Tambo alam diterangkan bahwa raja pertama yang datang ke Minangkabau bernama Suri Maharajo Dirajo. Anak bungsu dari Iskandar Zulkarnain. Sedangkan dua saudaranya, Sultan Maharaja Alif menjadi raja di benua Rum dan Sultan Maharajo Dipang menjadi raja di benua Cina. Secara tersirat tambo telah menempatkan kerajaan Minangkabau setaraf dengan kerajaan di benua Eropa dan Cina. Suri Maharajo Dirajo datang ke Minangkabau ini, di dalam Tambo disebut pulau paco lengkap dengan pengiring  yang yang disebut; Kucing Siam, Harimau Campo, Anjiang Mualim, Kambiang Hutan.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing nama itu kemudian dijadikan “lambang” dari setiap luhak di Minangkabau. Kucing Siam untuk lambang luhak Tanah Data, Harimau Campo untuk lambang luhak Agam dan Kambiang hutan untuk lambang luhak Limo Puluah. Suri Maharajo Dirajo mempunya seorang penasehat ahli yang bernama Cati Bilang Pandai.&lt;br /&gt;Suri Maharajo Dirajo meninggalkan seorang putra bernama Sutan Maharajo Basa yang kemudian dikenal dengan Datuk Katumanggungan pendiri sistem kelarasan Koto Piliang. Puti Indo Jalito, isteri Suri Maharajo Dirajo sepeninggalnya kawin dengan Cati Bilang Pandai dan melahirkan tiga orang anak, Sutan Balun, Sutan Bakilap Alam dan Puti Jamilan. Sutan Balun kemudian dikenal dengan gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang pendiri kelarasan Bodi Caniago.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Datuk Katumanggungan meneruskan pemerintahannya berpusat di Pariangan Padang Panjang kemudian mengalihkannya ke Bungo Sitangkai di Sungai Tarab sekarang, dan menguasai daerah sampai ke Bukit Batu Patah dan terus ke Pagaruyung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Maka urutan kerajaan di dalam Tambo Alam Minangkabau adalah;&lt;br /&gt;(1)  Kerajaan Pasumayan Koto Batu,&lt;br /&gt;(2)  Kerajaan Pariangan Padang Panjang&lt;br /&gt;(3)  Kerajaan Dusun Tuo yang dibangun oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang&lt;br /&gt;(4)  Kerajaan Bungo Sitangkai&lt;br /&gt;(5)  Kerajaan Bukit Batu Patah dan terakhir&lt;br /&gt;(6)  Kerajaan Pagaruyung. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tambo Minangkabau, kerajaan yang satu adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya. Karena itu, setelah adanya kerajaan Pagaruyung, semuanya melebur diri menjadi kawasan kerajaan Pagaruyung.&lt;br /&gt;Kerajaan Dusun Tuo yang didirikan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang, karena terjadi perselisihan paham antara Datuk Ketumanggungan dengan Datuk Perpatih nan Sabatang, maka kerajaan itu tidak diteruskan, sehingga hanya ada satu kerajaan saja yaitu kerajaan Pagaruyung. Perbedaan paham antara kedua kakak beradik satu ibu ini yang menjadikan sistem pemerintahan dan kemasyarakatan Minangkabau dibagi atas dua kelarasan, Koto Piliang dan Bodi Caniago.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dari uraian tambo dapat dilihat, bahwa awal dari sistem matrilineal telah dimulai sejak awal, yaitu dari “induknya” Puti Indo Jalito. Dari Puti Indo Jalito inilah yang melahirkan Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Namun, apa yang diuraikan setiap tambo punya berbagai variasi, karena setiap nagari punya tambo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dr. Edward Jamaris yang membuat disertasinya tentang tambo, sangat sulit menenyukan pilihan. Untuyk keperluan itu, dia harus memilih salah satu tambo dari 64 buah tambo yang diselidikinya. Namun pada umumnya tambo menguraikan tentang asal usul orang Minangkabau sampai terbentuknya kerajaan Pagaruyung. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Asal kata Minangkabau&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata Minangkabau mempunyai banyak arti. Merujuk kepada penelitian kesejarahan, beberapa ilmuan telah mengemukakan pendapatnya tentang asal kata Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;a.       Purbacaraka (dalam buku Riwayat Indonesia I) Minangkabau berasal dari kata Minanga Kabawa atau Minanga Tamwan yang maksudnya adalah daerah-daerah disekitar pertemuan dua sungai; Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Hal ini dikaitkannya dengan adanya candi Muara Takus yang didirikan abad ke 12.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;b.       Van der Tuuk mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Phinang Khabu yang artinya tanah asal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;c.       Sutan Mhd Zain mengatakan kata Minangkabau berasal dari Binanga Kamvar maksudnya muara Batang Kampar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;d.       M.Hussein Naimar mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Menon Khabu yang artinya tanah pangkal, tanah yang mulya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;e.        Slamet Mulyana mengatakan kata Minangkabau berasal dari kata Minang Kabau. Artinya, daerah-daerah yang berada disekitar pinggiran sungai-sungai yang ditumbuhi batang kabau (jengkol).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dari berbagai pendapat itu dapat disimpulkan bahwa Minangkabau itu adalah suatu wilayah yang berada di sekitar muara sungai yang didiami oleh orang Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Namun dari Tambo, kata Minangkabau berasal dari kata Manang Kabau. Menang dalam adu kerbau antara kerbau yang dibawa oleh tentara Majapahit dari Jawa dengan kerbau orang Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Wilayah asal Minangkabau&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan tentang wilayah Minangkabau, seperti yang dijelaskan di atas, harus dilihat dalam dua pengertian yang masing-masingnya berbeda;&lt;br /&gt;1.      Pengertian budaya&lt;br /&gt;2.       Pengertian geografis&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dalam pengertian budaya, wilayah Minangkabau itu itu adalah suatu wilayah yang didukung oleh suatu masyarakat yang kompleks, yang bersatu bersamaan persamaan asal usul, adat, dan falsafah hidup.&lt;br /&gt;Menurut tambo, wilayah Minangkabau disebutkan saedaran gunuang Marapi, salareh batang Bangkaweh, sajak Sikilang Aie Bangih, lalu ka gunuang Mahalintang, sampai ka Rokan Pandalian, sajak di Pintu Rayo Hilie, sampai Si Alang Balantak Basi, sajak Durian Ditakuak Rajo, lalu ka Taratak Aie Hitam, sampai ka Ombak Nan Badabua.&lt;br /&gt;Mengenai batas-batas yang disebutkan di atas, berbagai penafsiran terjadi. Ada yang mengatakan bahwa batas-batas itu adalah simbol-simbol saja tetapi wilayah itu tidak ada yang jelas dan tepat, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa batas-batas itu adalah benar dan nagari-nagari yang disebutkan itu ada sampai sekarang. Dalam hal ini tentu kita tidak perlu melihat perbedaan-perbedaan pendapat tersebut, karena kedua-dua pendapat itu ada benarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dalam pengertian geografis, wilayah Minangkabau terbagi atas wilayah inti yang disebut darek dan wilayah perkembangannya yang disebut rantau dan pesisir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;a. Darek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Daerah dataran tinggi di antara pegunungan Bukit Barisan; di sekitar gunung Singgalan, sekitar gunung Tandikek, sekitar gunung Merapi dan sekitar gunung Sago. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Daerah darek ini dibagi dalam tiga luhak; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;(1) Luhak Tanah Data sebagai luhak nan tuo, buminyo nyaman, aienyo janiah ikannyo banyak, &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;(2) Luhak Agam sebagai luhak nan tangah, buminyo anegk, aienyo karuah, ikannyo lia, &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;(3) dan Luhak Limo Puluah Koto sebagai luhak nan bongsu, buminyo sajuak, aienyo janiah, ikannyo jinak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Tanah Data&lt;/strong&gt; adalah; Pagaruyung, Sungai tarab, Limo Kaum, Sungayang, Saruaso, Sumanik, Padang Gantiang, Batusangka, Batipuh 10 koto, Lintau Buo, Sumpur Kuduih, Duo puluah koto, Koto Nan Sambilan, Kubuang Tigobaleh, Koto Tujuah, Supayang, Alahan Panjang, Ranah Sungai Pagu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Agam&lt;/strong&gt; adalah; Agam tuo, Tujuah lurah salapan koto, Maninjau, Lawang, Matua, Ampek Koto, Anam Koto, Bonjol, Kumpulan, Suliki.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Nagari-nagari yang termasuk ke dalam luhak Limo Puluah Koto&lt;/strong&gt; adalah; luhak terdiri dari Buaiyan Sungai Balantik, Sarik Jambu Ijuak, Koto Tangah, Batuhampa, Durian gadang, Limbukan, Padang Karambie, Sicincin, Aur Kuniang, Tiakar, Payobasuang, Bukik Limbuku, Batu Balang Payokumbuah, Koto Nan Gadang (dari Simalanggang sampai Taram); ranah terdiri dari Gantiang, Koto Laweh, Sungai Rimbang, Tiakar, Balai Mansiro, Taeh Simalanggang, Piobang, Sungai Baringin, Gurun, Lubuk Batingkok, Tarantang, Selo Padang Laweh (Sajak dari Simalanggang sampai tebing Tinggi, Mungkar); lareh terdiri dari Gaduik, Tebing Tinggi, Sitanang, Muaro Lakin, Halaban, Ampalu, Surau, Labuah Gurun ( dari taram taruih ka Pauh Tinggi, Luhak 50, taruih ka Kuok, Bangkinang, Salo, Aie Tirih dan Rumbio)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;b. Rantau.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Daerah pantai timur Sumatera. Ke utara luhak Agam; Pasaman, Lubuk Sikaping dan Rao. Ke selatan dan tenggara luhak Tanah Data; Solok Silayo, Muaro Paneh, Alahan Panjang, Muaro Labuah, Alam Surambi Sungai Pagu, Sawah lunto Sijunjung, sampai perbatasan Riau dan Jambi. Daerah ini disebut sebagai ikue rantau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Kemudian rantau sepanjang iliran sungai sungai besar; Rokan, Siak, Tapung, Kampar, Kuantan/Indragiri dan Batang Hari. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Daerah ini disebut Minangkabau Timur yang terdiri dari;&lt;br /&gt;a). &lt;strong&gt;Rantau 12 koto&lt;/strong&gt; (sepanjang Batang Sangir); Nagari Cati nan Batigo (sepanjang Batang Hari sampai ke Batas Jambi), Siguntue (Sungai Dareh), Sitiuang, Koto Basa.&lt;br /&gt;b). &lt;strong&gt;Rantau Nan Kurang Aso Duopuluah&lt;/strong&gt; (rantau Kuantan)&lt;br /&gt;c). &lt;strong&gt;Rantau Bandaro nan 44&lt;/strong&gt; (sekitar Sungai Tapuang dengan Batang Kampar)&lt;br /&gt;d). &lt;strong&gt;Rantau Juduhan&lt;/strong&gt; (rantau Y.D.Rajo Bungsu anak Rajo Pagaruyung; Koto Ubi, Koto Ilalang, Batu Tabaka)&lt;br /&gt;e). &lt;strong&gt;NegeriSembilan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;c. Pesisir. Daerah sepanjang pantai barat Sumatera.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dari utara ke selatan; Meulaboh, Tapak Tuan, Singkil, Sibolga, Sikilang, Aie Bangih, Tiku, Pariaman, Padang, Bandar Sapuluah, terdiri dari; Air Haji, Balai Salasa, Sungai Tunu, Punggasan, Lakitan, Kambang, Ampiang Parak, Surantiah, Batang kapeh, Painan (Bungo Pasang), seterusnya Bayang nan Tujuah, Indrapura,Kerinci,Muko-muko,Bengkulu. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-7063244193250289574?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/7063244193250289574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=7063244193250289574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7063244193250289574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7063244193250289574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/05/minangkabau-dan-sistim-kekerabatan.html' title='Minangkabau dan Sistim Kekerabatan'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-8286085133487264552</id><published>2008-05-04T03:09:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T04:36:56.515-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garinyiek Minangkabau Yogya IV'/><title type='text'>Peluang dan Tantangan Dakwah Islam di Era Otonomi Daerah di Sumatera Barat</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-5b5a166032fc71e0" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v24.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3D5b5a166032fc71e0%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330299105%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D1137E22E5AF613DBA2653BAD2CA5FCC449714A8A.17FEA980B204E4B4B426BE8439AA733E5F058AB3%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D5b5a166032fc71e0%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3Db5Mjk3G8ZvPSMRh43SMKw9fdJuM&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v24.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3D5b5a166032fc71e0%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330299105%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D1137E22E5AF613DBA2653BAD2CA5FCC449714A8A.17FEA980B204E4B4B426BE8439AA733E5F058AB3%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D5b5a166032fc71e0%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3Db5Mjk3G8ZvPSMRh43SMKw9fdJuM&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;PELUANG DAN TANTANGAN DAKWAH ISLAM DI ERA OTONOMI DAERAH di SUMATERA BARAT&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;H. Mas’oed Abidin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketua Badan Amil Zakat Sumbar&lt;br /&gt;Ketua Dewan Dakwah Sumbar&lt;br /&gt;Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran (3) : 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Muqaddimah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat Allah SWT yang kita peroleh dengan berbagai kelebihan atau kekurangan adalah hasil dari pengorbanan dan ketekunan kita secara sambung bersambung. Sebagai buktinya adalah keterpaduan hati, tekad dan langkah yang kita ayunkan sampai hari ini. Nikmat itu membuka banyak kesem&amp;shy;patan bergerak lebih leluasa dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Di daerah kita, Sumatra Barat tercinta ini, kini dirasakan keterbu&amp;shy;kaan dalam bentuk lain, yakni dengan terbukanya wacana kembali ke nagari, walaupun selama 21 tahun telah pula berkembang wacana perubahan ini. Dan hal ini pulalah yang menjadi bukti dari demokratisasi yang berkembang sejak lama.&lt;br /&gt;Diberlakukannnya UU No.22/1999 membuka peluang masyarakat beradat berpegang pada adat bersendi syarak dan syarak bersendikan Kitabullah, secara lebih luas melaksanakan otonomi di daerah Sumbar yang didukung dengan lahirnya Perda No.9/2000 tentang Kembali Ke Pemerintahan Nagari. Perda ini memberi keleluasaan tertib melaksanakan kaedah adat di ranah Minang yang senyatanya adalah kekayaan budaya paling berharga untuk mendorong motivasi masyarakat&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; di nagari-nagari dalam mendinamisir diri membangun kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Problematika Dakwah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Seiring dengan itu di Alaf ini telah terjadi perubahan cepat dan transparan ditandai hubungan komunikasi, informasi, dan transportasi serba cepat mengarah kepada lepasnya sekatan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Sumbar mesti bersyukur kepada Allah, yang menganugerahi rahmat besar dengan nilai tamaddun budaya Minangkabau yang terikat kuat dengan penghayatan Islam dan telah pula diakui sebagai salah satu puncak kebudayaan dunia.&lt;br /&gt;Namun, di sisi lain, keterpesonaan menatap budaya lain di luar kita di tengah derasnya penetrasi budaya asing, kerapkali mengancam generasi pengganti meluncur ke arah degradasi akhlak yang cepat seiring terbukanya isolasi daerah-daerah sampai ke jantung Ranah Bundo Kanduang. Hal ini diperparah oleh kurang berperannya da’i dan imam khatib di nagari dalam memfungsikan Surau dan Masjid menjadi pusat pembinaan anak nagari.&lt;br /&gt;Sementara itu, mereposisi peran elemen penentu di tengah masyarakat di nagari tidaklah mudah. Pengalaman tiga dasawarsa menampakkan kecenderungan orang tua sebatas memenuhi serba kebutuhan fisik dan materi semata. Hal ini diperparah dengan menipisnya rasa kekerabatan keluarga. Peran du’at dan peran du’atan pun terlihat melemah dalam membentuk watak generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fungsi ninik mamak pun terjebak sebagai pejabat adat yang hanya diperlukan ketika upacara seremonial keadatan. Sehingga ninikmamak kurang signifikan mewarnai kehidupan anak kemenakannya yang pada usia muda‑mudi terbuka meniru apa saja, tanpa mengindahkan kaedah istiadat yang menjadi rambu-rambu perjalanan hidup bermsyarakat di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila ditinjau lebih dalam, lapuknya pagar adat dan syarak sebenarnya disebabkan oleh lunturnya keteladanan yang diberikan generasi tua. Hal ini memicu mencuatnya sikap enggan dan acuh generasi pengganti untuk menyerap nilai-nilai utama yang pernah dimiliki generasi tua yang sudah berprestasi. Kondisi ini boleh dibilang sangat mengkhawatirkan bila dilihat pada kesiapan Sumatera Barat meniti abad ke duapuluh satu yang serba transparan.&lt;br /&gt;Kondisi ini pun menjadi kian parah ketika meluasnya kemelut sosial, politik dan ekonomi yang dihadapi oleh negara-negara di dunia – yang tidak dapat tidak ikut mempengaruhi kondisi budaya dan kehidupan masyarakat Sumatera Barat—yang hanya dalam hitungan detik dapat diterima informasinya melalui berbagai media. Tentunya, dengan kelemahan system pendidikan secular yang kita anut sekarang, serta lemahnya pencapaian tujuan pendidikan yang telah digariskan dan dicitakan oleh para murabbi (para pendidik atau du’at) terhadap tatanan prilaku umat di nagari-nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang mempengaruhi perjalanan serah terima generasi di Ranah Minang, sehingga kita dihadapkan fenomena du’atan yang amat mencemaskan. Persoalan ini membelit remaja, umat dan anak nagari kita. Implikasi ini jelas terlihat pada tumbuhnya kebiasaan di kalangan para pelajar kita untuk bolos sekolah, malas belajar, suka bermain di mall -- pasar -- disaat jam belajar di sekolah, suka berkelahi berkelompok seperti tawuran, bahkan berani merusak kelas belajar dan rumah sekolah dan du’at, melempar toko-toko dan menghancurkan perpustakaan sekolah, memukul dan menyandera du’at yang mengajar mereka dan berkembang kepada melakukan tindakan vandalisme. Cakak Banyak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paling menakutkan, diantaranya terjangkiti prilaku “nan ka lamak dek salero”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; terbawa arus peristiwa keganasan yang melanda kalangan anak muda remaja di negeri orang. Tidak jarang mereka larut kedalam tindakan melampaui batas&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; yang menyeret meruyaknya kriminalitas dan pelanggaran norma hukum dalam bermasyarakat. Pada masa silam keadaan tersebut jarang dan bahkan tidak didapati pada prilaku umat di Ranah Bundo ini. Kejadian ini lazimnya sering dikaitkan dengan kemampuan du’at dan para murabbi mengajar umat. Mau tidak mau akan lahirkan di masa mendatang generasi yang kurang ilmu dan lemah dalam pemahamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Esensi Dakwah Illa-Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dakwah usaha terus menerus para da’i (du’aat) terhadap masyarakat yang di dakwahi (mad’uu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai bimbingan risalah Islam yang dibawa Muhammad Rasulullah SAW adalah untuk melakukan perobahan. Yang di inginkan adalah, “merobah tatanan masyarakat dzulumaat (sisi kegelapan) kepada tatanan yang terang cahaya (an-nuur)”.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah bertujuan memelihara keberadaan (eksistensi) manusia yang di ciptakan Allah untuk suatu tugas mulia dan istimewa sebagai khalifah Allah di permukaan bumi. Karena itu, upaya-upaya dakwah tidak akan pernah berhenti sampai berakhirnya kehidupan duniawi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara esensial dakwah ilaa Allah memiliki sisi-sisi mengagumkan antara lain ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dakwah adalah tugas suci (mission sacre) dalam rangkaian melanjutkan risalah Rasul Allah melalui tabligh (balligh maa unzila ilaika min rabbika), dalam menegakkan kalimat tauhid sesuai yang diperintahkan Allah, dan bila dakwah tidak ditunaikan sebagai pelanjut risalah maka dengan tegas diingatkan (fa maa ballaghta risaalatahu), akan berjangkit kema’shiyatan dalam kehidupan manusia, dan kekufuran akan menjadi-jadi, bantuan dari Allah akan terjauh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dakwah merupakan beban setiap pribadi mukmin (fardhu ‘ain) dengan sasaran membawa manusia kepada al-khairi (Islam). Sudah semestinya umat di sadarkan bahwa keberadaan lembaga du’aat sesungguhnya telah meringankan beban pribadi umat yang di bina. Secara timbal balik umat mempunyai tanggung jawab menjaga keberadaan lembaga du’aat (juru dakwah) sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dakwah memiliki program jelas amar makruf nahi munkar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila amar maruf nahi munkar tidak dilaksanakan terjadi bencana.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dakwah mendapat sanjungan ahsanu qaulan (seruan indah) karena ajakan kepada mengikuti perintah-perintah Allah (da’aa ilallaah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Realisasi dakwah senantiasa berbentuk karya nyata yang baik (wa ‘amila shalihan), atas dasar penyerahan semata kepada Islam (wa qaala innani minal muslimin), sebagai bukti ketaatan Muslim yang tidak menyamaratakan yang baik dan buruk.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dakwah mesti berlandaskan Kitabullah dan Sunnah Rasul (dakwah salafiyah). Dakwah selalu harus menyajikan Dinul Haq (Agama Islam) yang menjalinkan hubungan vertikal (hablum minallah) dan hubungan horizontal (hablum minan-naas)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Rangkaian ibadah yang dilahirkan oleh dakwah ilaa Allah ini sanggup mengetengahkan rekonstruksi alternatif untuk kehidupan kekinian (duniawi) sejalan dengan kehidupan kedepan (ukhrawi). Karena agama Islam sesuai wahyu Allah merupakan ajaran yang solid (rahmatan lil ‘alamin)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Solidnya ajaran Islam sesuai bimbingan Kitabullah dan sunnah Rasul terbukti dalam beberapa hal,&lt;br /&gt;a. agama fithrah yang damai,&lt;br /&gt;b. alamiyah insaniyah, sesuai dengan zaman,&lt;br /&gt;c. mengajarkan hidup harmoni dan mampu berdampingan secara damai sejahtera,&lt;br /&gt;d. dengan ajaran kaedah syar’I yang menaruh perhatian mendalam terhadap kesejahteraan materiil dan immateriil, menyeru manusia untuk hidup secara baik (shalih) dalam kehidupan individu, keluarga, kelompok, bangsa bahkan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hakikat Dakwah Bil Hal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Peran da'wah di Ranah Minang sekarang ini adalah menyadarkan umat akan peran mereka dalam membentuk diri mereka sendiri, "Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri." (QS.Ar-Ra’du).&lt;br /&gt;Kenyataan sosial terhadap penduduk anak nagari harus di awali dengan mengakui keberadaan mereka, menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadarkan mereka akan potensi besar yang mereka miliki, mendorong mereka kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab. Inilah tuntutan Da'wah Ila-Allah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Da'wah adalah satu kata, di dalam Al-Qur'an, bermakna ajakan atau seruan.&lt;br /&gt;Maka seruan atau ajakan itu, tidak lain adalah seruan kepada Islam. Yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul, dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da'wah, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Dalam rentangan sejarah perjalanannya tercatat "Risalah merintis, da'wah melanjutkan"&lt;br /&gt;Risalah menjadi tugas rasul itu, berisi khabar gembira dan peringatan. Ditujukan untuk seluruh umat manusia. Risalah itu cocok untuk semua zaman. Maksudnya untuk Rahmat seluruh alam. Dan Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W, adalah da'i pertama yang ditetapkan oleh Allah (QS. Saba’, 34 : 28), mengajak manusia dengan ilmu, hikmah dan akhlaq. Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da'wah itu, secara kontinyu diturunkan oleh Allah SWT seperti,&lt;br /&gt;a) Supaya menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46).&lt;br /&gt;b) Seruan untuk menyembah Allah, kepada seluruh manusia . Perintah untuk menyembah Allah, tidak boleh musyrik, agar hanya meminta kepadaNya dan mempersiapkan diri untuk kembali kepadaNya (QS.Al Qashash, 28 : 87).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tugas ini menjadi tugas para Rasul sebelumnya. Menjadi sempurna dan lengkap dengan keutusan Muhammad. Maka, manusia (umat) sekarang menjadi penerus dan pelaksana da'wah itu terus menerus sepanjang masa (QS. Ar-Ra’d, 13 : 35). Ditegaskan dalam kalimat sederhana tapi padat, bahwa da'wah kita adalah Da'wah Ila-Allah (QS. Ali Imran, 3 : 104). Manhaj-nya adalah Alquran dan Sunnah Rasul, dan pelaksananya setiap muslim, setiap mukmin adalah umat da'wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Terlaksananya tugas-tugas da’wah dengan baik akan menjadikan umat Islam mampu menjawab harapan masyarakat dunia.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Maka perlu setiap Da'i – Imam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagari-nagari -- meneladani pribadi Muhammad SAW dalam membentuk effectif leader di Medan Da'wah. Da'wah itu, menuju kepada inti dan isi Agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Inti agama Islam adalah tauhid. Implementasinya adalah Akhlaq. Umat masa kini hanya akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan. Kita semestinya bertindak atas dasar syara’ itu, dan mengajak orang lain untuk menganutnya. "Memulai dari diri da'i, mencontohkannya kepada masyarakat lain", (Al Hadist). Inilah cara yang tepat. Keberhasilan suatu upaya da'wah (gerak da'wah) memerlukan pengorganisasian (nidzam).&lt;br /&gt;Perangkat dalam organisasi surau, selain orang-orang, adalah juga peralatan da'wah yaitu penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan mereka yang dapat dibaca dalam peta da'wah (Yusuf Qardhawi, 1990). Peta da'wah, bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan di ajak tersebut. Bimbingan syara’ mengatakan bahwa al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam bermakna bahwa yang hak sekalipun, tetapi tidak mengindahkan pengaturan (organisasi) senantiasa akan di kalahkan oleh yang bathil tetapi dijalankan terorganisir. Allah menghendaki kelestarian Agama dengan kemampuan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bahasa Dakwah Adalah Bahasa Kehidupan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Peta da'wah, akan berhasil digunakan di nagari dengan kesepakatan pelaksana-pelaksananya dalam menggalang saling pengertian. Koordinasi sesamanya akan mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi). Kaedah syara’ akan menjadi pendorong dan anak kunci keberhasilan da'wah untuk menghidupkan adagium adat basandi syara’ syara; basandi Kitabullah.&lt;br /&gt;Aktualisasi dari Kitabullah (nilai-nilai Al-Qur'an) hanya dapat dilihat melalui gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dan terkait dengan seluruh segi dari aktivitas kehidupan manusia, -- seperti, kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da'wah), merapatkan potensi barisan (shaff) dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah) --, sehinga membuahkan agama yang mendunia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usaha inilah yang akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif pada abad-abad sekarang, dan sudah semestinya menjadi visi kembali ke surau .&lt;br /&gt;Kitabullah (Al-Qur'an) telah mendeskripsikan peran agama Allah (Islam) sebagai agama yang kamal (sempurna) dan nikmat yang utuh, serta agama yang di ridhai (QS.Al Maidah, 5 : 3), dan menjadi satu-satunya Agama yang diterima di sisi Allah,yaitu Agama Islam (QS. Ali Imran, 3 : 19). Konsekuensinya adalah yang mencari manhaj atau tatanan selain Islam, tidak akan di ridhai ( QS. Ali Imran, 3 : 85). Tidak ada pilihan lain hanya Islam, "Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah secara ikhlas, yakni orang Muslim, merekapun mengerjakan kebaikan-kebaikan" (QS. An Nisak, 4 : 125). Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah (Al Qur'an) wajib mengemban missi yang berat dan mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang di maksud secara hakiki "perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah, modernitas)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah Dakwah Kedepan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;strong&gt;Kehidupan pra-globalisasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang terlihat menggejala di tengah kehidupan masyarakat adalah penerapan pola hidup materialistik dan individualis. Sajian pola kehidupan seperti ini tampak nyata dengan hilangnya tatanan bermasyarakat kebersamaan (kurang bersilaturrahmi).&lt;br /&gt;Akibat nyata yang terasakan ditengah kehidupan bermasyarakat ialah ;&lt;br /&gt;· mulai merenggangnya hubungan kekerabatan,&lt;br /&gt;· hilangnya rasa tanggung jawab bersama,&lt;br /&gt;· pudarnya kegotong royongan, yang selama ini adalah ciri khas budaya bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;Kehidupan kaula muda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tendensi lahirnya generasi yang lemah iman (dhi’aa-fan) berupa hilangnya tamaddun (terlihat pada kebiasaan hidup tak berbudaya). Kaula muda seperti itu cendrungan menjadi “X-Generation”, yakni generasi yang tercerabut dari akar budayanya.&lt;br /&gt;Kondisi ini terlihat nyata pada ;&lt;br /&gt;· kesukaan meniru budaya asing,&lt;br /&gt;· cinta mode barat,&lt;br /&gt;· sering melakukan penggunaan obat terlarang, yang sangat erat kaitannya dengan kebebasan seks&lt;br /&gt;· suka minuman keras dan perjudian,&lt;br /&gt;· budaya sunset, budaya lepak, bolos sekolah,&lt;br /&gt;· suka mengganggu ketenteraman dengan bersikap negatif,&lt;br /&gt;· berkembangnya upaya-upaya pemurtadan terhadap umat yang telah menganut agama Islam, terutama terhadap generasi muda, dengan dalih hak asasi manusia, kebebasan memilih keyakinan, atau upaya terselubung lainnya berbentuk pemberian, hadiah, bantuan LSM, bea siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun sebelumnya gejala-gejala ini tidak jelas terlihat. Kondisi separah ini merupakan bias dari kemajuan teknologi informasi (IT) disertai melemahnya saringan (filter) di kalangan rumah tangga dan keluarga (tidak berfungsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;Penolakan asas Agama &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan keyakinan dan faham keagamaan mulai tercemari paham sekularisme dan penerapan paham persamaan hak yang kurang tepat dengan kemasan Hak Asasi Manusia.&lt;br /&gt;Paham persamaan segala manusia dan hak-hak kemerdekaannya memang berasal dari ajaran Agama.&lt;br /&gt;Tetapi oleh karena kepentingan pihak-pihak imperium feodal, sejak Romawi hingga revolusi Perancis, sampai reformasi demokratisasi dan humanisasi melanda belahan bumi.&lt;br /&gt;Perang paham ini senantiasa berujung kepada penolakan asas agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;strong&gt;Konspirasi internasional.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Asas agama sering dijadikan salah satu ujud sasaran tembak dalam pertentangan-pertentangan di antara pemegang kekuasaan dunia, percaturan politik sejagat yang mengarah persekongkolan kekuatan- kekuatan anti agama (persekongkolan kekuatan ini sering bergulir menjadi konspirasi internasional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran bimbingan wahyu Allah dapat disimak dengan sangat jelas dalam percaturan memperebutkan umat diantara kalangan Salibiyah (Christ society) dan Yahudiyah (Lobi Zionis Internasional). Dua kelompok yang tidak pernah berdiam diri, untuk mempengaruhi paham dan pikiran manusia, sampai semua orang bisa mengikuti ajaran (millah) nya.&lt;br /&gt;Sasaran utama lebih di arahkan kepada kelompok-kelompok Muslim sejagat persada. Sasaran utamanya adalah melumpuhkan kekuatan Islam secara sistematik. Berkembangnya citra (imaj) bahwa paham-ajaran Islam adalah musuh bagi kehidupan manusia dan tatanan dunia, merupakan bukti dari hasil uopaya gerakan Salibiy Yahudi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapannya dalam pertentangan-pertentangan kekuatan dunia sering terlihat dengan bingkai ethnic cleansing, penempelan label teroris terhadap gerakan-gerakan dakwah Islam, fundamentalis, radikalisme, keterbelakangan, kurang dapat menyesuaikan gerak dengan kemajuan, adalah merek yang dikenakan terhadap organisasi-organisasi Islam lokal maupun dunia. Pada akhirnya umat Islam menjadi enggan menerima ajaran Islam dalam kehidupan kesehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi Islam dipandang hanya sebatas ritual dan seremonial. Peran konsepsi ajaran Islam dianggap tidak cocok untuk menata kehidupan sosial ekonomi dan politik. bangsa-bangsa. Hubungan manusia secara internasional dinilai tidak pantas di kover oleh ajaran agama Islam.&lt;br /&gt;Adanya pemahaman bahwa ajaran agama hanya bisa di terapkan untuk kehidupan akhirat, bukan untuk tatanan masa kini, merupakan gejala lain dari kehidupan sekuler materialisma. Begitulah suatu warning (peringatan) wahyu, bila mampu dipahami secara jelas tertera dalam Al Quran.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5. &lt;strong&gt;Diniyah atau laa diniyah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan pemahaman menerapkan ajaran Islam, akan bermuara kepada memecah umat manusia (firaq) yang pada mulanya telah di ikat oleh kewajiban kerja sama (ta’awun) menjadi dua pihak (diniyah dan laa diniyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sama lain, atau kedua-duanya seakan harus berhadapan dalam satu satuan perang yang dipertentangkan secara bengis dan ganas, penuh kecurigaan dan intimidasi, akhirnya memungkiri segala keuatamaan budi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertalian dengan agama lain, semestinya pula umat Islam berpedoman kepada (QS.al-Baqarah 256). Bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Iman diperoleh sebagai rahmat dan karunia Ilahi bukan melalui pemaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman kepada adanya permusuhan antara golongan dalam masyarakat yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;strong&gt;Hak asasi manusia.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulan hidup serta tatanan bernegara harus diakui kemerdekaan beragama merupakan hak asasi tiap-tiap orang. Hak asasi ini akan selalu terpelihara dan terjamin, selagi kemerdekaan itu selalu bertumpu kepada terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak asasi manusia secara pribadi tetap akan terlindungi adanya dikala setiap pribadi memandang dengan keyakinan sadar bahwa setiap orang memiliki hak untuk tidak berbuat sesuka hati.&lt;br /&gt;Tatkala sesorang dalam mempertahankan hak asasinya mulai bertindak laku dengan tidak mengindahkan hak-hak azasi orang lain disampingnya, maka pada saat yang sama semua hak asasi itu tidak terl;indungi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban asasi untuk tidak melanggar kehormatan orang lain serta kewajiban asasi untuk secara sadar (buikan dengan paksaan) untuk memberikan penghormatan kepada kemerdekaan orang lain, senyatanya adalah bingkai dari hak asasi manusia yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam yang sangat berperangaruh terhadap budi pekerti dan memberikan semangat kepada segenap bangsa. Kembali kepada “kalimatin sawaa’ antara sesama kita, yaitu tidak akan ada diantara kita yang mau meninggalkan penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi bangsa Indonesia, telah terbukti mampu untuk menghidupkan kesadaran akan rasa persamaan dan persaudaraan dalam satu batas kesatuan wilayah Republik Indonesia.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam berkewajiban memelihara hubungan horizontal, dalam bentuk pemeliharaan solidaritas sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia adalah keluarga Allah. “Yang paling disayangi Allah adalah yang paling bermanfaat sesama hidup diantara manusia itu” &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaedah tatanan bermasyarakat, Islam menetapkan setiap diri wajib memelihara kerukunan serta mempertahankan damai dalam suasana kedamaian.&lt;br /&gt;Umat Islam diperintah untuk selalu membukakan pintu penyelesaian permasalahan sengketa secara damai pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu jangan salah mendasarkan sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa umat Islam telah dipilih dan dijadikan sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan), yang memiliki kewajiban terhadap persatuan dan persaudaraan dunia serta perikemanusiaan.&lt;br /&gt;Karena itu, umat Islam memiliki kewajiban terlebih dahulu untuk menciptakannya dengan memulai dari diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban mesti harus lebih dahulu di tunaikan sebelum hak menjadi tuntutan.&lt;br /&gt;Pokok-pokok pemahaman ini menjadi landasan dari hasil penerapan ajaran agama Islam untuk bisa terpeliharanya dan terlaksananya penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;strong&gt;Kehidupan konsumerisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berbelanja tanpa takaran selalu memancing keluarga, terutama masyarakat lapis bawah yang adalah grass root dan menjadi akar serabut masyarakat kepada pemborosan yang pada gilirannya terlihat pada ;&lt;br /&gt;· terikat kepada hutang (kredit lunak berbunga besar)&lt;br /&gt;· rusak kerukunan bermasyarakat,&lt;br /&gt;· hilangnya ketenteraman,&lt;br /&gt;· timbulnya penipuan, pemalsuan, perampokan, pembunuhan, dan,&lt;br /&gt;· berbagai tindakan kriminal.&lt;br /&gt;· pemurtadan aqidah, karena yang kuat akan selalu memakan yang lemah, pada akhirnya patriotisme berbangsa dan bernegara mulai terasa hilang.&lt;br /&gt;· Agama Islam menyebutkan bahwa “kekafiran itu seringkali datang karena kefakiran”.&lt;br /&gt;· krisis akhlaq mulai menjangkiti masyarakat desa, tersebab mulai menjauhnya umat dari bimbingan agama, melemahnya tabligh, pengajian, majlis ta’lim, dan mulai lengangnya masjid dan langgar, orang tua enggan memasukkan anak-anaknya kesekolah-sekolah agama.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;8. &lt;strong&gt;Proyek modernisasi barat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari runtuhnya kekuasaan gereja, terutama di belahan dunia barat, telah menggeser pandangan masyarakat yang semula akrab dengan perpegangan agama menjadi condong kearah pengkejaran kepada memenuhi keperluan-keperluan lahiriah dengan mengabaikan kebutuhan rohaniah melalui tindakan-tindakan pengabaian prinsip-prinsip moral yang lazim berlaku, dan acapkali berakhir dengan lenyapnya kebahagiaan atau lumpuhnya pertumbuhan jiwa manusia.&lt;br /&gt;Kehilangan perpegangan kepada ajaran agam tambah diperburuk setelah Komunis runtuh di Rusia (1990), Krisis Rohani Barat ber gerak cepat dengan melakukan perubahan berupa "proyek Modernisasi". Pakar Teoritis Barat mulai ragu dengan hipotesa-hipotesa mereka.&lt;br /&gt;Barat sedang di jangkiti keimanan terhadap tuhan baru "developmentalisme" yang berkembang terus subur.&lt;br /&gt;Keperluan manusia kepada tuhan menyebabkan mereka mencari-cari tuhan kemana saja, padahal pemikian menafikan tuhan adalah sama dengan meniadakan keberadaan manusia dan alam kehidupan manusia. "Hingga batas manapun pemikiran tidak adanya tuhan tidak dapat diterima"&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjauh dari ajaran agama menampilkan keganjilan-keganjilan dalam tingkah laku manusia, seperti terlihat pada (a). Mencari agama khusus di supermarket, (b). Memperturutkan kehendak hawa nafsu merebut kelezatan hidup (hedonistik), (c). Neo paganisma, skeptisme, atheisme, rasialisme, penyembahan berhala baru berupa kokain, materialisme, dan konsumerisme total, (d).Menciptakan kemajuan yang dibangun diatas perbedaan ras, dan kelas penguasa, (e). Mayoritas penduduk dunia, mulai membatasi pandangan hakikat permasaalah sebatas pencapaian panca indera. (f). Agama dalam pandangan kalangan materialistik adalah khurafat, opium bangsa, bahaya persatuan, tanda penipuan diri, kelemahan logika (= politik atheisme aktif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila umat Islam terbias oleh pandangan proyek modernisasi barat dengan meninggalkan pemahaman ajaran Islam yang dianut selama ini, maka ucapan Mohammad Abduh "Islam telah meninggalkan dunia Islam, karena walaupun ditemui banyak umat Islam, tetapi hanya sedikit di dapati pengamal agama (syari'at) Islam", tentu akan menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;strong&gt;Dekandensi Moral&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Krisis dekadensi moral yang melanda tatanan pergaulan dunia berbentuk meningkatnya tindak krimanilitas, kecanduan alkohol, obat bius, penyimpangan-penyimpangan hubungan sexual, perlakuan buruk terhadap anak-anak, naiknya tingkat perceraian, free-will, penghormatan terhadap nilai orang tua sangat merosot, semuanya itu pasti berpengaruh besar kedepan.&lt;br /&gt;Krisis moral ini akan menjadi kerugian generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ini diperparah oleh jiwa skeptis, blok-blok rasialisme. Chauvinisme abad XIX mulai berkembang kembali. Penghancuran manusia melalui peperangan dan percobaan nuklir, dan penggunaan bahan bakar yang berlebihan, telah merampas kenikmatan dan kenyamanan hidup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu hedonisme pada akhirnya menjadikan dekadensi moral menguras kekuatan, dan tidak mungkin memberikan nilai-nilai komprehensif kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Memperkuat Posisi Nagari&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tugas kembali kenagari, sesungguhnya adalah menggali kembali potensi dan asset nagari – yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari --, karena apabila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari itu. Dimulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat nagari.&lt;br /&gt;Kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing, untuk kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan, dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja. Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.”. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tetangga secara selfless help, dengan memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharap balas jasa, "Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi". (Q.S. Al Lail, 19 - 20). Walaupun di depan terpampang kendala-kendala, namun optimisme banagari mesti selalu dipelihara, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran surau yang memberikan pelajaran-pelajaran sesuai dengan syara’ itu, antara lain dapat di ketengahkan ;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. &lt;strong&gt;Mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena ni’mat Allah, sangat banyak. “Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18). Hukum Syara’ menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan jasmani ; "Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara" (Hadist). Keseimbangan tampak dalam mewujudkan kemakmuran di ranah ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.&lt;br /&gt;Sesuai bimbingan syara’, "Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya" (Hadist).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;Kesadaran kepada luasnya bumi Allah, merantaulah !&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.&lt;br /&gt;“Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan", (QS.62, Al Jumu’ah : 10). Agar supaya “jangan tetap tertinggal dan terkurung dalam lingkungan yang kecil”, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97). Karatau madang di hulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu di rumah paguno balun.&lt;br /&gt;Ditanamkan pentingnya kehati-hatian, “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;Mencari nafkah dengan "usaha sendiri" &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat dengan cara amat sederhana sekalipun "lebih terhormat", daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain, "Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta". (Hadist).&lt;br /&gt;Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan tanpa berupaya adalah salah , "Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)" (Hadist).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. &lt;strong&gt;Tawakkal dengan bekerja dan tidak boros.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tawakkal, bukan "hanya menyerahkan nasib" dengan tidak berbuat apa-apa, "Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal" (Atsar dari Shahabat). Tak ada kebun tempat bertanam, tak ada pasar tempat berdagang. Tak kurang, setiap pagi terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore kembali dalam keadaan "kenyang". &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;strong&gt;Kesadaran kepada ruang dan waktu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Peredaran bumi, bulan dan matahari, pertukaran malam dan siang, menjadi bertukar musim berganti bulan dan tahun, "Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup". (QS.78, An Naba’ : 10-11), menanamkan kearifan akan adanya perubahan-perubahan.&lt;br /&gt;Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan,&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah”.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Konsep Tata ruang yang Jelas &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nagari di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas, Basasok bajarami, Bapandam bapakuburan, Balabuah batapian, Barumah batanggo, Bakorong bakampuang, Basawah baladang, Babalai bamusajik. Ba-balai (balairuang atau balai-balai adat) tempat musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan, “Balairuang tampek manghukum, ba-aie janieh basayak landai, aie janiah ikan-nyo jinak, hukum adie katonyo bana, dandam agiae kasumaik putuih, hukum jatuah sangketo sudah”.&lt;br /&gt;Ba-musajik atau ba-surau tempat beribadah, “Musajik tampek ba ibadah,tampek balapa ba ma’ana, tampek balaja al Quran 30 juz, tampek mangaji sah jo batal”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;, artinya menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah), maka adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; dalam “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah., syara’ mangato adat nan kawi syara’ nan lazim”. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Kedua lembaga ini – balai adat dan surau – keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan, karena &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Pariangan manjadi tampuak tangkai, pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo syara’ jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan ditemui di kelilingnya tampil kehidupan masyarakat yang memiliki akhlaq perangai yang terpuji, dan mulia (akhlaqul-karimah) itu, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, adaik jo syara’ kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsep tata-ruang ini adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayatnya, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan du’atn buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak”.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih (ninik mamak&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;, alim ulama&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;, cerdik pandai&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;, urang mudo&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;, bundo kanduang&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;Dengan demikian, terlihat bahwa nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat namun yang lebih mengedepan dan paling utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari dengan spiritnya adalah ;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;a. kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;b. keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”. Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman atau dukungan terhadap kehidupan dan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;c. musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;d. keimanan kepada Allah SWT menjadi pengikat spirit yang menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak mengenal alam keliling, “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan du’at ”. Alam di tengah-tengah mana manusia berada ini, telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan terkandung padanya faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmani manusia, dengan keharusan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, dan beribadah kepada Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;e. kecintaan kenagari adalah perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak. Suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani. “Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tango”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sikap hidup (attitude towards life) sedemikian, menjadi sumber pendorong kegiatan penganutnya, juga di bidang ekonomi, dengan tujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs). Hasilnya tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakat nagari dan kepada tingkat kecerdasan yang telah dicapai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; motivation of force&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; borderless&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; permissivisme&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; anarkisme&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lihat juga QS.Al Baqarah (2) ayat 257; QS.Al Maaidah (5) ayat 16; QS.Al Hadid (57) ayat 9; QS.Ath-Thalaq (65) ayat 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; QS.Al Maidah (5) ayat 67.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; QS.3:104.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Rasulullah mencontohkan hidup ini seperti sebuah pelayaran diatas perahu, dengan aturan-atuiran yang terang. Tatkala seorang penumpang mencoba melobangi dinding perahu untuk mendapatkan air dengan cepat pada tempat duduknya, jangan dibiarkan saja perbuatan itu. Bila orang tak mau tahu dan bersikap membiarkan perbuatan itu, maka yang akan karam tidak hanya yang melobangi perahu semata, tetapi yang diam melihat (artinya enggan melaksanakan peran amar makruf) akan karam juga (Al Hadist).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; QS.Fush-shilat (41) ayat 33.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; QS.Ali Imran (3) ayat 112.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; QS.Al Anbiya’ (21) ayat 107.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Diperlukan watak-watak, yang ditunjukkan oleh penda'wah pertama, Rasulullah SAW (Mohammad Natsir, Tausiyah 24 tahun Dewan Da’wah, Media Da’wah, Jakarta 1992, Da'wah kita adalah Da'wah Ila-Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; (lihat QS. Al-Baqarah 120)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Maka umat Islam di Indonesia mempunyai tugas sebagai pendukung risalah yang patut dan pantas dengan membulatkan semua tenaga, mengerahkan semua benda, menyatukan pemikiran untuk kemashalahatan umat banyak.&lt;br /&gt;Bagi perjuangan politik dari kebanyakan partai politik di Indonesia yang tidak berdasarkan agama, sebenarnya selalu berisikan segmen keanggotaannya adalah penganut agama Islam juga.&lt;br /&gt;Secara pasti penganut agama Islam dalam partai-partai yang tidak berdasarkan agama itu, tentulah akan selalu bersetuju melaksanakan perintah-aturan agamannya. Karena dalam kenyataannya, tidak akan pernah di temui adanya satu nilai yang mampu di letakkan diluar asas ajaran agama dalam melalui siklus kehidupan sehari-hari..&lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan oleh setiap warga negara Indonesia dengan kesadaran mendalam.&lt;br /&gt;Kemerdekaan negara kesatuan ini adalah merupakan rahmat dan karunia Allah atas dasar “kalimatin sawa”, kata persamaan untuk segenap golongan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Al Hadist asy-Syarif.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Richard Swanburn, Oxford,Wujud Allah, 1979&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Memang di surau tidak ada yang dapat di cari benda-benda (materi), kecuali hanya bekal ilmu, hikmah dan kepandaian-kepandaian untuk mengharungi hidup di dunia ini, dan dalam mempersiapkan hidup di akhirat. Sebagai terungkap di dalam Peribahasa Minangkabau, “bak batandang ka surau”, karena memang surau tak berdapur (Anas Nafis, 1996:464 -Surau-2).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Oleh H.Idrus Hakimy Dt. Rajo Pengulu dalam Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, menyebutkan kedua lembaga – balairung dan mesjid – ini merupakan dua badan hukum yang disebut dalam pepatah : “Camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam” (Dt.Rajo Pengulu, 1994 : 62).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninik mamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Bisa juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama Islam. Gelaran ini lebih menekankan kepada pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Bisa saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perdu’atan tinggi, hartawan, dermawan.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini, lebih jelasnya di ungkap di dalam Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang di Minangkabau, adalah menjadi “limpapeh rumah nan gadang,umbun puruak pegangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batuah” (Idrus Hakimy, 1997 : 69 – 116)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404&amp;amp;pli=1#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Bukti kecintaan kenagari ini banyak terbaca dalam ungkapan-ungkapan pepatah hujan ameh dirantau urang hujang batu dinagari awak, tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-8286085133487264552?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/8286085133487264552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=8286085133487264552' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/8286085133487264552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/8286085133487264552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/05/peluang-dan-tantangan-sakwah-islam-di.html' title='Peluang dan Tantangan Dakwah Islam di Era Otonomi Daerah di Sumatera Barat'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-183511899879488404.post-7193236710115337659</id><published>2008-05-04T02:27:00.001-07:00</published><updated>2008-05-04T03:06:04.647-07:00</updated><title type='text'>Membangun Pemerintahan Nagari berasakan ABS-SBK dengan baik</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SB2HQHPIsJI/AAAAAAAAAaE/4QEfmA0Efcg/s1600-h/Jakarta+175.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196458255945609362" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SB2HQHPIsJI/AAAAAAAAAaE/4QEfmA0Efcg/s320/Jakarta+175.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Membangun PEMERINTAHAN NAGARI berdasarkan prinsip “Adat basandi Syarak, Syarak basandi kitabullah” &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : H Mas'oed Abidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kembali ke pemerintahan nagari --, membuka lebih banyak peluang untuk lebih bertanggung jawab dalam menerapkan nilai-nilai tamadun budaya Minangkabau – ABS-SBK -- yang terikat kuat dengan penghayatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada beberapa kendala -- dalam impelementasi penerapan nilai-nilai budaya tersebut Antara lain ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hubungan muda‑mudi dewasa ini, sudah terbiasa meniru kekiri kanan,&lt;br /&gt;2. Hubungan kekerabatan antar keluarga dan taratak mulai menipis,&lt;br /&gt;3. Peran ninik mamak hanya dalam batas‑batas seremonial,&lt;br /&gt;4. Peran substantif dari ulama, dalam pembinaan akhlak anak nagari kerap kali tercecerkan&lt;br /&gt;5. Peran pendidikan akhlak berdasarkan prinsip-prinsip budaya adat berdasarkan ABS-SBK menjadi kabur dan melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SB2DjXPIsFI/AAAAAAAAAZk/6cklL7HQWDE/s1600-h/Jakarta+173.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196454188611579986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SB2DjXPIsFI/AAAAAAAAAZk/6cklL7HQWDE/s320/Jakarta+173.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Menata pemerintahan nagari dengan prinsip ABS-SBK sangat dituntut pribadi‑pribadi yang utuh dan unggul, dengan iman dan taqwa, berlimu pengetahuan menguasai teknologi, berjiwa wiraswasta, ber‑moral akhlak, beradat dan beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menata kembali ke pemerintahan nagari sesungguhnya adalah mengembangkan "hidup modern dan maju dengan keimanan yang kokoh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekwensinya, penyediaan sumber daya manusia berkualitas --- tampilnya penggerak pembangunan nagari berbekal teoritikus yang tajam, dan effektif, qanaah dan istiqamah di bidangnya -- sebelum melaksanakan social reform.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tidak, akan mengundang kerawanan sosial -- apalagi bila penduduk desa-desa yang selama 17 tahun dibiar berkembang dan serta merta berubah menjadi nagari -- yang cenderung tidak berkemampuan mengantisipasi dampak besar yang akan timbul dalam menerima perubahan seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga membina nagari diperlukan “opsir lapangan”, · bersedia dan pandai berkecimpung di tengah‑tengah umat, · berilmu dan berpengalaman · “mahir membaca masyarakat” · dapat merasakan denyut nadi kehidupan anak nagari · berurat pada di hati umat di nagari-nagari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat kecil di nagari-nagari -- di masa derasnya arus globalisasi yang menggeser pola hidup masyarakat di bidang sosial, ekonomi, politik dan juga budaya ini -- senantiasa menjadi sasaran empuk dan umpan dari satu perubahan berbalut westernisasi dan pembudayaan di luar prinsip ABS-SBK – dan acap kali mereka tersasar sesat jalan, hanya karena kurangnya pemahaman terhadap adat dan syarak (agama Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketiadaan bekalan. Itulah penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan sosial berteras kebersa&amp;shy;maan atau musyawarah – sebagai salah satu landasan yang mengemuka di dalam prinsip ABS-SBK -- bergeser menjadi individualis dan konsumeristis – hanya condong berjuang memelihara kepentingan sendiri – dalam menata pemerintahan nagari karena kurang pemahaman dan lemahnya penegasan pola pelaksanaan undang-undang dan Perda Nagari yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang terjadi setiap nagari tumbuh dengan sikap bernafsi-nafsi dan condong kepada melupakan nasib orang lain – yang tentu saja tidak pernah terbayangkan adanya di dalam prinsip ABS-SBK itu – dan persaingan antar nagari -- tanpa kawalan -- akan bergerak kepada “yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri”, dan yang kuat akan menelan yang lemah di antara mereka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan sosial, budaya, ekonomi, politik dan lemahnya penghayatan agama di nagari-nagari dewasa ini tidak terelakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya pekat hingga ke taratak-taratak terpencil seperti tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, dan beberapa tindakan kriminal dan anarkis, merusak tatanan keamanan, mengaburkan prinsip-prinsip ABS-SBK, padahal pengendali kemajuan sebenarnya adalah agama dan budaya umat (kita menyebutnya ABS-SBK dalam tataran umatisasi).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Yang didukung budaya tamaddun turun temurun dalam masyarakat kita – yang tidak lain adalah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah --.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercerabutnya agama dari diri masyarakat Sumatera Barat –Minangkabau --, berakibat besar kepada perubahan prilaku dan tatanan masyarakatnya, karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak (=agama) mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)” – sungguhpun dalam pengamatan sehari-hari sudah sulit dijumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan alim ulama di Minangkabau sejak dulu adalah membawa umat -- melalui informasi dan aktifiti -- kepada keadaan yang lebih baik,&lt;br /&gt;a. Kokoh dengan prinsip,&lt;br /&gt;b. Qanaah dan istiqamah – konsistensi--,&lt;br /&gt;c. Berkualitas, dengan iman dan hikmah.&lt;br /&gt;d. Ber-‘ilmu dan matang dengan visi dan misi.&lt;br /&gt;e. Amar makruf nahyun ‘anil munkar, teguh dan professional.&lt;br /&gt;f.  Research-oriented berteraskan iman dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;g. Mengedepankan prinsip musyawarah sebelum mufakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah dengan itu semua akan dapat dirajut khaira ummah di dalam masyarakat nagari yang pacak menghadapi kompleksitas di alaf baru dengan kekuatan budaya dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak.&lt;br /&gt;Kelemahan mendasar ditemui karena, melemahnya jati diri dan kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama dan adat yang menjadi anutan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemahnya jati diri tersebut akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri, perbudakan politik, ekonomi, sosial budaya – disertai oleh lemahnya minat menuntut ilmu -- yang menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi sedemikian semakin parah karena adanya pihak-pihak lain yang memulai geraknya dengan uluran tangan pemberian. Bisa terjadi dengan itu "&lt;em&gt;cakak banyak&lt;/em&gt;" antar nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi di nagari-nagari di Minangkabau dengan kewajiban, memelihara dan menjaga generasi pengganti yang lebih sempurna,&lt;br /&gt;mengupayakan berlangsung proses timbang terima kepemimpinan dalam satu estafetta alamiah -- patah tumbuh hilang berganti –.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesudahannya yang dapat mencetuskan api adalah batu pemantik api juga.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yaitu anak nagari dan pera pemuka di nagari yang teguh dan setia melakukan pembinaan – retransformasi adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah yang sudah lama di miliki – mampu berinteraksi dengan lingkungan secara aktif – artinya ada kesiapan melakukan dan menerima perubahan dalam tindakan yang benar – karena sebuah premis syarak mengatakan bahwa segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum pemeranan syarak di tengah pembangunan masyarakat nagari ialah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menghidupkan kembali sikap prilaku yang menjadi modal utama membangun nagari dengan alas musyawarah dan saling menghargai.&lt;br /&gt;Sulit membantah bahwa hilangnya akhlak menjadi salah satu sumber malapetaka yaitu punahnya keamanan. Indikasi melemahnya syarak diantaranya berkurangnya minat menyerahkan anak-anak ke Surau-surau, Majelis Ta’lim, TPA, MDA, bahkan melemahnya frekuensi pengajian-pengajian Al-Qur’an, dan merebaknya kebiasaan meminum minuman keras (Miras) pada sebahagian – kecil (?) -- kalangan muda-remaja di nagari-nagari dan berkembangnya keinginan bergaul bebas di luar tatanan dan batas-batas adat dan syarak (agama) --.&lt;br /&gt;2. Menjalin dan menjamin keikut sertaan semua komponen di tengah masyarakat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memulai dari penataan akhlak masyarakat anak nagari menurut kaedah syarak mangato adat mamakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi seringkali tidak terikuti oleh pembinaan yang intensif, antara lain disebabkan :&lt;br /&gt;a. Kurangnya tenaga tuangku, imam khatib dan alim ulama yang berpengalaman – mungkin berkurangnya jumlah mereka di nagari-nagari atau karena perpindahan ke kota,&lt;br /&gt;b. kurangnya minat menjadi imam-khatib dan alim ulama di nagari,&lt;br /&gt;c. Terabaikannya kesejahteraan alim ulama di nagari-nagari -- secara materil yang tidak seimbang dengan tuntutan yang diharapkan oleh masyarakat dari seorang da’i – di antara jalan keluarnya dapat diupayakan pemerkasaan mereka dengan jalan pelembagaan musyawarah, dan penetapan anggaran nagari atau sumber tetap dari masayarakat --, karena umumnya imam-khatib bukanlah pegawai nagari yang memiliki penghasilan bulanan yang tetap – telah dianggarkan dalam APBD –padahal mereka senantiasa dituntut oleh tugasnya untuk selalu berada di tengah umat di nagari yang dibinanya.&lt;br /&gt;d. Memang tantangan dakwah selalu berhadapan dengan tantangan yang sangat banyak, namun uluran tangan yang didapat hanya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatasinya dengan modal kesadaran memanfaatkan jalinan hubungan yang sudah lama terbina – rantau dll. Penyadaran masyarakat terhadap prinsip-prinsip ABS SBK, melahirkan sikap anak nagari (mental attitude) yang penuh semangat vitalitas, enerjik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya, menanamkan komitmen fungsional bermutu tinggi – kemampuan penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif, mendorong terbinanya center of excelences – tangga musyawarah anatara lembaga adat, syarak dan fungsionaris nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tentulah tidak dapat ditolak suatu realita objektif bahwa, “Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.”&lt;br /&gt;hidupkan lembaga syarak sebagai institusi masyarakat yang perannya tidak kalah penting dari lembaga adat nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguatan lembaga kemasyarakatan yang ada di nagari mesti di sejalankan dengan kelompok umara’ – pemegang kendali pemerintahan nagari -- yang adil, dalam spirit perubahan membangun kembali masyarakat nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembalikan Minangkabau keakarnya ABS-SBK -- ya’ni Islam -- tidak boleh dibiar terlalai, karena akibatnya akan terlahir bencana. Amatlah penting untuk mempersiapkan generasi umat yang mengenali ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) keadaan masyarakat nagari, aspek geografi, demografi,&lt;br /&gt;(b) sejarah, kondisi sosial, ekonomi, latar belakang masyarakat nagari itu,&lt;br /&gt;(c) tamadun, budaya, dan adat-istiadat dan berbudi bahasa yang baik – nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso --.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khulasahnya ,&lt;br /&gt;1. Perankan kembali organisasi informal di nagari-nagari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seiringkan dengan refungsionisasi peran alim ulama cerdik pandai “suluah bendang dalam nagari”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sangat di andalkan untuk membangun masyarakat nagari berdasarkan prinsip ABS-SBK ialah mempererat sistem komunikasi dan koor&amp;shy;dinasi antar komponen masyarakat di nagari pada pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan dan organisasi banagari secara jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam gerakan “membangun nagari” maka setiap fungsionaris di nagari akan menjadi pengikat umat – anak nagari -- untuk membentuk masyarakat yang lebih kuat, se&amp;shy;hingga merupakan kekuatan sosial yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemerintahan Nagari mesti berperan menjadi media pengembangan anak nagari -- bukan sebaliknya -- dan pemasyarakatan budaya adat dan syarak (Islami) sesuai dengan prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” melalui meng-efektifkan media pendidikan anak nagari dalam pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa, serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan syarak (Agama Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Di nagari mestinya dilahirkan media pengembangan minat menata kehidupan dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik dan agama Islam dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir tentulah merupakan keharusan untuk dikembangkan dakwah yang sejuk -- dakwah Rasulullah bil ihsan -- dengan prinsip jelas, tidak campur aduk (laa talbisul haq bil bathil), menyatu antara pemahaman dunia untuk akhirat -- keduanya tidak boleh dipisah-pisah --, dan belajar kepada sejarah amatlah perlu adanya gerak dakwah dan pembangunan yang terjalin dengan net-work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam), untuk penyadaran kembali generasi Islam di nagari-nagari di Minangkabau tentang peran syarak (Syari’at Islam) dalam membentuk tatanan hidup duniawiyah yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah semestinya peranan lembaga Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dalam menapak perubahan baru – membangun kembali masyarakat nagari – di abad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; ‘alaikum anfusakum, laa yadhurrukum man dhalla idzah-tadaitum (QS.5:105), wa man yusyrik billahi fa qad dhalla dhalaalan ba’idan (QS.4:116), fa dzalikumullahu rabbukumul-haqqu, fa madza ba’dal-haqqi illadh-dhalaal ? fa anna tushrafuun (QS.10, Yunus:32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri (antisipatif).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Q.S 47;7, artinya, '' Jika Kamu Menolong ( Agama ) Allah, Niscaya Dia Akan Meno&amp;shy;long Kamu. Kemudian,&lt;br /&gt;"Kamu Hanya Akan Dapat Pertolongan Dari Allah Dengan (Menolong) Kaum Yang Lemah Diantara Kamu". (Al-Hadist).&lt;br /&gt;Suatu aturan menuruti Sunnah Rasul adalah, “Dan, Tiap‑Tiap Kamu Adalah Pemimpin, Dan Tiap‑Tiap Pemimpin Akan Di Minta Pertanggungan Jawab Atas Pimpinannya" (Al-Hadist). Jadinya, kewajiban kepemimpinan menjadi tanggung jawab setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=183511899879488404#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;QS.53:39-41.&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/183511899879488404-7193236710115337659?l=buyamasoed.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyamasoed.blogspot.com/feeds/7193236710115337659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=183511899879488404&amp;postID=7193236710115337659' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7193236710115337659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/183511899879488404/posts/default/7193236710115337659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyamasoed.blogspot.com/2008/05/membangun-pemerintahan-nagari-berasakan.html' title='Membangun Pemerintahan Nagari berasakan ABS-SBK dengan baik'/><author><name>Masoed Abidin Jabbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12596379175286432880</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_XS8sH00yVxs/SDb5hf_rH2I/AAAAAAAAAyE/5myYdlIvDGY/S220/Arnussa+1427+004.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_XS8sH00yVxs/SB2HQHPIsJI/AAAAAAAAAaE/4QEfmA0Efcg/s72-c/Jakarta+175.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
